(Catatan Panitia Islamic Holiday Camp PW Fatayat NU DIY)

Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Namun, semua harus dihadapi untuk menyiapkan masa depan anak sebaik-baiknya. Begitu juga menjadi orang dewasa, mereka dianggap sebagai orang tua dan dituntut untuk bisa menjadi role model bagi anak-anak di sekitarnya.

Dalam kegiatan “Islamic Holiday Camp” yang diadakan oleh Fatayat NU Diy kali ini sengaja memberdayakan laki-laki yang notabenenya adalah suami dari anggota-anggota Fatayat. Mereka dilibatkan dalam proses pembelajaran bersama anak-anak sebagai fasilitator kegiatan. Mulai dari memberi motivasi belajar, mengajari ngaji, puji-pujian & sholawatan, mendampingi tidur di asrama, mengantar ke kamar mandi saat malam hari, membantu untuk menyiapkan kebutuhan, serta hal-hal teknis lainnya. Bahkan menggendong anak-anak yang ketiduran saat dongeng malam dari aula ke atas kasur mereka. Ada berbagai alasan mengapa mereka menjadi pilihan. Pertama, menguji level kesabaran & ketelatenan. Kedua, mendidik anak adalah kewajiban bersama antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga sehingga mendorong laki-laki agar lebih peka terhadap anak dan memiliki perspektif anak. Ketiga, kegiatan yang dilakukan Fatayat bukan sekedar konkow & selfa-selfi untuk menghabiskan waktu luang & mencari selingan dari rutinitas pekerjaan, namun lebih untuk berbagi pengalaman & pengetahuan yang mereka miliki untuk kemaslahatan. Bagi perempuan menikah, hal tersebut perlu mendapatkan dukungan dari pasangan karena itu berpengaruh pada kesuksesan acara dan mampu mendatangkan kemanfaatan yang lebih besar tentunya. Apalagi jika kegiatan di luar kota, harus menginap berhari-hari & meninggalkan rumah. Maka, melibatkan para suami dalam kegiatan menjadikan mereka tahu apa tujuan & manfaat kegiatan yang dilakukan, serta harapan adanya dukungan. Selain itu, tujuan tak kalah pentingnya adalah ikatan keluarga yang semakin maslahah mawaddah wa rohmah πŸ’

Dari berbagai pengalaman para suami ini yang dibagikan dalam media sosialnya, mereka mengaku sangat tertantang, namun juga ada keluhan. Bahkan ada yang mengaku level kesulitannya 10x lipat daripada menghadapi orang dewasa dalam proses fasilitasinya. Bagi saya sendiri, ini juga tantangan & butuh energi super ekstra karena biasanya memfasilitasi 130 orang dewasa dalam 2 hari berani dihadapi sendiri. Namun kali ini menghadapi 70-an anak, baru sesi perkenalan di 10 menit pertama sudah melambaikan tangan meminta bantuan. Menggeh-menggeh & ngos-ngosan πŸ™ˆ

Dimanapun tantangan pasti ada, tapi lebih banyak kebahagiaan & pelajaran yang bisa dirasa. Berinteraksi bersama anak-anak harus mampu masuk ke dalam dunia mereka, tidak menggurui, tetapi belajar bersama. Menghindari berkata “Jangan, Tidak Boleh” dan kata negatif lainnya. Selalu memberikan pilihan antara “Baik & Tidak Baik”, “Benar & Tidak Benar” agar mendorong daya kritisnya dengan mengutarakan alasan pilihannya. Selalu berbicara dengan duduk sejajar agar mereka nyaman & merasa dihargai sebagai teman.

Alhamdulillah, proses yang demikian bisa diterima semua anak meskipun dengan usia yang berbeda (kelas 1-6 SD). Dalam kontrak belajar mereka diminta memilih bentuk buah yang sudah ditulisi -sikap & aturan-. Anak-anak diminta menempelkan buah pada gambar pohon “Baik dan Tidak Baik”, serta membacanya di depan kelas. Semua menyetujui aturan-aturan yang dibuat mereka sendiri. Dalam sikap kesehariannya, mereka mempraktekkan apa yang baik & tidak baik dilakukan yang sudah dibuat dalam kesepakatan.

Bahagia sekali, mereka menerapkan aturan tanpa diminta. Hanya sesekali mengingatkan untuk anak-anak yang jahil & minta diperhatikan. Ketika jam makan, mereka mengambil kotak makan sendiri & mencuci tangan, lanjut antri mengambil makanan. Setelah selesai makanpun mereka mencuci piring dengan antri dan meletakkannya ke tempat semula. Tidak pilih-pilih makanan & harus makan apa yang sudah dimasakkan. Mengambil makanan hanya yang mampu dihabiskan, tidak berlebihan, dan diusahakan untuk tidak membuang makanan. Itu dilakukan atas dasar kesadaran dan kesepakatan yang dibuat bersama. Hampir semua tidak ada yang mengeluh dengan menu makan yang hanya sayur & tahu-tempe saja (menu ayam hanya di akhir kegiatan) πŸ˜…
Jika ada yang terpaksa tidak bisa menghabiskan makanan, mereka menawarkan ke temannya untuk berbagi. Namun jika tidak ada yang mau, mereka minta ijin kepada kakak-kakak panitia untuk membuang makanannya. Itupun disertai permintaan maaf atas kesadaran mereka sendiri & tidak akan mengulangi lagi di jam makan selanjutnya. Hal demikian juga berlaku ketika sesi mandi, antri wudhu, menunggu sholat berjama’ah dan lainnya. Intinya mereka membuat kesepakatan sendiri dan saling mengingatkan teman-temannya.

Hal tersebut memang terkesan sepele, namun membawa dampak luar biasa bagi kehidupan sosial mereka. Anak-anak ini berasal dari kota dan latar belakang keluarga yang berbeda. Ada yang dari Jakarta, Cirebon, Demak, Semarang, Madiun, Surabaya, Situbondo, Jogja, dan sekitarnya, datang khusus untuk mengikuti kegiatan ini. Saling berinteraksi & belajar bersama. Jika hanya 2 hari kurang rasanya. Bahkan beberapa wali santri sudah usul ada kegiatan serupa tahun depan dengan durasi lebih lama, 3 hari-seminggu. Dan anak-anaknyapun sudah request “pokonya kalau ada lagi aku harus ikut”. Buahaha…kalau kayak gini tidak membuka kesempatan yang lainnya πŸ˜…

Cerita lucu juga datang dari wali santri. Dari kuota yang awalnya hanya dibuka untuk 50 orang ternyata membludak sampai 70-an. Itupun sudah banyak yang ditolak karena ketidaksanggupan panitia & akomodasi yang disediakan. Ada wali santri dari luar kota yang sudah mendaftarkan anaknya, namun ternyata tidak dapat tiket kereta ke Jogja. Akhirnya dengan berbagai cara, mereka sampai juga di lokasi acara. Ada juga yang sudah membooking hotel di Jogja untuk mengantarkan anaknya ikut kegiatan ini, tapi ternyata kuota peserta sudah habis. Anggapannya, yang penting dapat hotel dulu karena musim liburan pasti susah dan penuh semua. Lobi-lobi dengan panitia-pun terjadi. Lain lagi cerita dari keluarga dengan 3 anak, ternyata yang terdaftar hanya 2 karena sistem pendaftaran online yang siapa cepat dia dapat. Orang tuanya bersikukuh, pokoknya harus 3 yang ikut. Kalau tidak, yang satunya bisa ngambek πŸ˜…
Ada juga anak yang sudah SMP, tapi orang tua ingin mengenalkan anaknya mesantren dan merengek agar anaknya diterima. Padahal syarat peserta maksimal kelas 6 SD. Tambahan lagi, anak kelas 1 SD yang masih nge-dot & suka ngompol, minta dipakein pampers sama panitia sebelum tidur. Pengalaman menjadi orang tua pengganti itu lucu rasanya, nano-nano tapi bahagia πŸ˜…

Hamboook, kegiatan 2 hari saja awakku njarem kabeh. Orang tuanya mah bahagia menitipkan anaknya biar liburannya gak main Hp saja.
Piye pak-bapak Fatayat? Siap seminggu ngasuh anaknya rang-orang lagi? πŸ˜…

Tim luar biasa dibalik panggung yang tak kalah hebatnya adalah Garda Fatayat NU Diy & Banser. Wes pokoke kalau tidak ada mereka, bisa tepar kita πŸ˜…πŸ˜…

Dukungan luar biasa juga dari pengurus & pengasuh SMP & PesantrenΒ Bumi Cendekia Yogyakarta. Sudah bermurah hati menyediakan akomodasi dan kebutuhan lainnyaΒ πŸ˜πŸ™

(Nawa El-Syam)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here