Connect with us

Prostitusi Online, Surplus Religiusitas, dan Problem Sosial Kita yang tak Terselesaikan

Opini

Prostitusi Online, Surplus Religiusitas, dan Problem Sosial Kita yang tak Terselesaikan

Prostitusi Online, Surplus Religiusitas, dan Problem Sosial Kita yang tak Terselesaikan

Oleh: Subkhani KD*

Kasus prostitusi online yang melibatkan artis VA makin bergulir. Bagai gunung es, tidak mudah bagi kita untuk menyimpulkan siapa yang bersalah dalam problem sosial dan moral ini. Prostitusi, betapa pun usaha manusia dalam menghilangkan atau mengeliminasinya (bahkan mengubah bentuk dan sistem), selama masih ada laki-laki yang memilih jalan pintas untuk menyalurkan hasrat seksualnya dan perempuan yang mengorbankan (atau dikorbankan) untuk memenuhi hasrat tersebut, tetap akan ada mereka yang mencari nafkah dari salah satu bisnis paling lama di muka bumi ini.

Bagaimana kasus prostitusi online yang menyeret puluhan nama artis ke pihak berwajib ini terjadi di masa ketika ruang publik kita juga dipenuhi dengan surplus ekspresi beragama? Silahkan anda cek mall dan pasar perbelanjaan, deretan fashion muslim dengan beragam brand membanjirinya. Begitu pula dunia hiburan kita juga tak luput dari syariatisasi ini; mulai dari program kajian yang sifatnya harian, mingguan, bahkan juga bulanan telah menjadi teman sarapan hingga waktu petang kita. Belum termasuk pula puluhan film religius yang di setiap tahunnya turut meramaikan industri perfilman nasional. Untuk tidak semakin berlebihan, dunia maya merupakan bukti paling kentara, di mana dunia sosial kita menunjukkan surplus ekspresi beragama. Mulai  dari twitter, facebook, bahkan juga instagram merupakan arena baru yang telah ditahbiskan oleh kaum muslim populis-urban sebagai medan dakwah kaum millenials.

Sebagai bukti otentik dari sukses besar dakwah Islam di era millennium ini, antara lain, adalah berbondong-bondongnya artis dalam berhijrah, kembali ke agama mereka, bahkan juga beberapa di antaranya mengambil langkah signifikan dalam hidup mereka; mencari ladang nafkah baru yang lebih syar’i dan halal.

Lalu apa hubungan antara kasus prostitusi online dengan—katakanlah—surplus ekspresi beragama ini? Sebagian dari kita mungkin bisa saja secara apologetik mengatakan bahwa mengkontraskan kasus prostitusi online dengan fenomena hijrah para artis adalah hal yang mengada-ada, bahkan cenderung lebay! Tapi mari kita lihat secara lebih reflektif lagi.

Beberapa artis dan model menyebut keterlibatan mereka ke dalam bisnis haram tersebut karena tuntutan profesi sebagai artis atau model. Sementara yang lain juga menyebut gaya hiduplah yang akhirnya menyebabkan mereka harus mengorbankan diri dalam bisnis tersebut. Ketika life style adalah tujuan utama hidup dan menjadi tolak ukur kesuksesan artis, maka orang sangat mungkin mudah terjerumus pada cara instan untuk merengkuhnya. Dan ketika cara instan itu telah dilakukan oleh banyak orang (sebut artis) maka tak heran beberapa dari mereka hanyut dalam hingar-bingar kehidupan kaum selebritas yang penuh godaan dan nafsu duniawi ini.

Dalam kondisi seperti itu, bagai sebuah jawaban atas kemelut duniawi, agama menawarkan sebuah “time-out”, agar para artis ini mendapatkan energi kehidupan sesungguhnya, lalu merasa kembali “get-in-touch” dengan kehidupan ukhrowi. Terma religius seperti taubat dan hijrah mendadak tenar di kalangan artis dan kaum muda millenials seiring dengan semakin diwarnainya dunia hiburan negeri ini dengan simbol-simbol kesalehan seperti koko muslim, hijab syar’i, program-program religi, dan tentu saja para artis yang menjadi ustadz (juga ustadz yang bertindak seperti artis).

Lalu apa yang salah dengan semakin religiusnya ruang publik kita? Kenapa harus disayangkan, bukankah sebagai masyarakat muslim kita harus berbangga dengan kesuksesan dakwah Islam ini? Secara sekilas tentu harus kita syukuri, tetapi, saya harus jujur mengatakan masyarakat muslim juga harus kritis terhadap fenomena populisme Islam seperti saat ini.

Karakter utama dari keberagamaan di era post-modern ini sebenarnya didasarkan pada logika liberal modern yang meniscayakan semua orang untuk melakukan tidak saja profesionalisme dalam pekerjaan dan kehidupan mereka, tetapi juga sebuah self-enhancement, semangat untuk selalu meningkatkan kualitas internal diri. Karakter moral (akhlak) agama yang senada dengan semangat diskursus liberal ini kemudian menjadi penyokong utamanya. (Maraknya pelatihan ESQ dengan tarif jutaan rupiah di awal-awal era 2000an merupakan contoh konkret dari tuntutan self-enhancement ini). Hanya saja, berbeda dengan akhlak dalam Islam, semangat pembaruan dan peningkatan kualitas diri ini tidak mengenal istilah tawadlu’ yang khas a la tasawuf Islam. Tuntutan kehidupan modern yang profesional secara sosial dan spiritual ini sangat mudah menyasar kaum urban (termasuk sosialitas dan selebritas), karena merekalah kelompok sosial utama yang menikmati dan berperan aktif dalam modernitas.

Kealpaan rasa rendah hati khas tasawuf dalam self-enhancement pun melihat eksklusifitas sebagai sikap yang wajar, bahkan dalam logika tersebut berfungsi sebagai bentuk profesionalisme. Ekspresi beragama, dengan demikian, menjadi eksklusif dan urusan privat. Pengalaman berhijrah boleh sama, tetapi selama apa yang dilakukan oleh si artis adalah halal, maka sah-sah saja dilakukan. Kondisi ini seperti semakin menunjukkan karakter keanehannya karena sistem ekonomi kapitalisme yang mengutamakan konsumerisme juga ikut menjejali kehidupan sosial kita.

Jadilah, kita bisa melihat para artis yang berhijrah tetap cantik dan menawan. Pakaian mereka tetap trendi, glamour, dan syar’i. Meskipun berhijrah, mereka tetap aktif di media sosial (bahkan menjadikannya sebagai medan dakwah mereka) dengan misalnya memperlihatkan saat ngaji di hotel berbintang, berziarah ke Baitullah mengenakan fashion branded adalah hal yang wajar bagi mereka. Begitu pula artis yang tidak saja menjadi model, tapi juga produsen dari fashion syar’i  mulai dari hijab, gamis, bahkan juga hijab untuk bayi; semuanya wajar dilakukan tanpa perlu merasa malu dan tidak perlu khawatir. Karena semua dilakukan sebagi bentuk profesionalisme seorang artis.

Kehidupan beragama yang eksklusif dan individual (privat) ini pun akhirnya kurang peka terhadap problem sosial sesungguhnya, yakni konsumerisme sebagai sebuah gaya hidup (life style). Padahal inilah problem utama kehidupan sosial selebritas, bahkan juga kita yang menjadi penikmat dari dunia artis dan hiburan. Kita, para peminat dunia hiburan; hampir-hampir seperti penyembah berhala konsumerisme, menirukan segala tindak-tanduk sang artis berhijrah. Model fashion terbaru, simbol-simbol agama yang sedang trend, hingga ekspresi beragama kita; kadang ditentukan oleh populerisme seperti ini. Inilah gaya hidup kita

Demikianlah, artis VA dan fenomena hijrah yang khas Islam populis sama-sama belum bisa keluar dari problem utama masyarakat millennium, yakni “hyper-consumerism”, konsumerisme berlebih-lebihan; bahkan konsumsi sebagai tujuan dan gaya hidup.

Menutup tulisan ini, hijrah masyarakat muslim (apalagi anda yang mengakui diri sebagai kaum muslim millenials) adalah hijrah dari konsumerisme sebagai gaya hidup, dengan cara meningkatkan kualitas diri (self enhancement, atau dalam tradisi tasawuf dikenal dengan tamrinat) dengan menjaga diri dari berkonsumsi berlebih-lebihan, karena “laisa kullu man yalma’u dzahaban, all that glitters is not gold

 

 *Subkhani KD, anggota Litbang PW Fatayat NU DIY. Dosen Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga.

1 Comment

1 Comment

  1. Abdoel Halim

    January 15, 2019 at 12:11 pm

    Artikelnya keren, sekeren orangnya… Mantab bil ba’Mb Yu Uma… 👌

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Opini

To Top