Connect with us

Menikmati ‘Takdir’ Perceraian karena Poligami

Kajian

Menikmati ‘Takdir’ Perceraian karena Poligami

Menikmati ‘Takdir’ Perceraian karena Poligami

Saya tergerak untuk membuat tulisan sebagai balasan tulisan berjudul ‘Indahnya Poligami untuk Siapa?’ yang diturunkan oleh website Fatayat DI Yogyakarta belum lama ini.

Tulisan yang terinspirasi dari kisah nyata ihwal poligami dan perceraian antara Teh Ria dan Kang Fahmi, selain juga ada sosok Kang Jamal. Tatkala membaca tulisan itu, saya memang penasaran. Benar saja, dada saya berdegup kencang, seperti ingin sesegera mungkin membaca tulisan itu sampai rampung. Tulisan itu memang akan mampu mengoyak emosi kita. Saya berharap ada orang yang menggubah tulisan itu ke dalam bentuk cerpen, agar lebih meleleh.

Dalam tulisan diceritakan seorang Teh Ria yang cantik dan pintar. Ia menjadi ‘bunga’ kampus, menjadi perempuan yang banyak diperbincangkan. Masih dalam tulisan itu dikatakan bahwa jangankan laki-laki, perempuan pun merasa ‘gemes’ pada Teh Ria. Kelihatannya sempurnalah begitu. Teh Ria akhirnya dekat dengan seorang laki-laki bernama Kang Jamal, keduanya dianggap sebagai pasangan dan calon pengantin yang sangat serasi. Namun entah, takdir Allah berbicara lain. Kang Jamal malah diperintahkan orang tuanya untuk melanjutkan studi S3-nya terlebih dahulu, ketimbang segera menikah. Teh Ria pun tak kuasa menunggu lama dalam ketidakpastian. Teh Ria akhirnya justru menikah dengan Kang Fahmi, laki-laki yang mulai dekat sebagai sahabat sepeninggal Kang Jamal ke luar negeri.

Tanpa dinyana, pernikahan yang awalnya bahagia itu, dilanda goncangan di tengah jalan. Teh Ria harus menelan pil pahit poligami Kang Fahmi, usut punya usut keputusan poligami Kang Fahmi itu dilandasi karena Teh Ria tak kunjung hamil dan melahirkan buah hati. Teh Ria menolak poligami dan singkat cerita, ia memilih bercerai dan kemudian terpuruk. Saat saya menulis ini di catatan hand phone, tangan saya gemetaran. Ini membuktikan karena saya ingin sekali menyampaikan pesan penguatan sebagaimana saya tulis dalam tulisan ini.

Pada fitrahnya, tak akan ada perempuan yang mau dipoligami. Kesetiaan dalam ikatan pernikahan dengan satu istri dan suami, tak bisa dibeli dengan apapun, dengan harta yang banyak sekalipun. Seperti belum lama ini saya melakukan survei kecil-kecilan, menanyai beberapa perempuan Muslimah hijabers. Mereka hampir semuanya tidak berkenan dipoligami. Bahkan banyak juga di antara mereka yang mengatakan lebih baik bercerai daripada harus menjalani poligami. Saya cukup bahagia mendapatkan jawaban dan respon yang adil seperti itu. Meskipun beberapa panutan (baca: dai-dai seleb) mereka melakukan poligami.

Saya merasa sangat perlu menurunkan tulisan ini, agar siapapun, terutama untuk Teh Ria yang mengalami perceraian karena poigami. Teh Ria tetap jaga husnuzhan kepada Allah dan berikhtiarlah sampai bisa menikmati takdir dari-Nya itu. Saya memakai istilah ‘menikmati takdir’ ini maksudnya adalah ikhtiar belajar legowo dengan takdir Allah yang memang berada di luar jangkaun ikhtiar dan doa Teh Ria sendiri. Secara pribadi, Teh Ria boleh saja menolak dipoligami, tetapi pada faktanya toh poligami tetap terjadi. Di antara mereka, termasuk Teh Ria, memang ada yang rela, rela karena terpaksa dan yang memberontak meskipun pahit. Apapun pilihan sikapnya, termasuk keputusan berpisah Teh Ria, semuanya mengandung risiko beratnya masing-masing.

Di sini saya hanya ingin menguatkan saja bahwa perempuan siapapun, terlebih Teh Ria, yang Allah takdirkan mengalami perceraian karena hendak dipoligami, padahal Teh Ria telah sekuat tenaga menolaknya, tetaplah tenang. Tak perlu terpengaruh oleh omongan banyak orang, tidak perlu gengsi dan apalagi sampai lama mengurung diri di rumah. Teh Ria yang memberontak karena dipoligami, meskipun pahit, tetap menjadi perempuan mulia dan bahkan merdeka. Tubuh dan jiwa perempuan, sepenuhnya berada dalam kendalinya sendiri dan kendali Allah Swt. Perempuan yang tegas menentukan keputusan adalah perempuan yang merdeka dan berwibawa.

Dengan begitu, mengapa Teh Ria yang mengalami perceraian karena ketegasannya menolak poligami merasa terpuruk? Mestinya bahagia. Karena itu artinya Teh Ria telah mampu membebaskan dirinya dari ketergantungan kepada suami. Perempuan atau istri tidak boleh ketergantungan kepada suami, perempuan atau istri hanya boleh bergantung kepada Allah. Maka dari itu istri harus hidup mandiri, sebelum maupun nanti setelah menikah dan berumah tangga. Kemandirian istri bukan dalam rangka menyaingi suaminya, melainkan adalah sebagai wujud rasa syukur atas nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya.

Tak kalah pentingnya adalah keberadaan kita, yang menjadi sahabat dekatnya. Merasa empati itu perlu, tetapi bukan dengan empati yang keliru. Empati itu mesti ditunjukkan dengan suport yang menguatkan. Meskipun pahit, berikhtiarlah untuk segera bangkit. Sedih boleh, tapi jangan sampai berlarut. Anggap semuanya ini sebagai cara Allah meninggikan derajat dan menghapuskan dosa-dosa Teh Ria. Jangan pernah sedikitpun terbesit untuk membalas dendam kepada mantan suami Teh Ria. Tata kembali pikiran dan hati agar senantiasa tawakal kepada Allah agar kita tidak kecewa dengan apapun takdir-Nya. Tingkatkan kuantitas dan kualitas ibadah ritual dan sosialnya, manfaatkan waktu tafakur ini untuk lebih intim bersama Allah. Bekerjalah selagi halal. Tetap percaya diri, dan yakinlah jika suatu saat keadaan dan Allah yang membuat semuanya berbalik: suami Teh Ria yang akan menyesal dan bersujud malu karena telah menyia-nyiakan kesetiaan dan kebaikan Teh Ria selama ini.

Saya mendoakan Teh Ria. Saya yakin dirimu akan kuat Teh. Ingat, Allah memberimu ujian yang dirasa olehmu berat, itu justru Allah akan memberimu bonus yang menakjubkan. Mudah-mudahan tulisan–biarpun sederhana–ini bisa sampai ke tanganmu. Mudah-mudahan juga saya dan dirimu bisa bertemu, silaturahim, saling bercanda, tertawa, sambil menikmati indahnya pemandangan dan mungkin akan lebih nikmat bila dilengkapi dengan ngeteh dam ngemil. Hehe. Semangat Teh Ria!

Wallaahu a’lam

Mamang M Haerudin (Aa)

Pesantren Daarut Tauhiid Bandung, 26 November 2018, 12.05 WIB

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kajian

To Top