Seri II . Mengenal Para Perempuan Periwayat Hadis

Oleh: Dr. Zunly Nadia*

Hind binti Abi Umayyah atau dikenal dengan nama Ummu Salamah adalah sosok istri Nabi yang tidak hanya dikenal cantik tetapi juga cerdas. Kecantikan Ummu Salamah ini konon menjadi pemicu kecemburuan madunya Aisyah binti Abu Bakar. Ummu Salamah lahir 28 tahun sebelum Hijriyah. Ummu Salamah menikah dengan Abu Salamah dan ikut berhijrah ke Habasya. Mereka mempunyai empat orang putra yakni Salamah, Umar, Durra dan Zainab. Ummu Salamah dikenal sebagai perempuan yang mulia nasabnya. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang terhormat. Ayahnya Zadur Rakib dikenal sebagai seorang yang dermawan dan murah hari. Karenanya tidak mengherankan jika kemudian Ummu Salamah tumbuh menjadi seorang perempuan yang murah hati dan berjiwa jernih, cerdas dan juga pemberani.

Ummu Salamah menceritakan di dalam hadis yang diriwayatkannya, bagaimana dia dilamar dan akhirnya menikah dengan Nabi Saw. Sebelum Abu Salamah meninggal, Ummu Salamah berkata kepada Abu Salamah: “Aku pernah mendengar bahwa apabila seorang perempuan ditinggal mati suaminya dan suaminya itu termasuk ahli surga, maka perempuan itu termasuk ahli surga. Jika perempuan tersebut tidak menikah lagi sepeninggal suaminya, maka Allah akan menyatukan mereka kembali di surga, dan demikian pula apabila si perempuan meninggal terlebih dahulu daripada suaminya. Marilah berjanji bahwa tidak ada seorangpun diantara kita yang akan menikah lagi setelah kematian satunya.” Mendengar perkataan Ummu Salamah, Abu Salamah justru mengatakan: “apakah engkau akan mematuhiku?”, kemudia Ummu Salamah menjawab:”Aku belum pernah mempertanyakan engkau tetapi aku ingin mematuhimu .” Abu Salamah berkata: “jika aku meninggal, menikahlah kembali. Kemudian Abu Salamah berdoa: “Ya Allah, sepeninggalku nanti berikanlah Ummu Salamah seorang laki-laki yang lebih baik daripada aku, yang tidak akan membuatnya bersedih dan yang tidak akan melukaiya.”

Ketika Abu Salamah meninggal, Ummu Salamah mengatakan siapakah laki-laki yang lebih baik daripada Abu Salamah?. Sepeninggal Abu Salamah dan ketika masa iddahnya sudah selesai, beberapa sahabat Nabi Saw mengirimkan utusan untuk melamar Ummu Salamah. Di antaranya adalah Abu Bakar yang melamar Ummu Salamah, namun Ummu Salamah enggan meneerimanya. Kemudian setelah Abu Bakar, Nabi Saw mengutus Umar bin Khatab untuk melamarnya. Ummu Salamah kemudian berkata kepada Umar: “Tolong beritahu Nabi Saw kalau saya adalah wanita pencemburu, banyak anak, serta tidak ada seorang waliku yang menyaksikan.” Kemudian Umar datang kepada Nabi Saw menyampaikan persoalannya. Lalu beliau bersabda: “Kembalilah kepadanya dan katakan; adapun perkataanmu, ‘Saya wanita pencemburu, saya akan berdoa kepada Allah sehingga Dia menghilangkan rasa cemburumu. Adapun perkataanmu ‘Saya wanita yang banyak anak’ maka akan dicukupkan bagimu anak-anakmu, dan adapun perkataanmu bahwa tidak ada seorangpun waliku yang menyaksikan, Ketahuilah bahwa tidak ada seorangpun walimu yang menyaksikan atau tidak, lantas membenci pernikahan tersebut.” Maka kepada Ummu Salamah berkata; “Wahai Umar, berdirilah dan nikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Kemudian Umar menikahkannya dengan Nabi Saw.

Salah satu kelebihan Ummu Salamah adalah melihat malaikat Jibril. Diriwayatkan dari Salman al-Farisi RA, ia berkata, “Aku diberitahu bahwa Jibril suatu ketika datang kepada Nabi Saw, sementara Ummu Salamah berada di dekat beliau. Jibril berbicara setelah itu pergi. Nabi Saw kemudian bertanya kepada Ummu Salamah, “siapa dia?” “Dihyah” jawab Ummu Salamah. Kemudian Salman berkata, “Ummu Salamah menuturkan,”Demi Allah, aku kira dia (Dihyah), hingga suatu ketika aku mendengar khotbah Nabi Allah menyampaikan kabar kami ini. Salman meneruskan, “aku kemudian bertanya kepada Abu Usman, “Dari siapa aku mendengar (kabar) ini? ‘Dari Usamah bin Zaid,”jawab Abu Usman.

Ummu Salamah termasuk perawi perempuan yang banyak meriwayatkan hadis, yakni menempati posisi kedua setelah Aisyah binti Abu Bakar, ada sekitar 622 hadis Ummu Salamah yang terdapat di dalam kutu<b al-Tis’ah. Di dalam kitab S{ah{i<h{ Bukhari terdapat 49 hadis, di dalam S{ah{i<h{ Muslim terdapat43 hadis, Sunan Al-Turmuzi terdapat 40 hadis, di dalam Sunan al-Nasa’i terdapat 66 hadis, di dalam Sunan Abu Dawud terdapat 48 hadis, di dalam Sunan Ibnu Majah terdapat 49 hadis, di dalam Musnad Ahmad terdapat 259 hadis, di dalam al-Muwatha’ terdapat 14 hadis dan di dalam Sunan al-Darimi terdapat 18 hadis. Dari semua hadis yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, hampir sebagian hadis terkait dengan persoalan pribadi dan juga soal isu keperempuanan, tentang haid, nifas, masa iddah, istihadhah hingga protes-protes yang diungkapkan oleh Ummu Salamah tentang posisi perempuan yang seharusnya setara dengan laki-laki.

Selain meriwayatkan hadis langsung dari Nabi Saw, Ummu Salamah juga meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal (Abu Salamah), Fatimah binti Rasulullah, Ja’far bin Abi T{alib bin Abdul Mut{alib. Adapun murid-murid yang meriwayatkan hadis dari Ummu Salamah ada kurang lebih 110 murid diantaranya adalah Aminah Walidah Muhammad bin Zaid bin  al-Muhajir/Ummu Haram, Ibrahim bin Abdul Rahman bin Abdullah bin Abi Rabi’ah/Abu Muhammad, Abu Bakar bin Abdurrahman bin Haris bin Hisyam, Abu ‘Iyadh, Abu Katsir maula Ummu Salamah, Aslam bin Yazid/Abu Imran dan lain sebagainya.

Ummu Salamah : Sosok yang berani dan tegas

Ummu Salamah memang dikenal sebagai seorang yang berani dan tegas, sehingga pertanyaan terkait dengan posisi laki-laki dan perempuan dalam Islam juga ia pertanyakan kepada Nabi Saw. Ada perasaan tidak adil ketika perempuan tidak banyak disebut di dalam Alquran, Hal ini dinyatakan oleh Ummu Salamah di dalam hadis yang diriwayatkannya, sebagaimana yang tersebut di bawah ini:

حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ قَالَ عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ شَيْبَةَ قَالَ سَمِعْتُ أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقُولُ قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَنَا لَا نُذْكَرُ فِي الْقُرْآنِ كَمَا يُذْكَرُ الرِّجَالُ قَالَتْ فَلَمْ يَرُعْنِي مِنْهُ يَوْمَئِذٍ إِلَّا وَنِدَاؤُهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَتْ وَأَنَا أُسَرِّحُ شَعْرِي فَلَفَفْتُ شَعْرِي ثُمَّ خَرَجْتُ إِلَى حُجْرَةٍ مِنْ حُجَرِ بَيْتِي فَجَعَلْتُ سَمْعِي عِنْدَ الْجَرِيدِ فَإِذَا هُوَ يَقُولُ عِنْدَ الْمِنْبَرِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ فِي كِتَابِهِ { إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا } قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَافِعٍ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ قُلْتُ فَذَكَرَ الْحَدِيث

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Affan dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad dia berkata; Utsman bin Hakim berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Syaibah dia berkata; saya telah mendengar Ummu Salamah, isteri Nabi shalallahu’alaihi wa salam berkata; saya bertanya kepada Nabi shalallahu’alaihi wa salam; “Kenapa kita tidak disebut di dalam Al Qur’an sebagaimana para lelaki?” ia berkata; “Pada hari itu, beliau tidak menjawab. Hanya saja, beliau menyerukannya di atas mimbar.” Ia berkata; “Aku pun menyisiri rambutku dan mengepangnya, lalu aku keluar ke salah satu kamar di rumahku. Aku memasang pendengaranku. Ketika beliau berkata di mimbar: Wahai manusia, sesungguhnya Allah berfirman di dalam kitab-Nya: ‘Sesungguhnya orang-orang muslim dan muslimat, orang-orang beriman baik laki ataupun perempuan-sampai kepada akhir ayat-Allah akan menyiapkan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami Utsman bin Hakim dari Abdullah bin Rafi’ dari Ummu Salamah berkata; saya berkata; “Ia pun lantas menyebutkan hadits tersebut.”

Apa yang dipertanyakan oleh Ummu Salamah tersebut juga merupakan suara yang mewakili gerakan protes para perempuan Arab pada masa itu yang mengharapkan perubahan dengan Tuhan baru mereka.

Ummu Salamah: Saksi Sejarah Pembunuhan Husain

Dari hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah terdapat hadis-hadis yang bercerita tentang Ali bin Abi T{alib dan Fat{imah, mulai dari keutamaan Ali, prediksi atas kematian Husain, juga kedekatan Nabi Saw dengan Fatimah, Ali serta kedua cucunya Hasan Husain, wasiat Nabi Saw kepada Ali hingga hadis tentang wafatnya Nabi Saw di dekat Ali. Tentu saja hadis yang terakhir ini berbeda dengan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah yang  menegaskan bahwa Nabi Saw wafat ketika berada di rumah Aisyah dan berada di pangkuan Aisyah. Beberapa riwayat juga menceritakan tentang kedekatan Ummu Salamah dengan putri Nabi Saw. Dalam sejarah diceritakan bahwa Ummu Salamah merupakan istri Nabi Saw yang terakhir wafat, yakni pada masa pemerintahan Yazid I pada tahun 61 H/681 M. Dia juga menjadi saksi sejarah perselisihan dan fitnah serta pergantian kekuasaan yang terjadi. Ummu Salamah juga menjadi saksi atas terbunuhnya Husain bin Ali bin Abi Thalib, karenanya  Ummu Salamah sangat bersedih ketika mengetahui kematian Husain hingga tak sadarkan diri. Bagaimanapun Ummu Salamah mengetahui dan memahami betapa Nabi Saw sangat mencintai cucunya tersebut. Tidak lama setelah kematian Husain, Ummu Salamahpun menutup mata pada usia yang ke 84.

Demikianlah sedikit kisah dari Ummu Salamah, dari kisah beliau kita bisa belajar bagaimana menjadi sosok perempuan yang cerdas, mandiri dan berani untuk bersikap kritis bahkan terhadap ajaran agama sekalipun. Dari sini juga kita bisa belajar bagaimana sosok Nabi Saw yang dengan bijak mendengar dan merespon pertanyaan dan pernyataan dari para perempuan pada masa itu. Hal ini membuktikan bagaimana seorang  Muhammad menjadi seorang Nabi yang revolusioner dengan membawa ajaran agama yang memposisikan perempuan sebagai subyek yang penting dan setara dengan laki-lak.

*Pengurus PW Fatayat NU DIY dan Dosen STAISPA Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here