Connect with us

Ini Nasehat Gus Dur untuk Penyanyi Dangdut Kondang

gus dur

Opini

Ini Nasehat Gus Dur untuk Penyanyi Dangdut Kondang

Ini Nasehat Gus Dur untuk Penyanyi Dangdut Kondang

Hampir lebih dari lima belas menit kami menunggu pedangdut Inul Daratista betul-betul berhenti menangis. Di depan kami, ia sesenggukan. Disekanya berkali-kali mata dan pipinya yang malam itu tak dipoles dandanan.

Saya dan beberapa teman dari Wahid Institute mewawancarai Inul di rumahnya yang jembar di Pondok Indah. Kami ingin tahu bagaimana pengalamannya bertemu dan berinteraksi dengan Gus Dur. Peristiwanya terjadi pada 2010, beberapa bulan setelah Gus Dur meninggal.

Salah satu yang ia kisahkan tentang kasusnya dengan Bang Haji. Ya, Bang Haji Rhoma Irama, si Raja Dangdut. Tokoh asal Tasik ini murka pada Inul. Goyangan Inul bikin wajah dangdut ternodai, nista, tercabik-cabik, dan bagaikan dihempaskan begitu saja ke dalam comberan. Tentu kalimat terakhir itu bukan plek kalimat Bang Haji. Itu kalimat saya agar ada efek kejut.

“Nanti saya bilang ke Bang Haji. Ada yang nggak benar,” kata Gus Dur menenangkan Inul. Pada akhirnya Gus Dur, Inul, dan Bang Haji bertemu di gedung PBNU. Kata yang datang, suasana sempat tegang. Tapi setelah itu cair.

Tapi Inul juga bilang, meski tak setuju dan marah karena sikap Bang Haji, Gus Dur tak pernah menjelek-jelekan Bang Haji. Dari awal hingga Gus Dur meninggal, setahu saya Gus Dur selalu memanggilnya Bang Haji.

Apa yang membuat Inul bersedih karena Gus Dur sudah seperti bapaknya sendiri. Dalam sebuah perjalanan bersama Gus Dur, Inul sempat dinasihati yang intinya begini. Ia jangan hanya menyanyi lagu dangdut saja. Tapi buatlah lagu kasidah. “Sekali-kali, kon kan turunane wong Muslim taat (sekali-kali, Kamu kan keturunan orang muslim taat),” kata Gus Dur. Di tengah-tengah wawancara, Inul lalu menunjukan satu kaset dalam sebuah almari di belakangnya. “Itu album kasidah saya,” kata Inul.

Selain itu, Inul juga diminta Gus Dur menabung; menabung uang, menabung ilmu. “Kamu di Jakarta ini kan pendatang. Yang mbelain kamu saat kamu Berjaya mungkin ada. Saat kamu sudah tidak berjaya lagi, nggak ada yang nulungi ya kamu harus siap-siap”. Setelah ngomong itu, Inul menangis lagi.

Kisah ini ditulis panjang lebar oleh Wiwit Rahman dalam buku yang kami sunting bersama: Gus! Sketsa seorang Guru Bangsa.

Bogor, 6 Desember 2017

(Akhmad Musta’in, Jakarta)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Opini

To Top