Connect with us

Upaya Kreatif Perempuan Untuk Perdamaian Dunia

perempuan

Berita

Upaya Kreatif Perempuan Untuk Perdamaian Dunia

Upaya Kreatif Perempuan Untuk Perdamaian Dunia

Catatan IYMWF Kamis, 25 Oktober 2018

Ada banyak cara kreatif untuk upaya-upaya menjadikan dunia lebih baik. Begitulah kalimat yang selalu memberi kekuatan kita untuk selalu berbuat baik.

Kamis 25 Oktober 2018 adalah hari pertama The International Young Muslim Women Forum setelah semalam dibuka oleh Presiden Joko Widodo. Begitu banyak perempuan dari berbagai latar belakang dan dari berbagai negara berkumpul dengan tujuan sama yakni mendambakan dunia yang lebih baik.

Sesi pertama konferensi The International Young Muslim Women Forum kali ini menghadirkan narasumber untuk berbagi mengenai cara-cara kreatif mereka dalam gerakannya.

Pertama, Ibu Nyai Hj. Badriyah Fayumi, seorang Ulama Perempuan Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina. Dalam presentasinya menyampaikan bahwa Islam Nusantara yang akhir-akhir ini sering disalahfami, berkontribusi besar pada pengembangan pemahaman gender di Indonesia. Ajaran Islam yang dipraktekkan di nusantara memiliki karakteristik sosiologis tertentu yang berbeda dengan Islam di Negara lain, misalnya Arab Saudi.

Dengan praktik yang berbeda, dan cenderung lebih ramah perempuan, Islam nusantara lebih akomodatif terhadap isu gender. Dengan demikian bisa dikatakan, Islam nusantara adalah cara kreatif untuk mengejawantahkan wacana gender dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini pula yang menjadikan feminism di Indonesia sedikit berbeda dengan feminism di Negara-negara Barat. Cara-cara gerakannya lebih akomodatif terhadap ajaran agama dan budaya lokal.

Narasumber kedua yakni Rozana Isa, Direktur Sisters in Islam, sebuah lembaga advokasi perempuan di Malaysia. Roz menyebutkan bahwa jaringan kerjasama aktifis perempuan muslim di Indonesia selama ini sangat berkontribusi dalam gerakan-gerakan mereka. Problem utama perempuan di Malaysia adalah tafsir tunggal terhadap teks-teks terkait perempuan. Karena itu, yang dilakukan oleh Sisters in Islam adalah menciptakan ruang publik yang terbuka untuk berdebat mengenai isu-isu Islam dan perempuan. Hal ini mereka lakukan, salah satunya, dengan mempublikasikan buku-buku Islam alternatif untuk khalayak umum.

Perempuan juga sangat berperan dalam menciptakan perdamaian. Hal ini dijelaskan oleh narasumber ketiga Sahabat Hilda Rolobessy dari Ambon. Hilda termasuk pengurus Fatayat Ambon yang fokus dalam isu perdamaian. Dia mengatakan bahwa tanpa perempuan, konflik di Ambon tidak akan selesai.

Konflik Ambon sekitar satu dekade lalu membelah masyarakat menjadi dua, Muslim dan Kristen. Sementara itu, sumber-sumber penghidupan di Ambon sejak semula memang terbagi. Daerah pasar dan pusat ekonomi, dikuasai kelompok Muslim. Sementara kelompok Kristen menguasai daerah perkantoran dan pemerintahan.

Dalam situasi konflik, perempuan merasa sangat dirugikan. Karena itu mereka melakukan inisiasi-iniasi agar konflik tidak berlarut. Yang dilakukan oleh perempuan Ambon adalah saling bertemu di perbatasan untuk saling bertukar sumberdaya penghidupan. Mereka ini sangat yakin bahwa pela gandong (persaudaraan ala Maluku) harus dipertahankan sebagai falsafah hidup bersama.

Sedangkan Parasto Yari dari Afganistan berbicara tentang Afghanistan Women Initiatives in building peace” Yari banyak bercerita tentang peran-peran perempuan Afganistan untuk perdamaian dunia.

Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta mempertanyakan apakah konsep feminism berdasar Islam nusantra ini berbeda dengan konsep feminisme secara umum? Nyai Badriyah merespon pada dasarnya tidak ada perbedaan secara konseptual. Akan tetapi, Islam nusantara memberikan alternatif strategi untuk membumikan feminisme di kalangan Muslim.

Falsafah jawa “alon-alon waton kelakon” misalnya, menginspirasi feminis muslim Indonesia untuk tidak pernah lelah mencari strategi alternatif agar gender dan feminsime dipahami oleh masyarakat. Dalam gerakannya, para feminis muslim ini tidak mengambil langkah-langkah radikal karena resistensi masyarakat atas wacana ini masih kuat. Islam nusantara melalui praktik-praktik Islam ala Indonesia memberi jalan agar gender dan feminsime lebih mudah dipahami. (Mustagfiroh Rahayu)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Berita

To Top