Connect with us

“Of Course You Can Leave”: Kesalingan antara Suami Istri dalam Film Incredible 2

Bidang Sosial, Seni dan Budaya

“Of Course You Can Leave”: Kesalingan antara Suami Istri dalam Film Incredible 2

“Of Course You Can Leave”: Kesalingan antara Suami Istri dalam Film Incredible 2

*Nor Ismah

“Bob Parr (Mr. Incredible) is left to care for the kids while Helen (Elastigirl) is out saving the world”

Bob, sang ayah yang mempunyai kekuatan otot luar biasa mengambil peran sebagai pengasuh tiga  anak-anaknya di rumah. Sementara Helen, sang ibu yang memiliki tubuh super elastis, bertugas di luar rumah menyelamatkan dunia. Ternyata, memiliki kekuatan fisik yang super tidak membuat ego Bob Parr sebagai laki-laki harus selalu menang mengalahkan istrinya, Helen Parr.

Saya suka sekali dengan film kartun tiga dimensi ini. Film produksi Pixar Animation Studios tahun 2018 ini merupakan sekuel dari film Incredible 1 yang dikeluarkan pada tahun 2004. Berbeda dengan film pertama yang menggambarkan pola relasi mainstream di dalam keluarga Bob dan Helen, Incredible 2 menyajikan pola hubungan antara ayah dan ibu yang sensitif gender dan berkesalingan. Garis bawahnya adalah relasi mubadalah. Jika laki-laki membutuhkan ruang aktualisasi diri, kesempatan, dan kepercayaan bahwa ia bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik, demikian juga dengan perempuan.

Cerita dimulai dengan pertempuran antara the Incredibles atau Bob sekeluarga dan Frozone melawan Underminer yang akan merampok Metroville Bank. Para pahlawan super itu berhasil mengalahkan Underminer dan menyelamatkan Balai Kota. Namun, para pahlawan super itu justru dipersalahkan oleh pihak yang berwenang karena pertempuran itu menyebabkan banyak kerusakan. Sebagai konsekuensi, mereka dipaksa untuk merahasiakan identitas super mereka dan dilarang melakukan tindakan penyelamatan apa pun.

Sampai kemudian muncul Winston Deavor dari DEVTECH, seorang konglomerat di bidang telekomunikasi, menghubungi Frozone dan keluarga Bob Parr. Ia ingin Program Relokasi Pahlawan Super itu dicabut. Dan untuk mendapatkan dukungan masyarakat secara luas, ia mengusulkan agar Helen Parr, mewakili para pahlawan super lainnya, secara terbuka memerangi kejahatan di kota New Urbrem. Selama menjalankan misi ini, Helen sementara akan tinggal di hotel, terpisah dari keluarganya.

Di sinilah konflik baru di dalam keluarga Parr dimulai. “Better than me?” Bob menyangsikan Helen atas penunjukkan dirinya untuk tampil. Winston menjelaskan bahwa ia menilai Helen lebih pas, paling tidak berdasarkan laporan asuransi akibat pertempuran super heroes, kerja Helen lebih sedikit menyebabkan kerusakan. Tapi, tidak mudah bagi Helen untuk menerima tawaran itu. Ia keberatan meninggalkan anak-anaknya yang masih berjuang dengan persoalan mereka masing-masing. “It’s not a good time to be away,” katanya. Balas Bob, “Of course you can leave. I watch the kids, no problem, easy!”

Persoalan dalam Incredible 2 ini mirip-mirip dengan yang saya alami, atau bahkan oleh banyak perempuan yang lain. Dalam keluarga dengan relasi dan peran gender yang kaku, besar kemungkinan laki-laki tidak mau “mengalah”—untuk tidak menggunakan istilah “bunuh diri kelas” (class suicide— merelakan keistimewaan dan kebebasan yang selama ini didapatkannya, dan memberikan kesempatan kepada perempuan. Padahal, kerelaan laki-laki untuk mendukung dan memberikan kesempatan kepada perempuan, dalam beberapa penelitian, menjadi faktor penting kesuksesan perempuan.

Film ini menunjukkan bagaimana proses “mengalah” dan “mendukung” antara suami istri super hero ini terjadi di dalam keluarga mereka. Sebagai individu perempuan, Helen digambarkan sebagai pribadi yang assertive dan berani mengemukakan apa yang ia inginkan dan pikirkan. Bob dan Helen berbicara dari hati ke hati. Mereka mencoba realistis dengan keadaan keluarga yang sedang tidak memiliki income dan tempat tinggal. Jika Helen menerima pekerjaan itu, selain menerima gaji, keluarganya juga akan mendapatkan rumah dinas yang mewah untuk tempat tinggal. Sementara Bob tinggal di rumah mengasuh anak-anak.

Ketika Bob dan Helen sudah sama memahami keadaan dan prioritas yang harus diambil, tahap selanjutnya adalah memberikan kepercayaan satu sama lain bahwa kedua belah pihak mampu menyelesaikan tugas masing-masing dengan baik. Helen mendapat kepercayaan dari Bob bahwa ia bisa melakukan pekerjaan itu. Demikian juga, Helen memberikan kepercayaan kepada Bob untuk menyelesaikan segala urusan di dalam rumah.

Meskipun ini film hero ala kartun, tapi adegan-adegannya sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari relasi dan komunikasi di dalam keluarga. Film ini dengan apik menyajikan scenes bernuansa emosi antara Bob dan Helen, kejadian-kejadian konyol khas anak-anak dengan bapak rumah tangga, menggambarkan negosiasi-negosiasi tidak hanya antara suami istri, tetapi juga pelibatan peran anak dalam menentukan keputusan keluarga, serta pengalaman-pengalaman khas pekerjaan domestik dan publik lainnya.

Ketika Helen menelepon dan bercerita kepada Bob kalau ia berhasil menyelamatkan duta besar, Bob tidak bisa memungkiri perasaan irinya dan tidak terima kenapa bukan dirinya yang mendapatkan kesuksesan itu. Ketika Bob bercerita tentang kejadian-kejadian di dalam rumah, Helen hampir saja meresponsenya dengan sikap seolah ia tidak percaya Bob bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Di New Urbrem, Helen bisa mengaktualisasikan kekuatan supernya, melawan penjahat misterius bernama Screenslaver yang menghipnotis untuk mencuci otak para penduduk dengan menggunakan gambar pada layar. Tapi karena ia tidak tinggal di rumah, ia melewatkan masa-masa penting Jack-Jack, anak ketiga mereka yang masih bayi, menunjukkan kekuatan super untuk pertama kalinya, yaitu bisa berganti-ganti bentuk.

Bob memang pahlawan super, namun ia tampak kepayahan mengerjakan tugas kepengasuhan dan rumah tangga. Ia berjuang mengendalikan Jack-Jack sampai kurang tidur dan lelah. Ia tidak tahu bagaimana menyelesaikan PR matematika anak keduanya, Dash. Dan, inisiatifnya untuk memperbaiki hubungan anak ketiganya, Violet dengan cowok yang ditaksirnya ternyata malah berujung berantakan. Bob akhirnya menyadari bahwa mengerjakan pekerjaan domestik dan kepengasuhan itu ternyata tidak mudah.

Meskipun Helen dan Bob menyepakati pembagian kerja di antara mereka, pada akhirnya pembagian itu bersifat cair dan tidak baku. Dash masih membutuhkan ibunya untuk menemukan kaos kaki, sementara Helen tidak akan berhasil jika tidak dibantu oleh seluruh anggota keluarga Parr dalam pencapaian goal utama mereka, yaitu melawan kejahatan dan penerimaan kembali identitas super hero mereka. Bob dan anak-anak ikut membantu Helen menghadapi Evelyn, dalang di balik screenslaver. Mereka berhasil menang, dan Program Relokasi Super akhirnya dicabut, membuat pahlawan super legal kembali.

Sumber:
-https://en.wikipedia.org/wiki/Incredibles_2

-Baca juga Faqihuddin Abdul Kodir, “Perempuan dan Pengetahuan”, https://www.swararahima.com/03/10/2018/perempuan-dan-pengetahuan/?fbclid=IwAR2N4WqI19Z8IgY3CRo-QuMsUVZbA9xItfuWU89SMyW7h5pzs4HXe1FnLzc

-Swara Rahima, “Laki-laki Harus Melakukan Class Suicide Sebelum Menjadi Feminis”, https://www.swararahima.com/30/10/2018/laki-laki-harus-melakukan-class-suicide-sebelum-menjadi-feminis/

-Misalnya penelitian tentang kesuksesan ulama perempuan, Nor Ismah, “Destabilizing Male Domination, Building Community Based Authority among Indonesian Female Ulama”, https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/10357823.2016.1228605

(Nor Ismah adalah kandidat doktor di Leiden University, pegiat sastra pesantren, dan kontributor fatayatdiy.com)

2 Comments

2 Comments

  1. Amanah Zahra

    December 21, 2018 at 3:07 am

    Subhanalloh
    Keren

  2. Khotim

    December 21, 2018 at 10:39 am

    Resensi film-nya mantab, nduk Isma Kazee.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Bidang Sosial, Seni dan Budaya

To Top