Connect with us

Menikah Muda sebuah Jihad, Benarkah?

Opini

Menikah Muda sebuah Jihad, Benarkah?

oleh Rindang Farihah*

Akhir-akhir ini sering kita temui kata-kata “nikah yuk…”, “nikahin aku dong…”, “halalin aku dong…”, atau berbagai tagar dengan istilah bernuansa “… indahnya pacaran halal”.  Tagar-tagar  ini menjadi tren di kalangan anak muda, generasi masa kini yang populer sebagai generasi Z pascagenerasi milenial. Tagar-tagar di atas merupakan kampanye gerakan Indonesia Tanpa Pacaran (ITP) yang dimaknai sebuah jihad dan hijrah menuju kebaikan.  Tidak heran, sebagai sebuah gerakan yang menyasar anak muda, sangat mudah kita jumpai di media sosial foto-foto pengantin muda  disertai tagar-tagar di atas. Tentu hal ini dimaksudkan agar menginspirasi kaum muda lainnya untuk melakukan hal yang sama; ‘nikah muda’.

Pernikahan adalah ibadah yang bertujuan membentuk sebuah keluarga maslahah, sakinah mawaddah wa rahmah, dan menurunkan generasi yang saleh serta berkualitas.  Untuk itu butuh proses yang panjang dan tidak bisa diperoleh secara instan. Tidak hanya komitmen namun juga modalitas, antara lain modal ekonomi, fisik, mental, serta sosial.  Sayangnya, banyak dari calon pasangan yang akan menikah sering kali hanya bertolak pada kesiapan ekonomi semata. Mereka kurang memerhatikan pentingnya kesiapan fisik, mental, dan sosial sebagai prasyarat lain. Akibatnya ketika tiba-tiba rumah tangga menghadapi sebuah persoalan, masing-masing pasangan tidak siap. Bahkan perbedaan pendapat dalam menyelesaikan persoalan pun bisa memicu konflik dan kekerasan di antara mereka, tak jarang rumah tangga yang dibangun pun berakhir kandas.

Dari segi fisik, kesiapan tubuh perempuan misalnya, harus menjadi pertimbangan penting. Menurut ilmu kesehatan tubuh perempuan siap melakukan kerja reproduksi di usia 20 tahun ke atas, di mana rahim serta alat reproduksi lainnya sudah cukup matang dan kuat. Ketidaksiapan alat reproduksi bisa menimbulkan kerentanan-kerentanan ketika melakukan kegiatan reproduksi, misal ketika hamil akan rentan mengalami keguguran. Pada jangka waktu selanjutnya juga rentan mengidap penyakit kanker mulut rahim (kanker serviks). Jika hal tersebut terjadi maka persoalan turunan yang ditimbulkannya adalah persoalan kesehatan mental dan sosial.  Untuk itulah sangat dianjurkan menikah di atas usia 20 tahun. Selain itu, persoalan dalam rumah tangga sangatlah kompleks, tidak melulu persoalan ekonomi meskipun itu ditengarai menjadi penyebab terbesar konflik dan kekerasan dalam rumah tangga.

Apa yang terjadi pada remaja usia 20 tahun? Secara psikologis, usia 20 tahun berada dalam fase di mana mereka masih mencari jati diri dan merangkai mimpi. Mudah merasa galau sebagai akibat mulai munculnya kesadaran pada diri mereka akan tanggung jawab masa depan namun di sisi lain masih ingin bersenang-senang. Di usia mereka ini umumnya mulai tertarik membangun relasi secara intens dengan lawan jenis. Namun tak jarang, dikarenakan emosi yang masih labil dan mudah galau sering kali mereka dengan mudah memutuskan sebuah hubungan dan berganti pasangan. Konflik dalam membangun sebuah relasi adalah hal biasa namun kesiapan mental dan kemampuan membangun komunikasi juga penting agar tuntunan mu’asyarah bi al-ma’ruf dalam berumah tangga bisa diwujudkan.

Keputusan menikah juga harus mempertimbangkan kebutuhan pokok rumah tangga sebagai tuntutan hidup di jaman modern agar terhindar dari melakukan penelantaran dan eksploitasi anak.  Kesadaran pentingnya pemenuhan hak dasar yaitu kebutuhan akan kesehatan dan pendidikan sebagai pertimbangan ekonomi perlu dibangun. Pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar anak adalah wujud pemenuhan hak anak sehingga sebuah keluarga mampu menghasilkan generasi berkualitas sesuai yang diharapkan.

Pemaknaan ini tentunya jauh dengan pandangan agama ekstrem lainnya, yaitu berlomba-lomba memperbanyak anak untuk tujuan menghasilkan calon-calon tentara Allah (jundullah) dan dipersiapkan untuk berperang (mujahid), serta mengajarkan anak pada perilaku kekerasan.

Dalam kaidah fiqhiyah disebutkan la dharara wa la dhirara yang artinya ‘tidak dibolehkan melakukan perbuatan yang berbahaya dan membahayakan’. Dengan kata lain, menghindari perbuatan yang mendatangkan bahaya atau kemadharatan adalah wajib. Untuk itulah wajib hukumnya mempertimbangkan secara matang terkait risiko dan kemadharatan yang akan ditimbulkan dalam perkawinan sebagai sebuah ibadah. Misalnya, pertimbangan waktu terbaik kapan menikah, kapan ingin memiliki anak dan kapan tidak ingin punya anak dan seterusnya, melalui pemikiran dampak positif dan negatifnya. Tanpa pertimbangan demikian, sulit sebuah rumah tangga maslahah sakinah mawaddah wa rahmah bisa terbangun.  Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berakhir dengan perceraian adalah kemadharatan yang paling banyak terjadi. Dalam budaya patriarki—budaya di mana mengunggulkan laki laki, kerugian dan penderitaan sudah tentu banyak diterima isteri dan anak. Daftar kemadharatan yang lain adalah kematian ibu melahirkan, kanker mulut rahim, kematian bayi, kemiskinan, kebodohan, dan kemunduran kualitas generasi.

Berdasarkan paparan di atas, keputusan menikah harus diambil secara rasional. Bukan sebuah keputusan instan dan didasarkan pada pertimbangan menunaikan sunnah rasul semata atau pandangan ‘dari pada berzina lebih baik pacaran halal’. Sebagai sebuah pandangan agama harus dilihat kembali dan disesuaikan dengan konteks sosial saat ini. Contoh, Gus Dur sebagai seorang ulama dan intelektual Islam beserta ulama di zamannya memberikan tafsir ulang hadis yang mengatakan bahwa ‘nabi akan bangga dengan umatnya yang banyak’. Tafsir mainstream yang berkembang adalah kata ‘banyak’ dimaknai secara kuantitas, bukan kualitas. Padahal semestinya, makna kualitas lah yang harus digunakan. Selain itu, beliau dan ulama lain juga melakukan pemaknaan ulang tafsir-tafsir yang selama ini berpotensi mendiskriminasi perempuan dan melegitimasi kekerasan terhadap perempuan.  Hal ini sebagai upaya mewujudkan kehidupan manusia yang lebih baik.

Menikah adalah ibadah muammalah yang banyak bersinggungan dengan sesama manusia, bukan hanya dengan pasangan semata. Komunitas terkecil adalah penghuni rumah tangga, yaitu suami, isteri dan anak. Namun kadangkala kita juga menjumpai sebuah rumah tangga di mana terdapat orang lain misal orang tua/mertua, kerabat, pekerja rumah tangga, atau yang lainnya. Di dalam bangunan rumah tangga seperti ini, bisa jadi inilah ibadah jihad kita, mengingat berat dan kompleksnya persoalan yang dihadapi. Bagaimana kita memperlakukan mereka semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.  Semoga kita memiliki kebijaksanaan dan kekuatan mewujudkan keluarga maslahah, sakinah mawaddah wa rahmah. Amin. Wallahu ‘alam bi al-showab.

 

*Rindang Farihah, aktivis perempuan. Pengurus harian PW Fatayat NU DIY. Ketua Pusat Studi Gender Universitas Nahdhatul Ulama (UNU) Yogyakarta.

3 Comments

3 Comments

  1. Lindra

    December 13, 2018 at 6:27 am

    Keren ini!

  2. Siti Khuzaimah

    December 13, 2018 at 10:47 am

    Clear and very interesting Mbak rindang

  3. Ainul Yaqin

    December 17, 2018 at 10:10 pm

    Keren ini, inspiratif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Opini

To Top