Connect with us

NGAJI GENDER #1 Mengapa kita perlu memiliki perspektif kesetaraan?

Kajian

NGAJI GENDER #1 Mengapa kita perlu memiliki perspektif kesetaraan?

NGAJI GENDER #1 Mengapa kita perlu memiliki perspektif kesetaraan?

Oleh Yuyun Sri Wahyuni*

Di saat saya mengisi kegiatan diskusi maupun kuliah untuk S1 dalam tema perempuan dan gender, salah satu pertanyaan mendasar yang sering kali disampaikan peserta adalah mengapa kita perlu memiliki perspektif kesetaraan ataupun keadilan gender. Banyaknya pertanyaan serupa tersebut membuat saya merenung, barangkali selama ini kita memang belum memiliki pemahaman bersama yang kita sepakati dan pupuk sebagai pondasi relasi yang harmoni antara laki-laki dan perempuan, sehingga kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat dari tidak adanya perspektif gender masih terus berlanjut.

Dalam upaya membangun pemahaman bersama dan sebagai selebrasi lanjutan hari anti kekerasan terhadap perempuan dan HAM, tulisan ini membahas penjelasan terkait gender dan perlunya kita memiliki pemahaman kesetaraan dan berkeadilan dalam memaknai perbedaan gender di masyarakat. Tujuannya adalah agar kita tidak mudah terjebak pada perilaku tidak adil gender baik terhadap perempuan maupun laki-laki. Perilaku tidak adil gender tersebut tentu saja tidak sesuai dengan nilai dan napas Islam yang sesungguhnya, yakni rahmatan lil alamin.

Tulisan ini terdiri dari tulisan bersambung yang membahas tema-tema besar berikut dengan (sangat) singkat: perbedaan gender dan jenis kelamin, konsekuensi-konsekuensi yang lahir dari pembedaan gender, teori-teori feminisme dan gender, setara dan adil (equality dan equity), gender analisis, hak perempuan adalah hak asasi manusia, dan keadilan gender dalam Islam.

 

Perbedaan Gender dan Jenis Kelamin

 

Gender is not something that one is, it is some thing that one does. An act that doing than an act of being” (Judith Buttler).

 

Gender berbeda dengan jenis kelamin. Dalam berbagai sumber, gender didefinisikan sebagai konstruk sosial maupun budaya yang terdiri atas harapan-harapan sosial terhadap laki-laki dan perempuan. Harapan-harapan sosial masyarakat terhadap perempuan dan laki-laki ini disosialisasi, diinternalisasi, dan akhirnya dienkulturasikan dalam diri dan jati diri perempuan dan laki-laki sebagai anggota kelompok masyarakat sosial. Hal ini dipelajari, diwariskan terus menerus, dan dijaga secara turun temurun. Karena merupakan sebuah hasil dari konstruk sosial ataupun konstruk budaya, konsep turunan gender bisa jadi berbeda-beda antarsatu dan lain tempat. Sebagai contoh, dalam kebudayaan tertentu, laki-laki tidak memakai rok sebagai simbol maskulinitasnya, sedangkan dalam kebudayaan lain, seperti di Scotland, pakaian tradisional laki-laki adalah berupa rok.

Gender bisa dipertukarkan dan bersifat fleksibel di mana berbagai ekspektasi sosial atas keperempuanan bisa jadi diperankan oleh laki-laki dan juga sebaliknya. Sebagai contoh, dalam masyarakat kita, tugas perempuan identik dengan tugas domestik rumah tangga seperti memasak, menyapu, menjahit, mencuci, dan menyetrika. Peran-peran domestik yang secara sosio-kultural keagamaan dilekatkan pada perempuan tersebut seharusnya tidak menjadi masalah jika dilakukan oleh laki-laki karena hal tersebut bukan hal yang melekat pada jiwa dan diri perempuan. Lain halnya dengan ‘fitrah’ yang merupakan sebuah pemberian.

Contoh sebaliknya, laki-laki selalu diidentikkan dengan kelaki-lakian. Jika menangis, laki-laki akan dipandang cengeng dan kurang kelaki-lakiannya, sehingga laki-laki dalam masyarakat kita kebanyakan akan sekuat tenaga menahan tangisnya seberat apa pun beban yang dirasakannya.

Adapun jenis kelamin, sama sekali berbeda dengan gender. Jenis kelamin adalah bawaan, pemberian, kodrat, ketentuan, dan fitrah. Secara mendasar, perempuan dan laki-laki berbeda karena memiliki alat-alat dan fungsi-fungsi produksi serta reproduksi yang jelas berbeda. Fitrah perempuan untuk haid, hamil, menyusui, dan juga melahirkan, sedangkan laki-laki tidak. Fitrah tidak dapat dipertukarkan dan tidak bersifat fleksibel.

Di kebanyakan masyarakat partriarkal, termasuk dalam masyarakat sosial kita, kedua hal ini sering kali disalahpahami sebagai satu hal yang sama. Semua atribut gender, keperempuanan ataupun kelaki-lakian dianggap merupakan fitrah yang tidak boleh diubah dan dipertukarkan. Bahwa membangun relasi dengan peran gender yang lebih fleksibel antara laki-laki dan perempuan sering kali dikaitkan dengan keberanian dalam mempertanyakan kehendak Allah SWT. Padahal sesungguhnya tidak demikian. Sebagai contoh simpel, salah seorang laki-laki dalam sebuah obrolan pernah menceritakan kegelisahannya kepada saya atas maraknya jasa laundry di lingkungan sosial sekitarnya. Ia pada akhirnya mengeluhkan perempuan yang tidak lagi menjalankan kewajiban domestiknya sendiri, mencuci dan menyetrika untuk keluarga, “perempuan sudah mulai lupa kodrat dan fitrahnya” ucapnya saat itu. Padahal jika laki-laki yang mencuci atau menyetrika, hal itu tidak mengurangi apa pun dari kelaki-lakiannya. Bahkan kelaki-lakiannya bertambah mulia karena sensitivitas sikapnya terhadap istri. Sbagaimana sudah dicontohkan oleh kanjeng nabi Muhammad, Rasulullah SAW, yang menjahit pakaian beliau sendiri (hadist).

Bersambung

 

*Yuyun Sri Wahyuni, Divisi Politik Advokasi & Hukum PW Fatayat NU DIYA, LKP3A Fatayat DIY, Pusat Studi Gender Universitas Nahdhatul Ulama (UNU) Yogyakarta, juga dosen PAI dan Pendidikan IPS di Uiversitas Negeri Yogyakarta.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: √ Ngaji Gender #2 Macam-Macam Bentuk Ketidakadilan Gender

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kajian

To Top