Oleh: Muyassarotul H

Dia bersandar pada pohon Kersen yang sedang berbuah cukup banyak. Kulihat matanya menampakkan nuansa kegelisahan, namun juga sorotannya selalu memancarkan sebuah harapan. Beberapa menit aku menikmati wajah manisnya, namun sesaat kemudian dia menyadari kehadiranku. Aku pun melempar senyum dan mendekatinya.

“Sudah lama?”

“Lima belas menit yang lalu gus,” katanya.

Kurebahkan sepeda kesayanganku dan duduk menyandar pohon kersen. Kulihat dia ikut duduk namun menggeser tubuhnya menjauh dariku.

Tempat ini adalah tempat di mana pertama kali kami bertemu. Saat itu dia mengendarai sepeda cukup kencang dan karena ada masalah dengan rem sepedanya, dia hampir saja menabrakku yang sedang asik duduk bersandar di pohon sambil menikmati hafalan alfiyah.

Tak sempat menabrakku, sepedanya malah masuk ke selokan sawah dan dia pun tercebur basah kuyup.

“Hahahaha……” tawaku saat itu.

Namun tiba-tiba dia menangis, segera aku menghentikan tawaku dan menolongnya keluar dari selokan.

“Maaf, aku tidak bermaksud menertawakanmu saat jatuh, tapi sungguh kejadian tadi membuatku spontan ingin tertawa,” kataku. Dia hanya terdiam dan mengusap air matanya. Dia pun mengeluarkan semua isi dalam tasnya.

Aku melihat beberapa buku pelajaran yang sudah basah dan juga beberapa tumpukan kertas, mungkin tugas sekolah. Dia seperti tidak menghiraukan buku yang lain, dia lebih peduli dengan tumpukan kertas tersebut, tangannya gesit mengibaskan kertas dan menaruhnya satu persatu di atas rumput. Karena cuaca siang itu cukup panas, maka bisa cepat membantu mengeringkan kertas-kertas tersebut.

Aku mengamati betul kertas-kertas tersebut, ada beberapa foto orang-orang kuno, seperti para ilmuan, tapi sama sekali aku tidak mengenali mereka.

“Ini kertas apa? Tugas sekolahmu? Memang mereka siapa?” tanyaku.

“Dia Robert Koch seorang ilmuan dari Jerman yang merupakan pendiri Ilmu Bakteorologi Kedokteran Modern. Ia berhasil mengisolasi beberapa bakteri penyebab penyakit, termasuk TBC, dia juga yang menemukan hewan-hewan pembawa penyakit berbahaya lainnya. Temuannya sangat berguna bagi kehidupan kita sekarang,” katanya merespon pertanyaanku.

“Kalau yang ini Edwart Jenner, seorang dokter yang menemukan vaksin untuk menyembuhkan cacar. Ia adalah tokoh yang meletakkan dasar bagi Imunologi yakni ilmu tentang kekebalan tubuh. Dulu pada abad ke 18, cacar merupakan penyebab kematian terbesar.” Aku mengangguk mendengarkan penjelasannya.

“Hachi!”

“Sebaiknya kamu langsung pulang dan berganti pakaian, lihat kamu basah semua.”

“Lalu, bagaimana dengan buku dan catatan-catatanku ini?”

“Rumahmu jauh tidak?” dia menggeleng, “lima belas menit bersepeda.”

“Oke, aku akan menjaga barang – barang ini, sampai kamu kembali ke sini.”

Dia tersenyum, senyumannya sangat manis, mungkin karena hidungnya yang mancung dan pipinya yang sedikit chubby membuatnya begitu menarik untuk dipandang.

“Beneran mau jagain, baiklah, aku pulang sebentar dan segera kembali.”

Diapun menaiki sepedanya, namun segera tanganku menahan sepedanya, berusaha mencegahnya.

“Tunggu! Sebaiknya kamu pulang menggunakan sepedaku, sepertinya rem sepadamu bermasalah, aku tidak mau kamu terjatuh lagi.” Dia kembali tersenyum dan aku kembali terpesona.

“Baiklah,” katanya sambil menaruh sepedanya dan mengambil sepedaku.

Entah perbuatan bodoh apa yang aku lakukan saat itu. Di mana aku masih kelas sebelas Aliyah, membiarkan anak SMP kelas sembilan membawa sepedaku yang jelas lebih mahal dan lebih bagus dari sepedanya, dan bodohnya lagi aku mau menjaga barang-barangnya hampir satu jam hanya untuk anak perempuan itu.

Sejak saat itu hingga saat ini aku masih terpikat dengan senyumannya.

“Gus, berapa lama lagi aku menunggumu berbicara.” Suara tegasnya terdengar membuyarkan lamunanku tentangnya.

“Maaf,” kataku gelagapan.

“Kamu yang ingin bertemu denganku di sini, jadi seharusnya kamu yang memulai pembicaraan kita ini,” kataku.

“Aku sudah mengirimimu surat seperti biasa, tapi kamu tidak membalasnya.”

“Buat apa aku membalasnya, suratmu tidak perlu balasan.”

“Maksudmu?”

“Kamu menuliskan hal yang tidak ingin aku baca bahkan aku tidak ingin meresponnya.”

“Gus, jangan mempersulit keadaan.”

“Kamu yang mempersulit keadaan dek Farah……” kalimatku membuatnya menatap mataku, dan ini yang aku suka. Dari sekian perempuan yang aku temui, hanya dia yang berani menatapku.

Hidup di lingkungan pesantren membuatku sedikit memiliki teman, apalagi karena statusku sebagai anak kiai yang juga bersekolah di lembaga milik keluarga membuat banyak santri yang sungkan berteman denganku. Apalagi santri putri, tidak ada yang berani berbicara padaku, bahkan sekedar menatap mataku. Hanya dia satu-satunya santri putri yang berani menatapku.

“Tidak seharusnya kita sedekat ini gus. Tidak semestinya kau mencintaiku, dan tidak sepantasnya aku mencintaimu. Andai kita tidak bertemu di sini lima tahun lalu, semua akan baik-baik saja,” katanya masih dengan menatapku.

“Jadi kamu mulai menyalahkan takdir?” kataku yang membuatnya mengalihkan tatapannya ke arah pepadian yang sudah mulai menguning.

“Aku tidak mudah jatuh cinta Farah. Aku juga tidak mudah melupakan orang yang aku cintai. Apalagi kamu.”

“Tapi, kita berasal dari dunia yang berbeda gus. Aku bukan siapa-siapa dan njenengan harapan ummi dan abah juga harapan pesantren. Aku baru tersadar ketika rencana ummi dan abah mengirimmu ke Timur Tengah, sangat jelas gus, beliau mengharapkanmu melanjutkan perjuangan pesantren ini. Aku juga sudah mendengar bahwa ada seorang ning, putri dari kiai besar yang kelak akan mendampingimu. Lantas siapa aku yang berani-beraninya mencintaimu dan berharap besar bisa berada di sisimu. Ini tidak benar. Sebelum semua terlambat, aku ingin hubungan kita ini berhenti sampai di sini.”

“Tidak Farah, aku tidak bisa.”

“Gus,” panggilnya dengan suara pelan dan kulihat air matanya menetes di pipinya. Ingin sekali aku mengusap air mata itu dan memeluknya, tapi itu tidak boleh aku lakukan.

“Farah, jawab pertanyaanku! Apa makna diriku bagimu?”

“Gus, kamu adalah mimpi bagiku.”

Aku menghela nafas dan memejamkan mata sejenak.

“Jadi, aku hanya mimpi bagimu, yang kemudian hilang ketika kamu terbangun.”

“Iya Gus,” jawabnya.

“Tak ku sangka, hanya sebatas itu makna kehadiranku untukmu, padahal kamu tahu apa makna dirimu bagiku? Kamu adalah cinta pertamaku dan kamu adalah…” belum selesai aku mengucapkan kalimatku dia berdiri berjalan mengambil sepedanya.

“Tunggu, aku belum selesai mengatakannya,” cegahku.

“Aku tak ingin mendengar kalimatmu lagi, sekarang aku harus pergi, baik pergi dari sini, mapun pergi dari hatimu.”

“Farah tunggu!” aku memegang stang sepedanya.

“Baiklah, setelah aku menyelesaikan s2 ku di Mesir dan aku kembali ke sini, kemudian perasaanku tidak berubah, tolong sampai saat itu jangan biarkan hatimu diisi laki-laki lain. Tunggulah, saat itu aku akan tetap memilihmu.”

“Gus,” katanya yang tak aku hiraukan.

“Jawablah iya, kamu akan menungguku. Ini tidak akan lama, kita akan sering berkirim kabar. Komunikasi kita lebih mudah, jadi kumohon, tunggulah aku!”

“Gus…”

“Farah….” Aku merasa saat ini sedang gila, gila dengan cintaku pada perempuan ini. Seperti Qais yang gila cinta pada Layla, seperti Romeo yang gila cinta pada Juliet. Gila karena takut kehilangan seorang perempuan bernama Farah.

“Gus, njenengan adalah mimpi bagiku, dan sekarang saatnya aku untuk bangun.”

Kata-katanya membuatku tertunduk menyerah dan membiarkannya berlalu. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh dariku.

Kalian tentu menganggapku bodoh. Seorang putra kiai yang banyak orang bilang aku tampan, pintar, sudah hafal al-Qur’an, ratusan hadist, puluhan kitab, lulusan terbaik sarjana ilmu tafsir dan akan melanjutkan belajar di Mesir bisa-bisanya tergila-gila pada perempuan biasa, dia miskin, tidak pandai ilmu agama, dan di pesantren dia adalah santri ndalem yang memiliki tugas mencuci dan menyetrika semua pakaian keluargaku, termasuk pakaianku.

Tapi kalian akan lebih gila jika mengenal dekat sosok perempuan itu, bahkan kalian pun akan jatuh cinta kepadanya. Dia bukan perempuan biasa yang pernah kalian temui sebelumnya. Suatu saat aku akan menceritakan siapa dia sesungguhnya. Farah, perempuan yang memiliki hidung mancung dan pipi mempesona.

(bersambung)

1 COMMENT

  1. Lanjutan kisah cinta ala pesantren… 😀Selamat juga atas kelahiran buah hati yang sudah dinanti-nanti… @pak Madun dan @bu Muyas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here