Connect with us

Pesan Bu Nyai Hj. Barakah Nawawi kepada Penghapal Al-Qur’an

Ulama Perempuan

Pesan Bu Nyai Hj. Barakah Nawawi kepada Penghapal Al-Qur’an

Oleh Ainatu Masrurin*

 

Saya kira urusan hapal-menghapal, unda’an (menambah hapalan), takrir, sima’an, deresan sudah akrab bagi pembaca yang menggeluti dunia tahfidzul qur’an (menghapal al-Qur’an 30 juz). Seiring berjalannya waktu, menghapal al-Qur’an bukan lagi menjadi sesuatu yang asing di kalangan muslim pedesaan ataupun perkotaan. Yang demikian ini boleh jadi dikatakan sebagai sebuah “trend”.

Di sekolah-sekolah pada tingkatan KB, TK, SD, SMP, SMA, dan sederajat, baik umum ataupun swasta, bahkan perguruan tinggi (jurusan yang saya tempuh misalnya hehe) sudah menjadikan kegiatan menghapal al-Qur’an tidak hanya sebagai tambahan, tapi kewajiban, sehingga mau tidak mau murid yang bersekolah di sekolah tersebut harus mengikutinya baik suka rela ataupun dengan terpaksa. Niat menghapal al-Qur’an bukan lagi menjadi persoalan tapi semacam tuntutan entah itu karena nilai, sertifikat, atau semacamnya. Untuk itu, catatan ini barangkali memberikan angin segar bagi kalian yang diambang kebimbangan atau sejenisnya.

Baik, sebelum saya mengutarakan apa yang termaktub sebagaimana judul tulisan ini, saya mau bercerita terlebih dahulu. Ceritanya begini. Saya punya teman. Mbak Sifa, sebut saja namanya demikian. Pagi tadi saya dimintai tolong menemaninya sowan  ke Bu  Nyai Hj. Barakah Nawawi, (pengasuh pondok pesantren Nurul Ummah Putri Kotagede, juga seorang ulama perempuan NU di Kota Yogyakarta)   untuk meminta izin dan restu tabarukkan  menghapal al-Qur’an di pondok. Tentu Bu Nyai dengan senang hati menerima niat baik Mbak Sifa.

Mbak Sifa mengutarakan niat dan maksudnya kepada Bu Nyai dengan sedikit curhat-lah, karena ditengarai selain menjadi seorang ibu rumah tangga dengan kedua anak-nya Mbak Sifa juga menjadi dosen di beberapa kampus di Yogya dan Jawa Tengah, dengan kesibukannya, Mbak Sifa mengeluhkan betapa tanggung jawab menjaga al-Qur’an itu sungguh luar biasa, gampang sulit-sulit. Sehingga niat untuk selalu muraja’ah menjadi pokok yang harus ditancapkan dalam hati dan sanubari. Dengan begitu tanggap Bu Nyai Barakah berpesan kepada beliau khususnya dan barangkali kepada khalayak yang sudah dan atau sedang dalam proses menghapal al-Qur’an. Begini

  1. “Ya namanya ngaji (hapalan) itu harus disima’kan, tidak hanya cukup dibaca sendiri, sekalipun sudah hapal”.

“Mau disima’ itu soal mental, orang yang sudah khatam hapalannya tapi malu atau tidak bisa disima’ juga ada (miris sekali, na’udzubillahi min dzalik) karena itu menggalakkan ikut tradisi rutinan sima’an secara ajeg (istiqomah) itu perlu, dalam rangka mengasah hapalan dan mental”. Pesan beliau

Mau disima’  itu juga soal waktu. Terkadang dengan banyaknya kegiatan baik bekerja, organisasi, mengurus rumah tangga, dan lainnya  sering membuat lalai atau tidak punya waktu untuk disima’. walaupun bisa muraja’ah sendiri tapi itu beda.

  1. Wes diniati, ojo nganti lalai, ojo nganti ora dideres

(Sudah diniatkan, jangan sampai dilupakan, jangan sampai tidak di­deres)”

Niat menjadi koentji paling utama dalam segala macam perbuatan, termasuk menghapal al-Qur’an, jika keinginan itu sudah mulai luntur, niscaya keinginan segera khatam bagaikan pungguk merindukan bulan.  Saya yakin cobaan orang mengpafal al-Qur’an bukan sesuatu yang remeh-temeh. Kadang ada yang dicoba karena ekonomi, keluarga, atau bahkan asmara. Sehingga hal-hal tersebut boleh jadi menghambat jika tidak bisa menyikapinya atau bahkan bisa menjadi motivasi kuat untuk segera mencapainya.

  1. “Cara menjaga Al-Qur’an agar tetap lancar adalah dengan tekun muroja’ahnya. Terus mengulangnya. Tak ada cara yang lain lagi”

Muraja’ah sudah menjadi makanan tiap hari bagi penghapal al-Qur’an, jadi bisa dipastikan kalau seorang pengpafal al-Qur’an kok tidak makan sehari akan nglemesi, dalam artian hapalan yang selama ini hidupi dan dijaga  akan tercerai-berai, bahkan lupa (kan dosa to, kalau sudah niat menghapal terus lupa). Sebenarnya istilah muraja’ah (pengulangan) tidak jauh beda secara substansi  dengan istilah muthola’ah. Ilmu apa pun yang dipelajari jika tidak pernah diulangi lagi akan  terlupakan,

Andaikata hapalan seseorang adalah sebuah jalan terjal bebatuan maka untuk pertama kali melewatinya membutuhkan usaha yang kuat dan maksimal. Namun jika jalan terjal itu sering dilewati sejauh dan sepanjang apapun jalan terjal bebatuan itu tidak lagi menjadi sebuah persoalan dia akan tetap jalan dengan mudah. Ketika pertama kali orang menghapal pasti menemukan kesulitan yang relatif, namun jika dia terbiasa dengan kesulitan-kesulitan tersebut menghapal  bukan lagi menjadi persoalan. Jadi, ringkasnya tidak akan berhenti sebelum hapal, tidak berhenti juga sesudah hapal. Tidak berhenti sebelum paham, tidak berhenti juga saat mengamalkan.Karena itu jalan satu-satunya.

  1. Ngaji kuwi sing ikhlas, karo diangen-angen maksude ora cepet-cepet

(Ngaji itu yang ikhlas, sambil ditadarburi maknanya jangan terlalu cepat)

Barangkali karena keinginan yang begitu menggebu-gebu untuk urusan muraja’ah orang kerap kali jadi lupa inti dari apa yang mereka hapal, al-Qur’an dibaca, dihapal, dipelajari sebagai sebuah pedoman hidup, benteng, jalan hidup. Bayangkan jika apa yang menjadi pedoman hidup itu hanya nyaring di bibir saja,  niscaya orang-orang di muka bumi ini berebut jadi motivator tersohor. Keikhlasan dalam menjalankan apa yang telah dipilih bagi seorang penghapal al-Qur’an memberinya konsekuensi tidak berhenti pada hapalan saja, tapi juga pemahaman dan pengamalan. Pesan Bu Nyai Barakah ini mengingatkan saya dengan pesan Almaghfurlah KH. Asyhari Marzuqi (Pendiri dan pengasuh pertama Pondok Nurul Ummah Kotagede) berikut:

Wajar menowo Al-Qur’an kuwi abot dilakoni kerono Al-Qur’an iku mu’jizat sekaligus syareat, dadi ora ono lakon sing luwih ampuh tinimbang, nglakoni Al-Qur’an.

(Wajar kalau Al-Qur’an itu berat diamalkan, karena Al-Qur;an itu mukjizat sekaligus syariat, jadi tidak ada tindakan yang lebih ampuh selain mengamalkan Al-Qur’an).

Tugas kito kuwi kepiye carane mindah baris-baris sing ono ing lembaran-lembaran mushaf kui dadi baris-baris lakune kito.

(Tugas kita itu bagaimana caranya memindahkan baris-baris yang ada di lembaran-lembaran mushaf itu jadi baris-baris amalan kita)

Waallahul muwafiq

 

*Ainatu Masrurin, biasa disapa Aina atau Rurin. Santri Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri Kotagede. Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

1 Comment

1 Comment

  1. rini dh

    January 9, 2019 at 2:06 am

    kereeen…NU….joss utk para penghafal…salut utk mereka….no wa no fb…kereen..hp…vs alqur’an….bisa kuat….keren..mereka orang langka..hevhe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Ulama Perempuan

To Top