PW Fatayat NU DIY bekerjasama dengan American Friends Service Commite (AFSC) telah menggelar webinar dalam program Pena Tasamuh dengan judul “Peran dan Tanggungjawab Perempuan dalam Mempromosikan Perdamaian di Media Sosial” pada hari Minggu, 6 september 2020 lalu. Webinar ini menghadirkan dua narasumber yaitu Ibu Ny.Hj. Rindang Farihah (Bidang Advokasi PWF NU DIY) dan Heru Prasetya (Senior Jaringan GusDurian)

Di awal acara Ketua PW Fatayat NU DIY Khotimatul Husna memberikan sambutan kepada seluruh peserta webinar. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari rencana strategis PW Fatayat NU DIY dalam hal penguatan kelembagaan sekaligus memperluas jaringan dengan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. Lebih lanjut, Khotimatul Husna menegaskan bahwa acara ini penting karena media sosial adalah ladang dakwah yang sangat penting untuk meng-counter gerakan-gerakan radikal yang memunculkan keresahan bahkan perpecahan di tengah masyarakat kita dewasa ini.Secara tidak langsung, media sosial terbukti dapat mengontrol pikiran, mengubah cara pandang, sebagai senjata untuk berdakwah, sekaligus sebagai kekuatan demokrasi. Sedangkan pada kondisi riil saat ini, media sosial kita dikuasai oleh situs-situs yang berhaluan radikal sehingga tak ayal memunculkan benturan-benturan yang memicu perpecahan. Oleh karena itu, tim media Fatayat NU memiliki peran strategis untuk menghadirkan konten-konten kreatif, inovatif, dan solutif untuk problem keumatan dan keberlanjutan, sehingga Fatayat NU sekaligus mampu membangun jejak digital untuk masa yang akan datang.

Dalam pemaparan materinya, Rindang Farihah menyampaikan bahwa situasi yang terjadi saat ini adalah munculnya ancaman perpecahan akibat gerakan transnasional yang nilai nilainya tidak sesuai dengan spirit ajaran Islam. Gerakan ini kemudian berdampak pada perilaku intoleransi yang ditandai dengan radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme. Dengan kondisi seperti ini, ulama perempuan memegang peran penting untuk menghadirkan dakwah Islam yang ramah, toleran, moderat, serta anti kekerasan. Perempuan harus menjadi garda terdepan untuk membangun kehidupan yang harmonis di tengah-tengah keberagaman. Dengan adanya program Pena Tasamuh ini, Fatayat NU DIY diharapakan bisa menjadi agen perdamaian khususnya melalui dakwah di media social.(nurlaily f).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here