Oleh : Dina Kamila*

Sejak pertama kali diturunkan, Al Qur’an terus dihafal dan dipelajari. Tradisi belajar dan mengajarkannya juga terus berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi menghafal Al Qur’an dilakukan sehingga al Qur’an tetap terjaga keautentikannya bahkan setelah 14 abad lamanya. Pendidikan tahfidz Qur’an terus berjalan hingga sekarang. Proses belajar dan mengajarkannya juga terus berkembang dengan berbagai macam metode. Tulisan ini ingin mencoba memberikan gambaran tentang beberapa metode menghafal Al Qur’an.

Bentuk kegiatan penjagaan hafalan Al Qur’an, menurut Indah Mukaromah dalam Praktek Penjagaan Al Qur’an di Podok Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus, 2019 di antaranya adalah :

  1. Ngeloh [menambah hafalan]

Yaitu metode yang digunakan untuk menambah setoran hafalan baru, dalam tingkatan yang progresif [1 halaman, 1 lembar, 1\4 juz] yang kemudian dibacakan secara bil hifdzi serta tartil sesuai dengan kaidah tajwid di hadapan guru dengan menggunakan Al Qur’an pojok (mushaf Al Qur’an Khusus untuk Penghafal Al Qur’an)

  1. Muroja’ah

Yaitu metode untuk mengulang hafalan dalam kelipatan 1\2 juz dan 1 juz yang dibaca secara  bil hifdzi di hadapan guru. Apabila seorang santri dianggap belum lancar dalam metode ini, diharuskan mengulang dan tidak diperbolehkan menambah hafalan baru. Muroja’ah dimaksudkan agar para santri mampu menjaga hafalan Al Qur’annya dengan baik.

  1. Jam belajar yang teratur

Hal ini bertujuan agar para santri mempunyai waktu yang istiqomah untuk mengulang ulang hafalan atau membuat hafalan.

  1. Mudarosah

Yaitu metode dimana santri membaca secara bergantian dan berurutan [estafet], 1 santri membaca didengarkan oleh santri lainnya dan seterusnya. Tujuannya adalah agar para santri mampu mengingat hafalan alquran dan menjaga hafalan tersebut.

  1. Asma’ul husna

Membaca asma’ul husna bertujuan agar santri memahami bahwa seorang penghafal Al Qur’an itu harus tirakat agar menambah tingkat kemudahan dalam menghafalkan Al Qur’an.

  1. Wirid

Santri yang sudah hafal Al Qur’an diharapkan mampu membiasakan [mudawamah] mengulang-ulang hafalannya, agar lidah selalu basah dengan dzikir Al Qur’an. Orang yang menghafal alquran mendapatkan tempat tersendiri di sisi Allah.

Menurut Dudi Badruzaman dalam Metode Tahfidz Al Qur’an di Pondok Pesantren Miftahul Huda II Kabupaten Ciamis, Kegiatan tahfidz Qur’an dapat dilakukan dengan cara :

  1. Membaca secara cermat ayat per ayat Al Qur’an yang akan dihafal dengan melihat mushaf secara berulang ulang [an nadzar]
  2. Menghafal ayat perayat secara berulang sehingga akhirnya hafal [al wahdah]
  3. Menyetorkan atau memperdengarkan hafalan yang baru dihafal kepada guru [talaqqi]
  4. Menghafal sedikit demi sedikit Al Qur’an yang telah dibaca berulang ulang [taqrir]
  5. Memperdengarkan hafalan kepada orang lain baik kepada teman maupun kepada jamaah lain [tasmi].

Sedangkan kegiatan menghafal Al Qur’an yang penulis alami di Pondok Pesantren Darul Qur’an wonosari kurang lebih adalah sebagai berikut :

  1. Lauh adalah kegiatan membuat hafalan untuk kemudian disetorkan kepada bu Nyai. Untuk kalangan santri, lauh populer dengan sebutan Ngeloh. Untuk bisa setoran sore maka ngeloh sudah harus dimulai sejak malam hari sebelumnya. Dengan cara membaca berulang ulang satu halaman untuk satu hari. Karena banyaknya santri yang setor dan ditambah lagi situasi pandemi, maka para santri mendapat giliran setor sesuai kelompok yang sudah dijadwalkan. Ada 4 kelompok, yakni :

A1 dan A2 mendapat giliran setor pada hari pertama, pagi untuk A1 dan sore untuk A2;

B1 dan B2 mendapat giliran setor pada hari kedua, pagi untuk B1 dan sore untuk B2.

Berdasarkan pembagian jadwal tersebut, setiap santri mendapat giliran menyetorkan hafalan baru 2 hari sekali. Dalam satu hari, santri harus sudah ngeloh minimal 1 halaman. Target hafalan adalah 5 juz dalam 1 tahun. Atau target hafalan yang sudah disetorkan harus sudah mencapai 2 ½ juz dalam 1 semester.

  1. Murojaah adalah kegiatan mengulang hafalan yang sudah didapat oleh santri dan diperdengarkan kepada guru. Dalam kegiatan ini santri harus setor minimal 3 halaman dan maksimal 5 halaman. Apabila santri telah menyelesaikan hafalan dalam satu juz maka ia diharuskan menyetorkan 1 juz tersebut sebelum melanjutkan ke juz berikutnya.
  2. Simaan yaitu memperdengarkan hafalan Al Qur’an dalam satu majelis.

Berikut ini adalah beberapa tips agar bisa menghafal cepat dan tetap diingat di otak kita adalah :

  1. Jaga makanan, jangan berlebihan
  2. Kendalikan diri, mulai dari emosi hingga ekspektasi
  3. Sadari sepenuhnya bahwa dalam diri kita ada Al-Qur’an yang wajib dijaga dan dimuliakan sehingga kita harus menjaga sikap dan perbuatan
  4. Disiplin waktu
  5. Istiqomah nderes ( tadarus hafalan Al Qu’an), sebagaimana nasihat Abi A. Kharis Masduqi (pengasuh PP Darul Qur’an Wal Irsyad) : “ Jangan berpikir lancar tidaknya hafalan, tapi berpikirlah nderes [Al-Quran]. Lancar atau tidaknya hafalan itu adalah akibat, sedangkan nderes itu sebuah proses.

Tetap Semangaat !!!

*Santri Pondok Pesantren Darul Qur’an wonosari

Referensi :

Dudi Badruzaman. 2019. Metode Tahfidz Al Qur’an di Pondok Pesantren Miftahul Huda II Kabupaten Ciamis. Jurnal Kaca Jurusan Ushuludin STAI Al Fithrah. Vol.9 No 2. STAI Sabili: Bandung.

Indah Mukarromah. 2019. Praktek Penjagaan Hafalan Al Qur’an di Pondok Pesantren Tahfidh Yanbu’ul Qur’an kudus. Skripsi. UIN Walisongo: Semarang

Moh. Khoeron. 2012. Pola Belajar dan Mengajar Para Penghafal Al Qur’an (Huffaz). Widyariset, Vol.15 No.1. Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI: Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here