Connect with us

Budaya

“LIYAN”

“LIYAN”

Catatan Mbak Nyai #2

Oleh Mustaghfiroh Rahayu*

Minggu kemarin, saya dan keluarga berkunjung ke Madiun, daerah bapak dan ibu saya tinggal. Kunjungan kali ini istimewa, karena ibu mertua juga turut hadir bersama kami. Mumpung ada ibu, kami bermaksud mengajak jalan-jalan agar lebih mengenal Madiun dan sekitarnya. Yang saya maksud dengan ‘sekitarnya’ adalah Ponorogo, karena kebetulan rumah orang tua kami berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo.

 

Awalnya, kami mengajak ibu untuk ngadem di Telaga Ngebel yang mulai dipercantik. Di tengah perjalanan, saya usul untuk sekalian ziarah ke makam Mbah Hasan Besari di Tegalsari (biar agak  wangun disebut #nyaibyaccident hehe). Suami menimpali, sekalian mampir menikmati dawet Jabung. Hmm,  sounds a plan!

 

Setelah cukup puas menikmati Telaga Ngebel, kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan, menuju Jabung. Jabung ini adalah daearah di Ponorogo yang terkenal dengan dawetnya. Di dalam rombongan kami ada adik ipar yang asli Ponorogo. Dia menyarankan untuk menikmati dawetnya tidak di daerah  touristic itu, tapi bergeser ke timur lagi. Saran dari orang tepercaya, maka saya iyakan saja. Meskipun akhirnya kami menikmati dawet Jabung bukan di Desa Jabung.

Dalam perjalanan menuju dawet ini, kami melewati kampus ISID (Institut Studi Islam Darussalam) Gontor yang cukup megah. Ibu sempat menanyakan gedung yang mencolok di tengah persawahan itu. Melihat ibu tertarik dengan nama Gontor, adik ipar menawarkan untuk lewat Gontor sebelum ke Tegalsari. Dan dari sinilah cerita bermula.

 

Meskipun Pesantren Darussalam ini adalah pesantren modern, ia dihukumi sama dengan pesantren-pesantren salaf (tradisional) yang lebih dikenal dengan nama daerah daripada nama pesantrennya. Di Ponorogo ada beberapa pesantren yang orang awam tidak banyak tahu nama, namun jika disebut Pesantren Mayak, Pesantren Joresan, atau Pesantren Jenes maka mereka langsung tahu, termasuk tahu rute menuju ke sana, bahkan juga tahu nama pengasuhnya.

 

Untuk menuju Pesantren Gontor ini, kami harus masuk ke gang sekitar 1 km dari jalan utama. Dari kejauhan, menara masjid yang beberapa kali menjadi lokasi syuting film itu sudah kelihatan. Semakin dekat dengan pesantren, kami melihat ada kantor pusat pesantren dengan penanda yang cukup besar di sebelah kanan jalan. Setelah itu ada bangunan semacam guest house untuk menginap wali santri yang menjenguk anaknya di sebelah kiri. Semua rapi. Agak berbeda dengan pesantren-pesantren yang biasa kami kunjungi.

 

Perbedaan semakin kelihatan ketika kami berpapasan dengan beberapa lelaki muda berambut cepak memakai celana training (semacam celana untuk olah raga) di beberapa tempat. Jika pun ada yang bersarung, mereka pasti memasukkan baju dan ikatan sarungnya, ditutup dengan ikat pinggang. Tidak banyak santri bersongkok kami lihat. Semua rapi dengan nametag  di baju mereka. Ini bukan prototype santri dalam pengalaman kami.

 

Entah karena “aura” perbedaan ini atau apa, ketika mobil memasuki gerbang pesantren ibu berseru dengan nada khawatir “Fied (menyebut nama suami), beneran iki ra popo? Mengko ndak diseneni” (Fied, beneran ini gak apa-apa? Nanti dimarahi (karena masuk pesantren ini). Kami jelaskan ke beliau bahwa kita hanya pengen lihat. Ya, anggap saja semacam study tour.

 

Suami saya cukup antusias pada waktu itu. Karena ini juga pengalaman pertamanya berkunjung ke Gontor. Dia meminta sopir untuk eksplore beberapa lokasi yang bisa diakses; halaman masjid, gedung utama, asrama lama, dan juga gedung 4 lantai yang cukup megah. Ketika memasuki gedung megah ini, ibu belum berhenti kekhawatirannya. Pertanyaan “iki ra popo?” senantiasa diulang. Dan penjelasan yang sama juga kami sampaikan. Hingga akhirnya, ibu benar-benar bertanya dengan nada takut dan mengajak kami segera beranjak dari lokasi itu.

 

Bagi saya pertanyaan “iki ra popo?” ibu ini menarik. Karena ini menunjukkan bagaimana ibu mengonstruksi “liyan/yang lain/the others”. Sebagai orang yang dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang homogen, pertanyaan ibu ini genuine. Beliau benar-benar khawatir untuk melewati batas-batas (cross the boundaries) yang sudah disediakan oleh pengalamannya; sebagai santri salaf, tinggal di daerah yang banyak pesantren salaf dengan kultur NU. Bagi ibu, lingkungan pesantren Gontor adalah “yang lain” dalam konstruksi pengetahuannya tentang pesantren. Karenanya, yang demikian itu membuat ibu kaget, khawatir, bahkan takut.

 

Siapa yang menjadi “liyan” bagi masing-masing orang sangat berbeda. Ini terkait dengan pengetahuan dan pengalaman hidupnya. Ada yang mendefinisikan “liyan” dengan kategori mayor seperti sebagai yang memiliki agama berbeda, etnis berbeda, gender berbeda, orientasi seks berbeda, aliran dalam satu agama yang berbeda, dan lain-lain. Namun ada juga orang yang cukup ‘detil’ sehingga beberapa perbedaan minor cukup membuatnya mengatakan bahwa dia adalah “liyan”, seperti terhadap orang yang memiliki ihwal berbeda, seperti gaya hidup, pilihan mode, lebar jilbab, dan hal-hal berbeda lainnya.

 

Teorinya, semakin seseorang memiliki pengetahuan dan pergaulan luas, definisi “liyan”-nya semakin menyempit. Tapi sebagaimana ungkapan jadul “ah, teori!”, sering kali fakta berbicara berbeda. Saat ini, berkat kecanggihan teknologi informasi, produksi dan reproduksi “liyan” semakin subur. Banyak “liyan-liyan” baru dilahirkan yang menjadikan kita semakin ekslusif. Sayangnya, ini juga terjadi di kalangan terpelajar.  Duh!

 

Hal lain yang manarik dari ekspresi ibu adalah ungkapan “mengko ndak diseneni” (bagaimana nanti kalo dimarahi). Ungkapan ini menunjukkan bahwa konstruksi mengenai yang lain selalu menyelipkan prasangka. Saya tidak tahu persis apa yang diprasangkakan ibu dengan ungkapan itu. Bisa jadi, sebagai orang NU, kami tidak boleh masuk wilayah pesantren Gontor. Jika benar demikian, rasanya lucu membayangkannya.

 

Eit, tapi tunggu dulu… bukankah ini jamak dalam masyarakat kita sekarang? Prasangka-prasangka yang kita produksi terkait dengan yang lain itu berderet dari yang masuk akal hingga yang di luar nalar alias lucu itu tadi. Prasangka bahwa perempuan yang pakai rok pendek pasti Islamnya buruk, kemudian kaget waktu melihat mereka sholat di musholla mall dengan membawa mukena sendiri sementara kita yang merasa muslim lebih baik masih harus mengantri. Atau prasangka yang sering beredar akhir-akhir ini bahwa Islam Nusantara adalah aliran tersendiri yang sholatnya tidak lagi menggunakan Bahasa Arab. Nggak masuk akal, eh.. lucu!

 

Prasangka-prasangka ini bisa semakin liar bersamaan dengan semakin massifnya produksi “liyan”. Ini berbahaya! Karena membuat seseorang/kelompok menjadi “liyan” sering kali mengikutkan kekerasan terhadap mereka. Tengok saja laporan-laporan kekerasan yang terjadi di Indonesia, sebagian besar karena konstruksi “liyan” ini.  Dan ini harus dihentikan!

 

Sebagai penutup catatan ini,  saya ingin bertanya kepada pembaca semua, “berapa “liyan” dalam hidupmu? Mari berhitung. Cek komentar-komentar kita di media sosial, mereka bisa jadi indikator konstruksi “liyan” kita. Ingat-ingat kembali obrolan kita dengan kolega, teman, dan keluarga, siapa saja yang sudah masuk kategori “liyan” dalam perbincangan kita. Jangan-jangan ternyata kita memiliki banyak “liyan” tanpa kita sadari.

Wallahua’lam

*Mustaghfiroh Rahayu adalah Pemimpin Redaksi website fatayatdiy.com. Dosen di Departemen Sosiologi FISIPOL UGM. Bersama suaminya mengasuh Pondok Pesantren Aswaja Nusantara Mlangi Sleman.

 

 

 

2 Comments

2 Comments

  1. Khotim

    December 28, 2018 at 4:25 am

    Mantab mbk nyai

  2. rini dh

    January 3, 2019 at 2:51 pm

    migunani tumprap liyan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Budaya

To Top