Connect with us

Kisah Perjuangan Ibu Nyai Sintho’ dalam Menghafal al-Qur’an

IHF

Kisah Perjuangan Ibu Nyai Sintho’ dalam Menghafal al-Qur’an

Kisah Perjuangan Ibu Nyai Sintho’ dalam Menghafal al-Qur’an

Beliau adalah Ibu Nyai Hj Sintho’ Nabilah Asrori, Salaman Magelang. Mushafnya tidak biasa. Dia memilih memakai mushaf Al-Qur’an per juz yang diperbesar. Dia tidak ingin satu huruf pun terlewati. Tidak seperti kebanyakan orang sekarang yang memilih memakai mushaf cantik dan minimalis. Meski menjadi sedikit repot, mushafnya selalu dibawa kemana-mana demi menjaga hafalan Al-Qur’an.

***
Sejak kecil meskipun anak perempuan, sang Ayah selalu mengajaknya menghadiri majlis simaan Al-Qur’an yang semua jamaahnya laki-laki. Berawal kecintaan (mahabbah) sang Ayah terhadap para penghafal Al-Qur’an, putri alm. KH. Asrori Ahmad ini memiliki cita-cita menjadi seorang hafidzoh. Namun cita-citanya tertunda sampai dia dewasa.

Menjadi penghafal Al-Qur’an baginya tidak mudah. Berbekal ridho suami dan kedua orang tua nya, dia mulai menghafal di usia yang tak lagi muda dan dengan segudang aktifitas. Setiap harinya dia menempuh belasan kilometer untuk sampai ke Pesantren Nurul Qur’an asuhan KH. Mastur Asy’ari Tempuran Magelang. Tiga kilometer ditempuh dengan berjalan kaki dan sisanya dengan kendaraan umum. Selama di perjalanan dia selalu mendaras. Lalu halaman per halaman disimakkan di depan Kyai nya.

Dia merasa kemampuan menghafalnya di bawah rata-rata. Sampai diikrarkannya nadzar, jika khatam Al-Qur’an dia akan berjalan kaki dari Pesantren Kyai nya sampai rumah. Hingga setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya tangis syukur mengiringi doa khotmil Qur’an. Nadzarpun dilaksanakan. Ditemani sang Ibu, Nyai Hj. Ma’munatun Kholil dia berjalan kaki dr Pesantren sampai rumah.

Dari dulu sampai sekarang Sintho’ merasa hafalan Al-Qur’an nya belum lanyah (lancar). Satu halaman dibaca tafsirnya kemudian dibaca sampai 11x hingga 41x, baru kemudian dihafal. Tentu butuh kegigihan untuk bisa istiqomah.

Saat ada undangan simaan, dia memilih membaca Al-Qur’an dengan “grothal-grathul” (terbata-bata) dan telaten disimak jika memang tidak lancar daripada membaca dengan melihat atau melirik tulisan ayat. Menurutnya bagi seorang hafidzoh membaca Al-Qur’an secara bil hifdzi (hafalan) adalah komitmen dengan Allah swt.

Keprihatinan atas dirinya sendiri menjadikannya prihatin terhadap para hafidzoh di daerahnya yang notabene hanya ibu rumah tangga biasa. Mereka tidak mempunyai kegiatan yang mendukung hafalan Al-Qur’an, seperti pesantren, majlis simaan atau pun undangan simaan. Untuk itu, Sintho’ dengan dukungan sesepuh NU setempat membuat jam’iyah (organisasi) para hafidzoh itu dengan tujuan bersama-sama menjaga hafalan Al-Qur’an. Yang belum lancar menjadi lancar dan yang sudah lancar “ngemong” (membimbing) yang belum lancar.

Awalnya tidak banyak yang bertahan mengikuti kegiatan jam’iyah ini. Sebagian mereka yang sudah lancar memilih meninggalkan jam’iyah karena sedikitnya ayat yang dibaca dan banyaknya anggota yang tidak lancar hafalannya. Tidak sedikit pula yang meremehkan jam’iyah ini.

Istiqomah memang melebihi seribu karomah. Jam’iyah simaan Al-Qur’an sederhana ini semakin banyak diminati. Hafidzoh yang merasa belum lancar hafalannya , tidak takut dan tidak malu untuk memperbaiki hafalan. Di dalam organisasi ini ada ketelatenan, kebersahajaan dan rasa kasih sayang.

“Menghafal Al-Qur’an itu mudah, yang sulit menjaga dan apalagi mengamalkannya”. Meskipun lebih sebagai pernyataan dirinya, kalimat yang sering diucapkan Sintho’ ini menjadi pesan bagi para penghafal Al-Qur’an.

****

(Penulis: Neng Ulya Izzati, putri Ibu Nyai Sintho’)

1 Comment

1 Comment

  1. Rini Dwi Hastuti

    November 14, 2018 at 11:46 am

    beliau guru yg sangat perhatian terhadap semua santrinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in IHF

To Top