Siapa bilang santri hanya bisa menjadi pemimpin urusan spiritual domestik saja? Sejarah membuktikan betapa santri telah mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan umat bahkan pada skala global jauh sebelum Indonesia merdeka. Kalau saat ini kita temukan diaspora mereka mewarnai berbagai ruang-ruang sosial, hal itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Apa yang dilakukan para diaspora pembelajar Islam saat ini sebenarnya adalah kelanjutan dari tradisi panjang pengembaraan yang diwariskan santri-santri sebelumnya.

Adalah Syekh Yusuf Al Makassari (W 1699), ulama kelahiran Gowa, Sulawesi Selatan yang di era awal kolonial telah menjelajah mencari ilmu dari Banten hingga Mekah. Saat itu, masyarakat Indonesia yang melakukan perjalanan haji ke Mekah umumnya memang melanjutkan berguru pada para ulama di sana. Konon, Syekh Yusuf tidak hanya berguru pada ulama-ulama masyhur di Mekah, ia pun menjelajah dari Yaman hingga Damaskus, menimba ilmu pada ulama-ulama kenamaan di Timur Tengah.

Sebagai santri, Syekh Yusuf tidak pernah berhenti memberi manfaat kepada Bangsa dan masyarakat. Sepulang dari menimba ilmu di Timur Tengah, ia semakin aktif menggelorakan semangat melawan penjajah. Karena semangatnya tersebut, ia kemudian diasingkan ke Sri Lanka dan Cape Town, Afrika Selatan. Di pengasingan, Syekh Yususf tidak mati gaya, ia terus membagikan pengetahuannya kepada masyarakat sekitar, bahkan beberapa muridnya saat itu datang dari negara tetangga, India.

Karena keaktifannya mengajar sekaligus menggelorakan semangat perlawanan, pada usia yang tidak muda, ia diasingkan lebih jauh lagi, ke Benua Afrika. Lagi-lagi, Syekh Yusuf tidak bisa berdiam diri tanpa memberikan kontribusi. Di sana ia pun sangat aktif menyebarkan pengetahuan keislamannya. Karena dedikasi tersebut, masyarakat Afrika sangat menghormatinya, termasuk Presiden Nelson Mandela yang menyebutnya sebagai putra terbaik Afrika.

Satu abad kemudian, santri nusantara lainnya yang mengglobal lahir. Ia adalah Syekh Nawawi Al Bantani (W 1897). Syekh Nawawi yang merupakan keturunan dari Sultan Maulana Hasanudin, Banten, mafhum diketahui sebagai ulama internasional dengan murid-murid dan karya yang mengglobal. Syekh Nawawi menghabiskan masa kecil hingga remaja dengan mengaji pada beberapa ulama lokal, sampai kemudian menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu kepada para alim di tanah suci.

Bukan santri jika tidak memanfaatkan ilmunya untuk kepentingan masyarakat dan Bangsanya. Syekh Nawawi pun ikut terkobar memerangi kolonialisme yang menyengsarakan nasib bangsanya. Karena semangat perlawanannya terhadap penjajah, Syekh Nawawi harus kembali ke Mekah. Tapi bukan santri jika tidak punya seribu cara memanfaatkan ilmunya. Kharisma Syekh Nawawi semakin berkibar, santri-santrinya datang dari berbagai penjuru dunia. Saking masyhurnya, ia pun didapuk sebagai Imam Masjidil Haram. Kepopulerannya di kota suci yang saat itu dikuasai Wahabi tidak memandulkan daya pikirnya dalam mengkritisi kebijakan pemerintah yang saat itu sangat bertentangan dengan tradisi keislamannya di Nusantara, misalnya tradisi ziarah kubur. Imam Nawawi justru mengajak masyarakat untuk menghormati makam para nabi, ulama dan orang-orang yang berjasa lainnya.

Dua di antara santri Syekh Nawawi yang masyhur di Indonesia adalah KH. Hasyim Asy’ari (1947) dan KH. Ahmad Dahlan (1923). Keduanya adalah tokoh pendiri organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Kedua tokoh tersebut pernah belajar dari guru yang sama yaitu KH. Muhammad Shaleh atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai Shaleh Darat. Mengikuti jejak Sang Guru yang pernah menimba ilmu di Mekah, Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari pun melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Jazirah Arab. Di sanalah mereka bertemu dan berguru kepada Imam Nawawi.

 

Seperti halnya para guru mereka yang gigih menyebarkan pengetahuan dan memerangi penjajahan, sekembalinya dari Jazirah Arab, Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari pun aktif menyebarkan ilmu, membangun masyarakat bahkan melawan penjajahan melalui organisasi yang didirikannya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Muhammadiyah berdiri tak lepas dari berbagai pengaruh selain pengaruh global, dan pengaruh pengetahuan Ahmad Dahlan yang ia dapatkan dari Jazirah Arab. Hal lain yang mempengaruhi keberadaan Muhammadiyah adalah hasil interaksi Ahmad Dahlan di beberapa organisasi seperti Budi Utomo, Syarikat Islam, dan pengaruh refleksinya atas kondisi masyarakat muslim di situasi penjajahan

Demikian pun Nahdlatul Ulama, organisasi yang sering dicap sebagai organisasi tradisional ternyata berdirinya sebagai respons atas situasi global, yakni menangnya kekuasaan wahabisme di Jazirah Arab. Melalui Komite Hijaz (utusan dari komunitas muslim Indonesia dalam kongres umat Islam sedunia) Nahdlatul Ulama dilahirkan. Komite yang diinisiasi oleh para alumni santri yang menimba ilmu di Mekah; di antaranya KH. Wahab Hasbullah dan KH. Raden Asnawi memberikan tawaran akan kebebasan bermazhab dan tidak memaksakan paham wahabi sebagai satu-satunya pandangan dalam beragama.

***

Jika merunut jejak para santri era kolonial yang sudah mampu mewarnai kehidupan dunia global, santri di era millennial dengan berbagai macam akses dan kemudahan sudah seharusnya lebih mampu mewarnai dunia global. Santri era kolonial membawa permasalahan negerinya menjadi isu internasional, bukan memperkeruh persoalan internasional dengan membawa persoalan baru ke dalam negerinya sendiri. Santri di era penjajahan diasingkan dari negerinya karena membela mati-matian kemerdekaan bangsanya, bukan karena lari dari tanggung jawab hukum di negeri sendiri. Bahkan di era awal-awal Wahabi ‘merajai’ di tanah suci, para santri nusantara tidak serta merta melakukan serangan keras terhadap kelompok yang bertentangan dengan tradisinya, tetapi justru memilih jalur diplomasi, menawarkan kebebasan bermazhab dengan tidak menganggap wahabisme sebagai cara paling benar dalam beragama.

Jika santri era kolonial mampu beradaptasi dengan kondisi sosial yang mereka tempati, seperti misalnya Syekh Yusuf al-Makassari yang diterima dengan sangat baik oleh masayarakat sekitar ketika diasingkan di Sri Lanka maupun di Afrika Selatan, maka santri di era millenial pun harus memiliki kemampuan yang sama. Santri Milenial harus memiliki kemampuan untuk mengadaptasikan dakwahnya sesuai kondisi sosial keagamaan masyarakatnya, danbukan memaksakan tradisi keagamaan baru yang dianggapnya paling sempurna.

Pada era kolonial dan  sebelum itu, perempuan masih tertinggal jauh dari laki-laki untuk untuk dapat mengakses pendidikan. Maka wajar jika ketika itu tidak banyak santri perempuan yang mengembara ilmu hingga ke Mekah, seperti halnya santri laki-laki. Yang tercatat dalam sejarah misalnya ada dua santri perempuan yang pernah menetap di Mekah dan keduanya menjadi inisiator pendidikan khusus bagi perempuan baik di Mekah maupun di Indonesia, mereka adalah Nyai Nur Chadijah dan Nyai Chairiyah Hasyim.  Oleh karena itu, sangat disayangkan ketika santri perempuan di era millennial dengan semua kesempatan dan  dukungan yang ada baik dari negara sendiri maupun negara luar, menyia-nyiakan kesempatan yang baik untuk terus mengembangkan ilmu hanya karena stigma sosial bahwa perempuan tidak selayaknya mengglobal.

Jika Nyai Chadijah dan Nyai Khairiyah Khairiyah–dengan segala keterbatasannya— mampu memperjuangkan pendidikan bagi sesama perempuan dengan mendirikan sekolah/pesantren perempuan. Maka santri perempuan saat ini –dengan segenap kemudahan dan akses terhadap informasi— harus mampu berbuat lebih baik dari mereka berdua. Bukan malah mendomestifikasi perempuan. Jika itu yang terjadi, tanyakan pada diri kita; kita hidup di era kolonial atau millennial?

DNA sebagai pengelana serta mental global citizen telah dimiliki oleh para santri sejak zaman dahulu, baik santri laki-laki maupun perempuan. Mental tersebut melahirkan kekayaan santri dalam menemukan jalan yang tepat untuk memecahkan permasalahan-permasalahan di masyarakat, bangsa bahkan dunia. Jika santri alergi dengan pengembaraan pengetahuan, maka perlu diragukan DNA kesantriannya.

author santri millenial
Hijroatul Maghfiroh, Koordinator Bidang Pemberdayaan Ekonomi PP Fatayat NU aktifis NGO Internasional

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here