Connect with us

Hilda (tujuh belas)

Hilda

Budaya

Hilda (tujuh belas)

Hilda (tujuh belas)

Senyum Hilda

Pagi ini pondok terasa sepi, lantaran banyak yang sudah berangkat ke sekolah dan kuliah pagi. Hilda yang biasanya ada jadwal kuliah pagi tetap berada di biliknya, lantaran dosennya sedang keluar kota. Hilda kembali  menyendiri di biliknya. Dia menghela nafas dan mengingat sebuah percakapan Maulana Rumi dengan putrinya, Kimya.

“Aku tahu Kimya, kenangan masa lalu adalah tukang sihir licik yang sangat tangguh. Jika kau tidak hati-hati, dia akan membujukmu untuk kembali ke masa lalu dan dia akan mereguk air murni kehidupanmu sendiri. Lantas, kau akan mendapati dirimu begitu hampa ditemani kabut mimpi yang melenakan.”

Seperti juga Kimya, Hilda pun menggigil membayangkan sang penyihir yang mencoba merenggut sari pati kehidupannya dengat cakar-cakar yang tajam dan mungkin saja dengan tongkat ajaibnya yang usang.

Dia memejamkan matanya, memohon kekuatan pada Allah SWT untuk bisa melupakan masa lalunya. Seperti biasa, Hilda kemudian mengalihkan pikirannya dengan membaca, baginya membaca buku atau kitab adalah obat yang ampuh untuk melupakan masa lalunya.

“Mba Hilda… ditimbali Ummi,” panggil Asiyah dari kejauhan.

Segera Hilda meletakkan bukunya dan menuju ndalem.

“Mbak, Ummi teng pundi?” tanya Hilda pada mbak ndalem yang sedang memasak di dapur.

“Di ruang tamu, masuk saja! Kamu sudah di tunggu.”

Hilda melihat Wafa berjalan ke arahnya sambil memainkan hp-nya, Hilda mencoba menghindar saat tiba-tiba Wafa berjalan cepat dan tanpa sengaja hampir menabraknya.

“Eh, maaf mbak, maaf saya buru-buru dan tidak… sengaja,” kata Wafa yang kemudian kaget melihat siapa yang akan ditabraknya.

“Njeh, tidak apa-apa… nyuwun sewu,” kata Hilda sambil berlalu meninggalkan Wafa yang beberapa saat tidak memalingkan pandangannya dari Hilda.

Hilda memasuki ruang tamu, “assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumussalam, sini nduk.”

Ibu nyai melambaikan tangan dan menyuruh Hilda masuk,

“Sini, duduk sini.”

Hilda mematuhi apa yang disampaikan Ibu Nyai.

“Wonten dawuh nopo Ummi?”

“Kamu tidak ada jam kuliah hari ini?” tanya Ummi.

“Pagi ini tidak ada, tapi mangke sonten ada,” jawabnya.

“Syukurlah kalau begitu, ummi mau minta tolong sama kamu. Kata Mbak Amirah, kamu bisa bahasa Isyarat?” tanya Ibu nyai.

“Belum lancar mi, hanya sedikit dan masih perlu belajar,” jawab Hilda.

“Nah, ini sebentar lagi mau ada tamu, dia teman ummi dari Pati, cucunya tidak bisa mendengar, cucunya ini kadang manja dan susah diatur. Temenku ini baru saja telpon dan cucunya mau dibawa ke sini, mau mondok sekitar semingguan, untuk melatih kemandiriannya. Kamu bisa bantu?” pinta bu nyai.

“InsyaAllah, semampu saya ummi,” jawab Hilda yang tidak pernah menolak permintaan  bu nyainya.

“Ya, tentu saja nduk, saya berharap cucu teman saya ini bisa belajar dengan baik di sini. Syukurlah ada kamu yang bisa bahasa isyarat.”

“Ngapunten ummi… tapi saya masih terbatas kemampuannya. Sudah beberapa lama ini saya tidak latihan, karena teman yang melatih saya kebetulan lagi banyak kegiatan.”

“Ndak apa-apa nduk… nanti baru mau lihat-lihat pondok dulu, kalau anaknnya mau, baru di tinggal.”

Hilda mengangguk.

“Ngapunten ummi… sambil menunggu boleh Hilda mijit kaki ummi?”

Ibu nyai pun tersenyum, memahami kebiasaan Hilda yang gemar memijit kakinya. Hilda selalu datang pertama ke kamarnya jika mendengar dirinya tidak enak badan dan menawarkan untuk memijitnya. Kemudian Hilda akan melayangkan pertanyaan-pertanyaan yang memang sedang dia pikirkan.

“Hilda boleh tanya mi?”

Bu nyai kembali tersenyum dan mengangguk karena sudah tahu kalau santrinya yang satu ini memiliki kebiasaan penasaran dan tidak mau melewatkan momen bersamanya.

“Ummi, saya sudah lama penasaran dengan hal ini, dan kebetulan tamu yang akan datang ada yang disabilitas rungu, saya jadi ingat pertanyaan ini. Ehmm… begini ummi, ketika sholat jumat dan sholat Ied, bukankah mendengarkan khutbah itu menjadi bagian dari rukunnya sholat. Lantas bagaimana dengan saudara-saudara kita yang tuna rungu? apakah menjadi pengeculian atau bagaimana?”

“Wah, pertanyaan seperti ini harusnnya kamu tanyakan ke Gus Imam,” kata bu nyai sambil melirik Hilda. Hilda menunduk khawatir bu nyai tidak berkenan menjawab.

“Tapi coba aku jawab ya nduk, nanti kalau kurang jelas kamu bisa tanya Gus Imam.”

Hilda pun tersenyum.

“Njeh ummi…”

“Jadi, untuk orang-orang yang tidak bisa mendengar khutbah sholat  jumat atau sholat Ied seperti posisinya jauh dari khotib yang tidak menggunakan pengeras suara, atau dia seorang disabilitas rungu, yang mana mereka tidak bisa mendengarkan khutbah tersebut, ya mereka tidak dikenai hukum apapun. Namun penjelasan dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, an-Nawawi mengatakan, Amma man la yasma’uha libu’dihi minal imami fafihi thariqoni lil khurrosani,  yakni pendapat pertama, makmum yang tidak bisa mendengar khutbah maka dia boleh berbicara apapun. Pendapat kedua, yang ditegaskan as-Syafi’i dan  menjadi pendapat mayoritas ulama Iraq dan lainnya, bahwa di sana ada dua pendekatan, yakni jika kita mengatakan boleh berbicara apapun, maka dianjurkan baginya untuk sibuk dengan membaca al-Qur’an dan dzikir. Selanjutnya, jika kita mengatakan, dia tidak boleh berbicara dengan kalam adamiyin atau obrolan manusia, maka dia punya dua pilihan, antara diam dan membaca al-Qur’an atau dzikir.”

Hilda mengangguk memahami penjelasan bu nyai.

“Berarti dari penjelasan ummi, bagi mereka disabilitas rungu, khutbah tidak masuk bagian dari sholat tersebut?ehmm… maksud saya tidak apa-apa tidak mendengarkan isi khutbah tersebut?”

“Mereka tuna rungu kan tidak bisa mendengar nduk? Bagaimana mereka wajib mendengarkan khutbahnya? Tapi ya itu tadi bisa menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an atau dzikir atau lainnya, tidak ngobrol atau hanya diam saja,”tambah bu nyai.

“Tapi Ummi, mendapatkan materi khutbah juga hak dari mereka. Apa tidak ada cara lain untuk mereka juga bisa mendapatkan materi khutbah yang mungkin bisa bermanfaat bagi mereka,” tanya Hilda yang disertai senyum bu nyai.

“Lantas, menurut Hilda bagaimana?” tanya bu nyai yang juga ingin mengetahui apa yang sebenarnya dalam pikiran Hilda.

Ngapunten ummi, menurut Hilda, dalam kasus demikian, sebaiknya takmir masjid perlu menyediakan fasilitas interpreter, seperti seorang interpreter bahasa isyarat yang menerjemahkan materi khutbah saat khutbah berlangsung. Atau bisa juga takmir masjid menyediakan runningtext yang menampilkan materi dari khotib,” jelas Hilda.

“Nah, ide yang bagus itu nduk, coba kamu usul ke Gus Imam, siapa tahu bisa menjadi pembahasan dalam musyawaroh keagamaan selanjutnya.”

Hilda mengangguk, “njeh ummi.”

“Ngomong-ngomong ummi jadi berpikir nih, sepertinya dalam kasus ini lembaga pendidikan seperti pesantren tidak boleh mengabaikannya. Contohnya sekarang ini, jika cucu teman ummi benar mau mondok di sini dan kamu dan semuanya tidak ada yang bisa bahasa isyarat, bagaimana ummi akan menerima dia? pasti ummi kebingungan bagaimana menolaknya, karena khawatir kita tidak bisa memberikan pendidikan yang baik buat santri tersebut, iya kan nduk?” tanya ummi pada Hilda. Hilda pun mengangguk berkali-kali sambil membenarkan apa yang disampaikan ummi.

Tak lama kemudian, tamu datang dan bu nyai menyambut mereka. Bu nyai juga mengenalkan Hilda kepada para tamunya.

Beberapa tamu tersebut ada seorang anak kecil, mungkin usianya sembilan tahun yang selalu diam menundukkan mukanya. Hilda cukup lama memperhatikan anak tersebut.

Seorang ibu seusia bu nyai mengenalkan anak kecil tersebut sebagai cucunya, bahwa dialah yang butuh bantuan untuk belajar mandiri. Hilda mencoba tersenyum kepada gadis kecil yang imut itu, dia berusaha untuk membuatnya nyaman.

Obrolan pun berlangsung dari obrolan kangen-kangenan masa lalu, sampai rencana untuk meninggalkan cucunya beberapa hari di pondok ini.

“Aku beneran nyuwun tulung ya mbak…. Rana ini sebenarnya ketika kecil dia tidak memiliki gangguan apapun, normal semua, tapi kemudian pada usia dua tahun dia dan ibunya mengalami kecelakaan. Ibunya meninggal dalam kecelakaan tersebut dan pendengaran bagian dalam cucuku ini terluka, hingga akhirnya tidak bisa mendengar,” jelasnya. Bu nyai dan Hilda terlihat ngeri mendengar cerita itu.

Hilda meminta izin untuk mengajak anak tersebut keliling pondok.

“Ummi dan ibu mohon maaf bolehkah saya mengajak adek ini untuk jalan-jalan keliling pesantren?” pinta Hilda.

“Boleh banget mba.” Ibu tersebut menyentuh cucunya dan menunjuk-nunjuk Hilda.

Anak itu masih terdiam sambil menatap Hilda.

“Hilda melambaikan tangan kanannya memberikan isyarat untuk mengajaknya jalan-jalan. Anak itu mengangguk dan berdiri menghampiri Hilda. Mereka pun meninggalkan ruang tamu.

“Baiklah, pertama aku akan mengajakmu melihat bilik pondok,” kata Hilda.

Anak tersebut menarik tangan Hilda, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi dia sedikit ragu.

Hilda membungkukkan badannya,

“Ada apa? Oh ya namamu siapa?” tanya Hilda, anak itu masih diam.

Kemudian Hilda mengulang pertanyaan dengan menggerakkan tangan kanannya seperti sedang menulis di telapak tangan kirinya, lalu menunjuk ke arah anak tersebut dan menggerakkan jempol kanannya seolah menarik dari bawah dagunya.

“Rana, itu namamu? R-A-N-A” Hilda melanjutkan gerakan tangannya seperti memetikkan jari jempolnya, kemudian Hilda membuat segitiga dari tangan kanan dan kirinya, lalu mengacungkan dua jari kanannya dan menempelkan pada telapak jari kirinya, dan kembali Hilda membuat segitiga dari kedua tangannya.

Anak tersebut mengangguk. Hilda tersenyum.

“Perkenalkan nama saya Hilda, H-I-L-D-A,” kembali Hilda menggerakkan tangannya dan anak tersebut kembali mengangguk.

“Kita mau kemana?” tanya Rana kepada Hilda menggunakan bahasa isyarat.

“Kita akan berkeliling tempat ini, kamu akan menyukainya,” kata Hilda disertai dengan bahasa isyarat.

Hilda pun kemudian mengajaknya berkeliling pondok, sesekali Hilda mengajak bicara dengan Bisindo atau bahasa isyarat Indonesia yang ia kuasai, sekedar pertanyaan-pertanyaan ringan. Karena Hilda juga khawatir salah dalam memperagakan Bisindonya.

Hilda sempat heran, tadi kata neneknya, anak ini kesulitasn dalam bahasa isyarat, tapi sejauh ini dia sangat bagus menangkap apa yang Hilda katakan. Kemudian setelah semua lokasi pondok dihampiri mereka, Hilda mengajak Rana menuju sungai belakang pondok. Dia ingin mencoba membuat Rana nyaman sehingga Rana bisa menerima Hilda dengan baik.

“Dek Rana sudah pintar menggunakan bisindo,” kata Hilda disertai bahasa isyarat.

“Iya, aku sudah bisa bisindo,” kata Rana dengan menggunakan bahasa isyarat.

Hilda mulai penasaran, dia mengajak Rana ngobrol dengan bahasa isyarat, dia ingin tahu mengapa neneknya bilang Rana anak yang tidak mandiri dan sulit menggunakan bahasa isyarat, padahal Hilda merasa anak ini cerdas.

“Lantas kenapa nenekmu berkata, kalau kamu sulit menggunakan bahasa isyarat?”

“Nenek yang tidak bisa bahasa isyarat. Aku berusaha keras belajar bisindo, aku ingin mereka tahu apa yang ku inginkan, akan tetapi mereka tidak pernah tahu apa yang aku katakan. Mereka tidak paham. Percuma aku belajar bisindo kalau semua orang yang di rumahku tidak mau belajar bisindo juga,” katanya dengan wajah sendu.

Hilda mengangguk paham dengan masalah ini, kini Hilda tahu bahwa sebenarnya keluarga Rana kurang peduli dengan apa yang diinginkan Rana. Mereka menyuruh Rana belajar bisindo tapi mereka juga tidak ikut mempelajari bisindo.

“Lantas, Rana berkomunikasi dengan keluarga menggunakan apa? Jika mereka tidak bisa bisindo?”

“Aku menuliskannya di kertas.” Katanya.

“Keluarga Rana tidak ada yang bisa bisindo?” tanya Hilda lagi.

“Hanya ayah yang bisa, ayah juga yang mengajariku baca tulis.”

“Wah ayah Rana hebat ya? Harusnya nenek minta diajari ayah,” lanjut Hilda.

“Tidak mungkin, sekarang ayah Rana sudah tidak tinggal bersama Rana.”

Hilda terkejut, “Ayah Rana kemana?” tanya Hilda.

“Ayah menikah lagi setahun yang lalu dan tidak mengajakku tinggal bersamanya. Meninggalkan aku sendiri.”

Hilda semakin terkejut segera Hilda mengepalkan tangan kanannya dan menempelkan ke dada kemudian memutar searah jarum jam, “maaf,” katanya.

Rana mengangguk dan menyisyaratkan bahwa dia baik-baik saja. Hilda tersenyum, senyuman Hilda dibalas senyuman oleh Rana. Sepertinya Rana sudah merasa nyaman berbicara dengan Hilda.

“Setelah ayah menikah lagi, aku sedih dan tidak mau berangkat sekolah. Nenek bingung dan mengajak Rana ke sini,” kata Rana. Hilda mengangguk kembali.

“Rana punya cita-cita?”

Rana mengangguk dan menggerakkan tangannya menunjukkan isyarat profesi seorang dokter.

“Wah, hebat cita-citamu menjadi dokter.”

Wajah Rana kembali murung, dia menggerakkan tangan dan badannya seperti orang putus asa.

“Rana tidak boleh berpikir seperti itu. Aku yakin kalau Rana mau belajar mandiri dan tekun, Insyaallah cita-cita Rana akan tercapai.”

Rana menatap Hilda dengan tatapan penuh harap. Hilda menangkap tatapan ini adalah tatapan kesepian. Seorang anak yang tuna rungu yang tidak mendapatkan kasih sayang ayah dan ibunya. Tiba-tiba Hilda mengingat Kareem, namun Hilda yakin walaupun dia tidak bersama Kareem, tapi neneknya adalah nenek terbaik yang akan menjaga Kareem dengan baik.

“Rana, besok kalau Rana jadi tinggal di sini, aku akan mengajak Rana nonton film bagus. Judulnya Helen Keller, seorang gadis kecil yang punya kekurangan tapi dia semangat untuk belajar.” Rana mengangguk yakin, terlihat dari wajahnya, dia ingin tinggal beberapa hari di podok.

Rana terlihat bahagia. Hilda pun tersenyum melihat senyum Rana. Entah mengapa kebahagiaan bersama Rana membuat Hilda mampu melupakan masa lalunya yang seperti tukang sihir, yang kerap mengganggunya.

Rana dan Hilda kemudian melempar pandangan pada indahnya pemandangan sungai dan sawah. Matahari semakin naik ke atas, suasana mulai hangat.

Tanpa mereka sadari beberapa meter dari tempat mereka duduk, ada sosok laki-laki  yang memandangi Hilda dari jauh. Laki-laki tersebut tersenyum ketika melihat senyum Hilda.

“Hilda… kau tersenyum, senyumanmu mampu menjadi penawar hati ini….. Hilda, bagaimana mungkin aku bisa dengan tenang pergi jauh, entah apa yang akan terjadi nanti, akankah aku bisa mengatakan perasaan ini sebelum aku pergi?” bisik Wafa yang kemudian pergi meninggalkan Rana dan Hilda yang masih menikmati sungai jernih.

(bersambung)

*Oleh: Muyassaroh H, asal Panguragan Cirebon. Saat ini menetap di Wonocatur Baguntapan Bantul. Bersama keluarga kecilnya Ia menemani anak-anak di TPA Masjid Az-Zahrotun.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Budaya

To Top