Connect with us

“Nyai by Accident”

Budaya

“Nyai by Accident”

“Nyai by Accident”

Catatan Mbak Nyai #1

Oleh Mustaghfiroh Rahayu*

 

Mendapati diri ini dipanggil “nyai” adalah jauh dari bayangan masa kecil saya. Meskipun dibesarkan dalam keluarga agamis, tradisi pesantren dengan kekhususannya tidak menjadi rujukan adab hidup saya sehari-hari. Memang dari kecil sekolah di madrasah dan mengaku santri, akan tetapi tidak sebagaimana kehidupan lingkungan santri yang kualami hari-hari ini. Maka, ketika tiba-tiba saya mendapat predikat “nyai”, saya belum begitu ikhlas menerima peran ini. Ini kecelakaan!

Kecelakaan ini bermula karena saya kok ya ndilalah berjodoh dengan seorang laki-laki (ganteng tentunya hehe) yang mengasuh pesantren dan memiliki santri. Dalam kamus pesantren, istri dari pemimpin/pengasuh pesantren itulah “nyai”. Tidak bisa mengelak. Duh!

Awal mendengar dipanggil “nyai” kuping saya risih. Nyai dalam perbendaharaan pengetahuan dan pengalaman saya adalah status sosial yang mulia dan hanya pantas untuk orang-orang yang mulia. Saya? Jauh dari itu. Kapasitas keilmuaan tidak memiliki, akhlak juga tidak bisa menjadi rujukan. Njuk, apa yang mau dijadikan modal?

Saya selalu menolak dipanggil “nyai” dan menjelaskan kalau saya tidak pantas dipanggil demikian. Namun, semakin saya larang, semakin banyak saja teman dan sahabat yang memanggil saya dengan “nyai” sebagai pengganti “mbak”. Gusti nyuwun pangapura… batinku.

Untungnya,  panggilan itu menempel pada saya saat NU sudah bangkit lagi, saat kampanye “Ayo Mondok” sedang digencarkan. Hah,  apa hubungannya?

Begini. Saya menikah tahun 2013. Saat itu NU sudah begitu percaya diri di ruang publik Indonesia dibandingkan masa sebelumnya. Akibatnya, tradisi-tradisi NU pun dengan percaya diri dikenalkan kepada masyarakat luas. Termasuk di dalamnya panggilan-panggilan khusus dalam tradisi NU, seperti gus, ning, kiai, dan nyai. Orang awam cukup familiar dengan sebutan-sebutan itu hingga kadang dikenakan kepada orang yang tidak pas, yang penting asal NU. Sehingga muncullah banyak gus, ning, kiai, dan nyai baru. Awalnya agak aneh, lama-lama menjadi biasa. Hingga di kalangan internal NU (terutama yang kultural) siapa saja bisa dipanggil gus, ning, kiai, dan nyai.

Hal seperti ini semakin marak setelah gerakan “Ayo Mondok” digencarkan pada tahun 2015. Saya menyebutnya proses desakralisasi panggilan khas pesantren. Dalam rapat Fatayat NU, misalnya, semua orang dipanggil “nyai” dan “ning”, itu biasa.

Saya seharusnya beruntung dipanggil “nyai” di era post truth seperti ini. Tapi tidak! Saya tidak bisa santai sebagaimana teman lain yang faktanya tidak ada santri menunggu di rumah. Kembali ke rumah, saya melihat keseluruhan prasyarat dipanggil “nyai” di mata awam ada di depan mata. Saya galau. Bagaimana caranya berdamai dengan perasaan tidak layak, akan tetapi tidak bisa ditolak ini?

Sampailah saya pada pemikiran ini. Menurut saya, ada 3 tipe nyai. Pertama, “nyai by birth” (nyai karena keturunan); mereka inilah yang sejak dalam kandungan sudah memiliki bibit sebagai nyai karena orang tua mereka sudah mengasuh pesantren. Para nyai yang seperti ini berkualitas luar biasa, karena dari kecil sudah terjaga akhlak dan keilmuannya.

Kedua, “nyai by training” (nyai karena belajar); mereka ini adalah para perempuan yang mempersiapkan dirinya untuk menjadi nyai, menjadi teladan umat. Persiapan yang mereka lakukan adalah dengan membekali diri dengan ilmu-ilmu yang dibutuhkan sebagai nyai. Jika waktu panggilan “nyai” datang, mereka siap.

Dua tipe pertama ini bisa saling tumpang tindih. Ada banyak nyai yang memiliki dua tipe sekaligus.

Sementara yang ketiga, adalah “nyai by accident” (nyai karena kecelakaan); mereka ini adalah orang-orang yang tidak pernah bermimpi menjadi nyai, akan tetapi sejarah mengharuskannya mengambil peran itu.

Di antara tiga tipe ini, saya sebenarnya tetap merasa tidak berhak menyandangnya. Karena, hayhata…hayhata dari akhlak, keilmuwan, dan keikhlasan berkhidmah yang dibutuhkan dari seorang nyai sejati di pesantren. Namun jika, panggilan “nyai” itu membahagiakan orang lain, mungkin tipe ketiga itulah maqam saya. “Nyai by accident”, lengkap, tanpa dikurangi!

Eniwe, pengalaman, renungan, cerita, dan harapan saya dalam menjalani hari-hari sebagai “nyai by accident”, insyaallah akan bisa dibaca di www.fatayatdiy.com secara berkala. Tapi tetap harus diingat, ini adalah catatan “nyai by accident, jangan berharap lebih.

 

*Mustaghfiroh Rahayu adalah Pemimpin Redaksi website fatayatdiy.com. Dosen di Departemen Sosiologi FISIPOL UGM. Bersama suaminya mengasuh Pondok Pesantren Aswaja Nusantara Mlangi Sleman.

4 Comments

4 Comments

  1. khotimatul husna

    December 11, 2018 at 9:37 pm

    Suka sekali tulisan bu nyai Ayu. Sekali nyai tetap nyai….haha

  2. lindra

    December 12, 2018 at 2:32 am

    Bu Nyai Ayu….

    • Ayu

      December 12, 2018 at 10:43 am

      Hahaha… ndak kujawab karena gak lengkap:)

  3. ghina

    December 12, 2018 at 10:58 am

    bu Nyai by accident yg menjadi panutan nih, ditunggu tulisan lainnya bu nyai..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Budaya

To Top