Hoi Allemaal..! Saya Lisana Shidqin Aliya, seorang santri yang diperjalankan mendalami ilmu Nutrition and Health di Wageningen University & Research The Netherlands, Belanda. Tinggal di Belanda sambil melanjutkan studi master merupakan salah satu kesempatan dan kenikmatan yang luar biasa di luar radar cita-cita saya sebelumnya. Takdir terbaik membawa saya berkelana mencicipi stroopwaffle yang kental dengan aroma cinnamonnya sambil menikmati indahnya putaran windmill di sudut-sudut kota. Jalan setapak sepanjang tepian kanal hingga di ladang gembala sapi yang luas menjadi saksi kesyukuran saya selama belajar hidup dan mencari hikmah tinggal berjarak ribuan kilometer dari tanah air.

Sebagai santri, keahlian hidup nomaden tentunya tidak diragukan. Namun, ini kali pertama bagi saya hidup beriringan dengan tradisi dan budaya nonmuslim dalam jangka waktu yang cukup lama. Belanda adalah negara eropa kedua terbanyak penganut Islamnya, setelah Prancis. Persebaran muslim di Belanda mencapai empat hingga lima persen dari total 16 juta jiwa penduduknya. Mayoritas dari mereka warga negara keturunan Turki, Maroko, dan pendatang. Pusat peradaban Islam berupa masjid akan lebih mudah ditemukan di beberapa kota besar seperti Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, dan Utrecht.

Sedikit berbeda dengan Wageningen, kota kecil tempat saya tinggal lebih didominasi oleh budaya internasional karena mayoritas penduduk Wageningen pelajar pendatang dari kota lain maupun dari negara lain. Masjid terdekat dari kampus adalah masjid milik komunitas muslim Maroko yang berjarak sekitar 15 menit bersepeda. Menjadi muslim di daerah yang mayoritas penduduknya nonmuslim merupakan tantangan tersendiri. Sehingga harus bisa menyiasati keadaan agar apapun keterbatasan yang ada bukan menjadi halangan. Misalnya bersahabat dengan wastafel kering untuk berwudhu, memajang senyum ramah ketika banyak mata melihat dengan aneh ketika melihat kita berwudhu di toilet atau menyendiri di pojokan tangga untuk salat, layar handphone ber-wallpaper-kan jadwal salat karena jadwal salat yang setiap hari berubah, berdamai dengan pergantian musim yang sedikit banyak akan berdampak pada penyesuaian fikih ibadah, dan ekstra teliti dalam berbelanja untuk memastikan kehalalan makanan.

Sejauh pengalaman pribadi, saya sangat mengapresiasi toleransi masyarakat di sini. Mereka menghargai kepercayaan masing-masing. Meski berita di luar sana, sempat terjadi isu islamophobia yang memanas di kota-kota lain hingga sampai ada demonstrasi dengan membakar daging babi di dekat masjid saat umat muslim sedang merayakan Idul Adha. Di lingkungan kampus, ketika masa orientasi mahasiswa baru saya merasa terharu ketika mendapati snack dan makanan saya disendirikan dan diberi label halal. Teman-teman yang saya temui di kampus banyak yang menganut agnostik, namun keingintahuan mereka sangat besar. Mereka sering mengajak diskusi kenapa saya berhijab, kenapa harus salat, kenapa bersusah payah menahan lapar berpuasa hingga hampir 20 jam di musim panas, dan lain-lain. Di lingkungan kehidupan sehari-hari berbaur dengan masyarakat, tak peduli kenal atau tidak, ucapan salam dan senyum ramah juga sudah menjadi standar sapaan sesama muslim ketika berpapasan di jalan, toko, ataupun di pasar.

Kami para mahasiswa santri juga ikut meramaikan masjid setempat dengan mengadakan TPQ untuk anak-anak melayu (Indonesia, Malaysia, blasteran). Aktif di masjid membuat saya lebih familiar dengan jama’ah. Ada momen yang pernah membuat saya kaget ketika diajak mendoakan leluhur mereka yang baru saja meninggal di Somalia, setelahnya diakhiri dengan makan makanan khas daerah sana. Ingatan saya seketika kembali ke tradisi tahlilan tujuh harian Indonesia. Lalu kami saling berbagi cerita tentang tradisi umat muslim di negara masing-masing. Kedekatan yang terbangun membawa banyak manfaat. Seperti menemukan keluarga baru, tak jarang ada yang menawarkan beberapa furniture-nya yang sudah tak terpakai apabila sekiranya dibutuhkan, juga sering berbagi informasi toko makanan halal.

Solidaritas sesama muslim yang sangat menyentuh hati juga pernah saya rasakan bersama suami di stasiun Den Haag Centraal. Ketika itu waktu salat ashar sudah hampir masuk maghrib, namun kami belum menemukan tempat yang layak untuk salat. Sembari menunggu kereta berangkat, kami berinisiatif berjalan menuju pertokoan yang sudah tutup, kemudian di sapa oleh petugas cleaning service yang memberitahukan bahwa toko-toko sudah tutup. Kami pun mengutarakan bahwa sengaja kami mencari tempat tertutup untuk melakukan salat. Seketika, petugas tersebut mengucap takbir, salam, menyambut kami dengan senyum sumringahnya dan meminta kami menunggu sebentar. Ternyata Ia bergegas menyelesaikan pekerjaannya dan mencarikan kunci gudang tempat di mana peralatan dan mesin-mesin pembersih stasiun berada. Kami dipersilakan memakai ruang gudang, berwudhu dengan air (di sini wudhu dengan air adalah kemewahan, biasanya dalam perjalanan jauh kami lebih sering tayamum dan salat di kereta), mengambil handuk bersih untuk mengeringkan, dan menggunakan sajadah yang sering digunakannya, yang ternyata adalah potongan kardus dan plastik. Masyaallah, keserderhanaan jamuan yang penuh kemuliaan.

Ada satu hal yang tak luput dari kesyukuran saya ketika diperjalankan hingga kota kecil di Belanda ini; saya menemukan keluarga baru. Beberapa teman yang sedang menempuh pendidikan S2 maupun S3 yang juga berlatar belakang santri. Di mana kami bisa sering berkumpul bersama menghidupkan ruhani, melanjutkan tradisi Islam ala Nusantara di tengah kesibukan kuliah. Saya tidak pernah mengira bakal ketemu lagi dengan kitab kuning, bisa mengaji lagi, maknani kitab dan ngaji bandongan bulanan dengan Kiai kami alumni Al-Azhar Mesir yang juga seorang staff konsuler KBRI Den Haag. Bahkan, pada bulan Maulid kami bisa melangsungkan “Wageningen bersholawat” di kampus. Di sana kami juga menemukan sosok guru dan panutan di antara diaspora yang sudah sekian lama bermukim di Belanda, diantaranya adalah KH Hambali Maksum dan KH Naf’an Sulchan yang merupakan rekan seperjuangan Gus Dur. Berkesempatan bergabung dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda dan PCINU Belanda, kami juga berhasil menyelenggarakan event yang cukup bergengsi yakni “Seminar Halal Internasional” dengan menyandingkan para scientist dan expert dari Wageningen University & Research dan praktisi Lembaga Sertifikasi Halal Eropa dengan Majelis Ulama Indonesia yang waktu itu diwakili oleh KH. Ma’ruf Amin dan KH. Miftahul Ahkyar.


Selayaknya santri yang diharapkan bisa luwes di mana saja, ada tugas lain yang menanti di luar rutinitas spiritual. Mari bersama patahkan mitos bahwa santri itu hanya di bilik kamar, ndeso, kumuh, tradisional, dan semacamnya. Sudah saatnya santri bertebaran di muka bumi, berpendidikan tinggi, menguasai sains dan teknologi, juga berkiprah di kasta tertinggi. Sepenggal potret perjalanan hidup saya bermuslim di Belanda semoga bisa menjadi semangat bagi para santri milenial lainnya dalam pengembaraan ilmu yang ditekuninya.

Lisana Shidqin Aliya, S.Gz., M.Sc

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here