Catatan Lengkap Kegiatan Kemah Bocah Lintas Iman

Oleh : Nur Maulida

Karakter bangsa Indonesia yang majemuk, dengan keberagaman suku, adat, budaya, hingga agama berpotensi memunculkan intoleransi, prasangka, dan stigma. Salah satu isu sensitif yang sering memicu konflik dan kecurigaan adalah terkait perbedaan agama. Perpecahan antar kelompok yang berbeda latar belakang ini tentu saja bertentangan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu. Salah satu penyebab utama intoleransi  antar agama adalah kurangnya interaksi lintas iman dan minimnya pemahaman mengenali keberagaman agama yang ada dimasyarakat. Oleh karena itu, bangsa Indonesia sejak dini perlu dikenalkan dengan ajaran-ajaran agama-agama yang ada di Indonesia serta diberi kesempatan berinteraksi dengan penganut agama yang berbeda dengan apa yang diyakininya. Interaksi lintas iman diharapkan mampu menghilangkan stereotip negatif terhadap agama lain dan menjadi alat pemersatu bangsa.

Sadar akan pentingnya interaksi lintas iman sejak usia dini, Fatayat NU DIY bekerjasama dengan Komunitas Srili (Srikandi Lintas Iman), Garfa (Garda Fatayat NU) dan Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Kevikepan Yogyakarta untuk mengadakan program “Outbound dan Kemah Bocah Lintas Iman” di Wisma Karina KAS untuk anak-anak yang berusia 9 hingga 11 tahun. Acara ini bertujuan untuk menumbuhkan sikap toleransi dan hormat menghormati antar pemeluk agama yang berbeda dengan cara memberikan anak-anak kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan penganut agama lain dan melihat langsung tempat peribadatan agama serta mendapatkan penjelasan langsung dari pemangku masing-masing rumah ibadah.

Di hari pertama kegiatan ini, anak-anak mendapatkan kesempatan berkunjung ke Masjid Barakatussalam yang lokasinya tidak jauh dari Wisma Karina KAS dan disambut langsung dengan anak-anak TPA serta ustadzah yang mengajar TPA di Masjid tersebut. Di masjid anak-anak mendapatkan pencerahan tentang Agama Islam dan segala ajaran-ajaran yang ada di Islam. Di hari kedua anak-anak diberi kesempatan untuk melakukan ibadah, sesuai dengan keyakinan masing-masing yang berlangsung dari pukul 4.30 sampai 6.30 pagi.

Di hari yang sama setelah kegiatan keagamaan, anak-anak diperkenalkan dengan Agama Buddha  yang disampaikan langsung dari tokoh Agama Buddha  Bapak Totok, Bapak Totok yang nampaknya sudah terbiasa dengan anak-anak dengan mudah menjelaskan sejarah awal mula hadirnya agama Buddha di Indonesia hingga kepercayaan-kepercayaan yang diyakini Umat Buddha. Dalam kegiatan ini anak-anak terlihat antusias mendengarkan penjelasan Bapak Totok karena penyampaian benar-benar disampaikan dengan sederhana dan menggunakan bahasa anak-anak, dalam kesempatan itu anak-anak dipancing dengan pertanyaan “siapa di sini yang punya teman beragama Buddha?”. Dengan semangat anak-anak menjawab “ada banyak” respond-respond postif yang diperlihatkan anak-anak menggambarkan besarnya antusias anak-anak mengenal dan mempelajari Agama Buddha .

Selanjutnya anak-anak mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Gereja St. Yohanes Rasul Pringwulung yang lokasinya berada tepat di sebelah Wisma Karina KAS. Di gereja tersebut anak-anak disambut langsung oleh Romo Sapto Nugroho Pr. Romo Sapto dengan senang hati mengajak anak-anak mengelilingi gereja dan menjelaskan segala simbol, fungsi dan aturan-aturan yang ada di gereja serta anak-anak diberi kesempatan sepuasnya bertanya apapun tentang keyakinan agama katolik yang sebelumnya hanya diketahui dari keluarga, teman dan guru mereka. Pada kesempatan tersebut terlihat antusias anak-anak dari agama yang berbeda bertanya segala hal yang berkaitan tentang Agama Katolik.

Kemudian acara dilanjutkan dengan kegiatan Psikowriting, dalam kegiatan ini anak-anak dimotivasi perlahan-lahan untuk menuliskan pengalaman mereka selama mengikuti kegiatan kamping bocah lintas iman, kegiatan ini disi langsung oleh bapak Dr. Muhsin Kalida, merupakan tokoh praktisi dibidang literasi anak. Dari karya anak-anak tersebut Bapak Muhsin Kalida menginisiasi agar tulisan anak-anak menjadi reflektif anak-anak lintas iman dan akan dicetak menjadi sebuah buku karya anak bocah lintas iman.

Acara terakhir ditutup dengan outbound anak yang difasilitasi langsung oleh frater-farater Kevikepan dan kesusteran dari Katolik. Dalam kegiatan ini anak-anak diajarkan kekompakan, kerjasama dan bermain bersama tanpa melihat latar belakang agama dan kepercayaan teman-teman mereka. Setelah mengikuti kegiatan outbound dan kemah bocah lintas iman ini, anak-anak diharapkan memiliki perspektif baru terhadap keberagaman agama-agama di Indonesia dan lebih toleran terhadap saudara lintas iman sebangsa dan setanah air.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here