𝟮. 𝗞𝗮𝗺𝗮𝗿 𝟲𝟬𝟮 𝗚

Pagi hari di Manoa selalu tampak indah. Dedaunan masih basah oleh embun pagi. Belum banyak mahasiswa yang berlalu lalang di trotoar jalan East West. House sparrow hinggap di bibir jendela, menyemarakkan pagi dengan cuitannya.

Jendela kamar Hale Manoa berbentuk kotak dan lebar. Kacanya bisa dibuka dengan menggesernya ke kanan atau ke kiri. Jika aku membuka kacanya separo bagian penuh, udara pagi akan dengan leluasa menggantikan udara kamarku yang pengap karena tertutup semalaman.

Aku Salwa Tsuraiyya. Mahasiswa semester satu pendidikan master di University of Hawaii at Manoa. Bulan Mei, tepatnya lima bulan yang lalu aku memulai kehidupanku di Hale Manoa. Ini adalah asrama mahasiswa 13 lantai yang dibangun oleh East West Center pada tahun 1962.

Aku tinggal di kamar 602 G. Kamar dengan kunci pintu menggunakan kartu ini hanya berukuran 3 x 2 meter. Tak luas memang, tapi fasilitasnya lumayan komplit.

Ada almari pakaian, tempat tidur, dan kabinet warna krem yang menempel di dinding bagian atas untuk menyimpan barang-barang. Meja belajar yang berbentuk siku-siku menempel ke dinding dekat jendela. Di bagian bawahnya ada satu set laci yang berukuran kecil dan satu lagi laci-laci yang berbentuk panjang

Bersama tiga teman yang lain dari Indonesia, kami mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation untuk melanjutkan kuliah di sini. Aku diterima kuliah di jurusan Asian Studies, Norman Alfin di fakultas Sejarah, Maria Silalahi di fakultas Urban and Regional Planning, dan Anissa Hayati di fakultas Linguistik. Kami semua tinggal di Hale Manoa tapi di lantai yang berbeda.

Bukan hal yang mudah bagiku untuk bisa terbang jauh melintasi Samudera Pasifik melanjutkan S2 di kota Honolulu ini. Aku harus berusaha sekuat jiwa dan raga, hati dan pikiran agar bisa diterima dan dibolehkan sekolah oleh pemberi beasiswa, oleh kampus, dan terutama oleh seluruh keluargaku, keluarga besar Pesantren Al-Maunah di Jember.

Apalagi, aku hanya lulusan pesantren tahfizh salaf dan kuliah S1 jurusan Tafsir Hadits di kampus Islam negeri di Tulungagung. Bisa dipastikan seberapa bagus kemampuan Bahasa Inggrisku.

Untungnya beasiswa yang aku dapat ini lebih tertarik dengan pengalamanku mengembangkan pendidikan berbasis komunitas untuk masyarakat di sekitar pesantren, sehingga aku bisa mendapatkan kesempatan bagus ini.

“Kamu boleh kuliah ke Hawaii tapi harus menikah dulu,” Abah membuat keputusan. Setelah satu minggu aku tak henti melakukan lobi.

Bagiku, untuk bisa sekolah di tempat yang aku mau, bukan tingginya skor Bahasa Inggris yang menentukan. Tapi, seberapa gigih aku berusaha untuk memperoleh izin dari Abah.

Aku kaget mendengar jawaban Abah, tapi juga senang karena akhirnya Abah memberiku lampu hijau. Setelah aku dimarahi habis-habisan karena tidak memberi tahu Abah kalau mendaftar beasiswa untuk sekolah di luar negeri.

Setelah aku tanpa lelah memberinya penjelasan tentang majunya pendidikan di luar negeri dan manfaatnya untuk pengembangan pesantren. Setelah tiga kali menghatamkan hafalan al-Quran, shalat malam dan dhuha yang tak pernah putus, serta wirid yang aku tujukan khusus kepada Abah.

Tapi, menikah? Ohh, tiba-tiba aku jadi merasa nelangsa. Bukan karena aku tidak punya seseorang yang aku inginkan. Atau karena aku pasti akan dijodohkan.

Melainkan, kesadaran bahwa di usiaku yang dua puluh tiga tahun ini, aku masih belum cukup dipandang dewasa oleh Abah sehingga belum berhak membuat keputusan apa pun untuk kehidupanku sendiri. Akhirnya, ia perlu mendelegasikan hak itu kepada laki-laki lain, bakal menantunya.

Lalu, muncullah nama Kafka Majida sebagai calon suamiku. Aku mengenal Gus Kafka tapi sebatas ia adalah sepupu jauhku yang usianya berjarak delapan tahun dariku dan baru saja menyelesaikan S2-nya di Surabaya.

Nenek Gus Kafka adalah kakak sulung kakekku. Keluarganya memiliki sebuah pesantren di Situbondo. Aku sering bertemu dengannya di acara-acara keluarga. Tapi, belum pernah mengenalnya secara dekat.

Dalam tradisi keluarga besar kami, semua menikah melalui perjodohan. Anak-anak, terutama perempuan, tak punya hak untuk memilih jodohnya atau menentukan sendiri dengan siapa ia ingin menikah. Itulah kenapa aku tidak mau berpacaran, satu kali pun. Aku belum pernah juga merasakan jatuh cinta.

Tapi jujur, yang aku pegang kuat-kuat sebenarnya adalah pesan Mbak Tsaniya, kakak semata wayangku.

Katanya, “Dadio sopo wae koyok sing mbok karepke, Nduk. Kamu itu memang pendiam, tapi nggremet. Kamu juga pintar, rajin, punya tekad kuat. Duniamu masih sangat luas. Pergilah mengembara ke kota-kota jauh untuk belajar dan menimba pengalaman.”

Mbak Tsaniya menyelesaikan kuliahnya di Malang. Ia perempuan yang mandiri. Ia aktif di organisasi kampus dan Fatayat NU. Ia beberapa kali juga mencoba beasiswa yang aku dapatkan ini, tentu tanpa sepengetahuan Abah dan Umi. Tapi, tak pernah berhasil. Akhirnya, ia memutuskan untuk menerima perjodohannya dengan Gus Ahmadi dari Tulungagung. Sekarang ia bersama suaminya mengembangkan pesantren di kota kecil itu.

“Kenapa harus langsung menikah, Bah?” tanya Umi. “Wong toh nantinya Salwa sama suaminya juga akan berjauhan dulu selama dua tahun? Kafka nggak bisa meninggalkan pesantrennya kan,” Umi pada akhirnya ikut melakukan negosiasi.

Abah tetap teguh pada pendiriannya. Jika tak diikat oleh perkawinan, ia khawatir anak gadisnya akan jadi seperti ayam yang lepas dari kandangnya. Apalagi aku akan tinggal di Honolulu, Hawaii, pulau surga, sendirian, dan jauh dari jangkauan spektrum pesantren. Sedangkan jika aku menikah, akan ada suami yang mengontrol dan menjadi imam, penunjuk jalan yang benar. Begitu ia berpikir.

Tapi, untungnya Gus Kafka sendiri yang menginginkan pertunangan saja dulu. Memberi kami berdua kesempatan untuk saling mengenal satu sama lain. Untuk rencana pernikahan akan dibicarakan jika besok aku pulang liburan musim panas.

Ahh, tapi melihat perkembangan lima bulan ini, rasanya aku hanya bisa pasrah saja. Aku juga tak mengerti entah kenapa komunikasiku dengan Gus Kafka tak pernah berjalan menyenangkan. Selalu berakhir dengan aku yang sakit kepala.

Semua itu sungguh berbeda jauh dari komunikasiku lima bulan ini, dengan si mata sipit itu.

*Isma Kazee adalah penulis novel dan pengurus PW Fatayat NU DIY. Sekarang sedang menyelesaikan studi doktor di Leiden University

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here