HILDA (TIGA PULUH EMPAT)

Haruskah Bersembunyi? Laporan penjualan hari ini sudah aku kirim ke pak Salim, sekarang tinggal menyelesaikan tugas kuliah untuk besok. Hari-hari yang kulalui di sini membuatku merasa lebih tenang. Kuliah dan kerja sungguh pengalaman hidup yang menyegarkan. Apalagi bu Yanah dan pak Salim yang baik hati selalu membuatku merasa nyaman. Di tambah kegiatan masjid yang cukup…

Read More

HILDA (TIGA PULUH TIGA)

Kekurangan adalah Anugerah “Lantas, apa teh Rere tidak berhak untuk mendapatkan kebahagiaan dan keturunan juga?” “Hilda, aku akan bahagia jika suamiku bahagia.” “Bahagia yang mana yang sedang teteh bicarakan?” tanyaku yang membuatnya menatapku. “Apa maksudmu Hilda?” “Katakan padaku teh, apa teteh mencintai suami teteh?” “Aku sangat mencintainya,” jawabnya dengan tatapan mata yang meyakinkan. “Apa teteh…

Read More

HILDA (TIGA PULUH DUA)

Aku Bukanlah Solusi Setelah selesai makan, teh Rere semakin mengatakan hal-hal yang membuatku tidak nyaman. “Bagaiman kang, Hilda orangnya cantik, pintar dan juga sopan iya kan?” katanya menanyakan tentangku kepada suaminya. “Saya mau ke belekang dulu ya,” kata suaminya sambil pergi meninggalkan kami berdua. “Teh, jangan gitu dong, saya jadi sungkan, kenapa sejak awal sampai…

Read More

HILDA (TIGA PULUH SATU)

Qurrotu ‘Aini Aku kembali mengangkat tangan dan mengucap takbirotul ihrom, namun rakaat kali ini membuat tubuhku menggigil dan kakiku lemas. Pikiranku kini pada tubuh yang mulai tidak bisa aku kuasai, aku pelankan gerakan sholatku dan dalam sujud terakhir aku benar-benar merasa berat di kepalaku, kuangkat pelan tubuhku untuk melakukan tahiyat namun tiba-tiba ruangan ini berputar…

Read More

HILDA (TIGA PULUH)

Luka adalah Tempat Cahaya Hilda Episode 30 Syam tidak mengejarku atau nenek melarangnya untuk mengejarku, aku sudah tidak peduli. Aku pun tidak berharap Syam mengejar dan menghentikan langkahku. Aku mulai kembali membenci diriku, membenci keadaan, membenci sebuah  mimpi, bahkan aku kembali membenci takdir. “Awas mbak!!!!” Seorang perempuan menggeret tanganku dengan keras, aku pun terlempar kearahnya….

Read More

HILDA (DUA PULUH SEMBILAN)

Membaca Hati Melalui Mata “Wala budda li tholibi al-‘ilmi  min al-muwadzobati ‘ala ad-darsi wa at-tikrori fi awwali al-laili wa akhirihi, fa inna ma bainal ‘isya’aini wa waqta as-sahri waqtun mubarokun.” Sore ini, Hilda membacakan kitab Ta’limul Muta’alim di depan santri-santri kelas i’dad. Sudah hampir satu tahun dia ditugasi Ummi untuk mengawal madrasah diniyah kelas persiapan,…

Read More

HILDA [DUA PULUH DELAPAN]

Cukuplah Hati Menjadi Saksi “Tidak Hilda, itu tidak benar. Jika memang kamu tidak mencintaiku, lalu kenapa kamu menangis?” kataku. Aku masih mendengar isakan lembutnya, aku yakin dia memiliki perasaan yang sama denganku. Tangisannya adalah alasan bahwa dia juga mencintaiku, namun dia tidak memiliki keberanian untuk mengakui perasaan tersebut. Aku tidak bisa menyalahkan Hilda tentang hubungannya…

Read More

HILDA (DUA PULUH TUJUH)

Cinta yang Terhormat “Halo…. Siapa ini?” Masih tidak terdengar jawaban. Hilda melirik Andin, Andin mengangkat bahunya memberi isyarat kenapa? “Apa gak nyambung ya, gak ada suaranya,” kata Hilda dan akan mengakhiri panggilan tersebut, namun tiba-tiba terdengar suara. “Wa’alaikumussalam Hilda,” Hilda terkejut dan mendekatkan kembali ponselnya ke telinganya. “Iya, maaf siapa ini?” “Aku Wafa,” Hilda terdiam…

Read More

HILDA (DUA PULUH ENAM)

Perasaan yang Tersembunyi “Apa njenengan bisa hidup dengan perempuan yang memiliki kekurangan besar ini? Yang mungkin tidak mampu menjalankan pernikahan dan menjadikan njenengan suami seutuhnya?” Dia menarik nafas panjang tidak langsung menjawab pertanyaanku. Aku yakin dia terkejut dan tidak menyangka aku berterus terang tentang keadaanku. “Bagaimana kata dokter, kira-kira bisa disembuhkan dengan cepat? Maksudnya pasti…

Read More

HILDA (DUA PULUH LIMA)

Permintaannya adalah Perintah Selepas ngaji pagi aku kembali membaca laporan penelitian yang dikirim mas Wafa, sambil menunggu dia membalas pesanku. Sejak semalam dia belum merespon pesan yang aku kirim. “Maaf Hilda kemaren saya ada urusan jadi baru bisa balas,” Aku tersenyum membaca pesan pertamanya di pagi ini. “Njeh mas gak apa-apa, jadi menurut njenengan ide…

Read More