Connect with us

Indahnya poligami untuk siapa?

Cerita

Indahnya poligami untuk siapa?

Indahnya poligami untuk siapa?

Ini adalah kisah nyata bukan fiksi, kisah yang membuatku merenung cukup lama, dan menangisi luka seorang perempuan cantik. Kabar perceraian Ria (nama samaran) membuat saya mengingat sosoknya 20 tahun lalu.

Saya mengenal Ria sebagai adik angkatan di fakultas dulu di salah satu Universitas Islam Negri. Ria memang kembang kampus pada masanya. Jangankan laki laki, saya saja yang perempuan kalau melihat Ria udah ‘gemes’ banget. Ria itu tidak hanya imut, cantik, menarik tapi juga sangat baik hati. Magnet Ria pun menarik tidak hanya di angkatan fakultas kami, tapi hampir di seluruh fakultas. Nama fakultas kami jadi harum karena ada Ria.

Cerita kisah cinta Ria pun seolah menjadi konsumsi publik karena begitu tingginya animo publik tentang Ria hingga hal privasinya itu jadi selalu menarik buat dikepoin.

Ria waktu itu yang saya tau menjalin kisah cinta dengan sebutlah Jamal. Type cowok ganteng pinter. Wah, saya melihat mereka sangat pas banget, mereka cocok dan bahkan aku berdoa mereka semoga berjodoh.

Singkat cerita karena saya lulus lebih dulu yang saya tau kisah Ria dengan Jamal ternyata harus bubar karena Jamal harus pergi ke Madinah dan gak janji bisa kapan pulang karena orang tuanya meminta dia kuliah di sana hingga S3 (bisa kebayang berapa tahun Ria harus menunggu).

Jamal juga dilarang berpacaran karena khawatir tidak selesai kuliahnya. Akhirnya Ria harus patah hati. Di saat itu yang saya tau Jamal memiliki sahabat sebut saja Fahmi. Fahmi lah yang intens nemenin kedukaan Ria selepas ditinggal Jamal. Sampai di situ saya lalu lama tidak berjumpa Ria. Tidak juga kontak meski lewat medsos.

Beberapa waktu kemudian Fahmi memberi kabar bahwa mereka menikah.

“Mbak aku nikah sama Ria, aku sekarang lagi nerusin S2, doakan ya mba’” Begitu pesan Fahmi beberapa tahun lalu.

Cerita rumah tangga Ria Fahmi lebih banyak aku tau lewat akun media sosial Fahmi. Hubungan mereka terlihat baik baik saja. Dan itu cukup membuat aku bersyukur.

Kemudian beberapa saat lalu, aku menerima kabar tentang Ria. Kabar yang sangat mengejutkanku. Ria ternyata baru saja cerai dengan Fahmi. Alasan perceraiannya adalah karena Fahmi memilih poligami. Tidak sampai di situ, pilihan poligami Fahmi membawa Ria untuk kembali pulang ke rumah orang tuanya.

 

Memang setahuku, sudah beberapa tahun menikah, Ria dan Fahmi belum kunjung mendapatkan keturunan. Entah apakah alasan itu yang mendorong Fahmi poligami, tapi apapun alasannya Fahmi tidak setia lagi.

Sampai di sini kembali dalam hati berbisik, indahnya poligami itu dimana? benarkah poligami Rasulullah SAW seperti ini? mencampakkan istri pertama yang sudah sekian lama menemani susah payah suaminya berkarir, ketika sukses suami merasa berhak menikah lagi dengan alasan sunnah rasul.

Tiba tiba saya merasakan betapa nelongsonya Ria, Dia sendirian sekarang, terpuruk ditinggalkan Fahmi untuk perempuan lain.

Tragisnya, Ria tidak diberikan apa apa, dia hanya bisa pulang ke rumah orang tuanya dengan tangan kosong dan hati yang luka.

Pertanyaan yang mengusik hatiku, jika kita diingatkan katanya poligami adalah salah satu sunnah rosul, tapi pernahkah Rosulullah memulangkan istrinya yang pertama tanpa harta sedikitpun, dan memilih menikahi perempuan lain yang lebih cantik, lebih kaya?

Pernahkah gambaran poligami Rasul yang itu menjadikan istri pertamanya tanpa akses kemana mana, tanpa support nafkah yang memadai?

Sampai di sini, dengan hati bergemuruh, tak tahan sebenarnya air mata ini untuk tidak meleleh. Lalu yang terbersit dalam hati, jika Rasulullah masih ada saat ini, rasanya ingin saya mengadu kepadanya dan konfirmasi apakah poligami seperti ini yang kau contohkan? Tegakah Rasulullah melihat salah satu ummatnya (yang diwakili oleh Ria) yang menderita karena pilihan poligami suaminya?

Bisakah kita jawab bahwa setia itu hanya pada satu pasangan selamanya? Suka duka dilalui bersama, saling melengkapi saling memahami dan saling mendorong pasangan untuk menuju Ridho Allah SWT, saling beranji untuk tidak menyakiti satu sama lainnya.

Semoga kisah ini menjadi renungan bersama.

Penulis:

Daan Dini Khairunida.
Ibu rumah tangga dengan 2 putri fidelya dan Elysia yang nyambi jadi direktur yayasan amal aminhayati, pengelola TBM aminhayati Library and Learning Community, TK-TPQ aminhayati educares dan dosen di STAI Haji Agus Salim. Lahir 08 maret 1979 dan lulus kuliah dari UIN ciputat lanjut master di melbourne University Australia. Daan kini tinggal si Cikarang Bekasi Jawa Barat

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Cerita

  • Hilda Hilda

    Budaya

    Hilda (dua puluh)

    By

    Kebimbangan “Kamu pulang ke Jepara kapan?” tanya Wafa. “Belum tau mas, kalau jadwalnya besok siang baru...

  • Hilda Hilda

    Budaya

    Hilda (Sembilan Belas)

    By

    Takdir Berkata Iya Hilda mendengar bahwa Wafa sudah pulang beberapa hari lalu, dia mendengar kesedihan Andin...

  • Hilda Hilda

    Budaya

    Hilda (Delapan Belas)

    By

    Keraguan “Besok kamu harus pulang lhe,” Suara ibu memecah pikiranku. “Wafa akan pulang hari Rabu ya...

  • Hilda Hilda

    Budaya

    Hilda (tujuh belas)

    By

    Senyum Hilda Pagi ini pondok terasa sepi, lantaran banyak yang sudah berangkat ke sekolah dan kuliah...

  • Hilda Hilda

    Budaya

    Hilda (enam belas)

    By

    Aku Rindang, orang yang selalu ingin berterima kasih kepada dua perempuan yang telah memberikan banyak pelajaran...

To Top