Connect with us

Hilda (Tiga Belas)

Hilda

Budaya

Hilda (Tiga Belas)

Hilda (Tiga Belas)

(episode 13)

Hujan semakin deras, membuat penglihatan Wafa terbatas sehingga mobil melaju pelan.

“Dari mana tadi?” tanya Wafa memecah hening di antara mereka.

“Kampus,” jawab Hilda singkat.

“Memang hari Minggu ada kuliah?”

“Saya ada pelatihan menulis.”

Wafa terdiam mendengar jawaban Hilda dan mencuri pandang di kaca spion depan, dia melihat Hilda dengan jilbab ungunya menunduk dan terlihat menahan dingin. Segera Wafa mengecilkan AC mobilnya.

“Suka menulis juga?”

“ehm… belum, saya masih belajar.”

Hilda memandang jok yang diduduki Wafa, mengingat kembali karena Wafa, dia mengikuti pelatihan ini. Kemudian kembali menundukkan kepalanya.

Mobil berhenti di halaman belakang pesantren, di mana biasa menjadi tempat parkir mobil keluarga.

“Terima kasih.”

Hilda segera membuka pintu.

“Tunggu, jangan lupa segera hangatkan diri, bila perlu minum jamu supaya tidak masuk angin.”

Hilda hanya menganggukkan kepala dan segera keluar dari mobil.

Beberapa santri melihat Hilda keluar dari mobil Wafa yang kemudian menyimpan rasa penasaran, bahkan Andin yang melihat langsung kejadian itu sudah tidak sabar ingin mendengar penjelasan Hilda.

Sepertinya hujan sore ini akan berlangsung hingga larut, langit tak kunjung menampakkan bulan dan bintangnya, padahal saat ini adalah malam purnama. Hilda menata rak bukunya yang sudah dua minggu berlalu belum sempat dia tata ulang. Pikirannya selalu melayang pada sosok Wafa yang sama sekali tidak pernah terlintas akan berada sedekat itu dengan seorang laki-laki.

“Da,” panggil Andin.

Hilda menghentikan tangannya yang sedari tadi sibuk menata buku-bukunya, dia kemudian duduk dan menatap sahabatnya.

“Andin, kamu jangan salah sangka ya. Sepedaku bocor, dan karena sudah menjelang magrib aku harus segera sampai pondok, saat aku berlari menuju pondok, tiba-tiba ada mobil Mas Wafa berhenti dan memberi tumpangan. Aku bingung mau menolak atau tidak, kondisi saat itu tidak memungkinkan aku berfikir lama.”

“Hilda,… “

“Aku juga sempat berpikir, jika sampai pondok dan kamu lihat kami berdua satu mobil, bagaimana perasaanmu,”

“Hilda, dengerin aku dulu.”

Hilda terdiam dan menatap Andin dengan wajah seolah penuh penyesalan.

“Kamu kenapa? Maksudku, kenapa kamu merasa bersalah? Aku bukan siapa-siapanya Mas Wafa. Aku juga yakin seandainya saat itu aku yang hujan-hujanan dan ketemu Mas Wafa, pasti aku juga akan diberi tumpangan.”

Hilda menarik nafas lega.

“Aku takut kamu marah,”

“Hahahahaha…. Ada-ada aja kamu. Kita di pesantren ini diajarkan husnudzon sama siapapun, dan bu nyai selalu mendidik kita dengan akhlak mulia, bukan yang sedikit-dikit benci, marah, cemburu, haha..”

Melihat senyum khas Andin, Hilda semakin lega dan dia memeluk sahabatnya itu.

“Sunggu Ndin, aku tadi takut kamu marah. Terima kasih Ndin, lagian aku tidak mungkin bisa mencintai bahkan dicintai seseorang.”

Andin melepas pelukan Hilda.

“Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi. Kamu sangat layak mencintai seseorang dan sangat layak pula dicintai.”

“Tak ada laki-laki yang mau mencitai perempuan sepertiku.”

Andin kembali memeluk sahabantnya.

“Hanya laki-laki bodoh yang tidak mau mencintaimu. Siapapun laki-laki yang kau cintai dan dia mencintaimu akan aku dukung sepenuh hati,” kata Andin dan kembali memeluk sahabat terbaiknya.

“Oh ya, besok aku gak bisa nemenin ke toko buku seperti biasa, gak papa ya?”

“Kenapa?” tanya Hilda.

“Aku ada kerja kelompok, gak papa ya, bulan depan pasti ku temenin lagi.”

Hilda mengangguk dengan senyumannya.

“Sini, tak bantuin nata bukumu yang makin lama, makin banyak. Ini dah gak muat ditaruh di rak, kudu diungsikan di perpus, hehe…”

Kata-kata Andin menenangkan perasaan Hilda yang sempat dilanda kebingungan.

***

Bis melaju kencang menuju kota Jepara, di mana Hilda akan membeli  buku di toko langganannya. Rutin setiap bulan dari tabungannya dia selalu membeli buku yang dia inginkan, Andinlah yang selalu setia menemaninya, tapi saat ini dia harus rela pergi sendiri.

Hilda berjalan menaiki tangga, toko buku langganannya berada di lantai dua, dia mendekati komputer pencari kode buku, supaya lebih mudah menemukan buku yang dicarinya.

“Alhamdulillah, masih ada satu stok,” katanya pelan.

Kemudian segera dia menuju rak buku yang penuh dengan buku tentang sejarah Islam. Telunjuknya pelan-pelan dia arahkan ke beberapa buku, kemudian berhenti pada buku yang covernya berwarna hitam, terlihat gambar laki-laki Arab mengendarai Kuda putih, penulis buku tertulis jelas di bagian tengah atas “Lesley Hazleton” dan Judul buku yang berwarna keemasan tertulis “After The Prophet”. Hilda tersenyum dan tangannya segera meraih buku tersebut, namun dari arah belakang ada tangan lain yang lebih cepat mengambil buku tersebut, tangan yang mungkin milik orang yang lebih tinggi dari dirinya sehingga dengan mudah mengambil buku tersebut.

Senyum Hilda hilang seketika, karena setelah buku itu diambil orang lain, di dalam rak sudah tidak ada buku yang sama. Hilda membelokkan tubuhnya dan ingin mempertahankan buku yang sedang dia cari, karena dia merasa telah menemukan terlebih dahulu, hanya saja kurang cepat mengambilnya.

“Maaf buku itu boleh saya beli?” pintanya kepada laki-laki yang berdiri di belakangnya.

Laki-laki tersebut menggeser buku yang sebelumya menutupi wajahnya, dan memandang perempuan yang berdiri tepat di depannya.

“Hilda,” sapa Wafa.

Hilda segera menundukkan kepalanya.

“Ngapunten, monggo di bawa saja bukunya. Nyuwun  sewu.”

Hilda segera berlalu.

Wafa segera tersadar, ternyata buku yang dicarinya dan stoknya yang tinggal satu ini dia rebut dari perempuan yang sering hadir dalam diamnya. Perempuan itu pun mencari buku yang sama.

Hilda menuju rak buku yang lain, sambil berguman di hatinya.

“Kenapa harus ketemu dia lagi? Kenapa dia yang mengambil buku itu, ah sudahlah aku akan  pesan buku di toko online saja, tapi sayang ongkos kirimnya lumayan juga. Uang saat ini tak mungkin cukup. Harus sabar menunggu minggu depan.”

Karena dia tidak fokus berjalan, Hilda menabrak seseorang.

“Maaf Bu, maaf.”

“Hey, Hilda.”

“Ibu Iffah?”

“Senang bisa bertemu kamu di sini,” Hilda tersenyum.

Iffah adalah dosen muda yang mengajar Hilda saat semester pertama. Iffah sangat senang dengan Hilda, karena selain Iffah sebagai dosen dan Hilda mahasiswinya, mereka juga sering bertemu di kantin kampus. Iffah merasa Hilda lebih cocok menjadi teman diskusi daripada menjadi mahasiswinya.

“Beli buku apa?”

“Rencana mau beli buku After The Prophet, tapi kehabisan bu.”

“Oh ya, buku itu bagus dan menarik, aku punya dan sudah selesai membacanya. Kalau memang kamu ingin membacanya besok aku bawa ke kampus, kamu bisa ambil di ruangan saya.”

Hilda bahagia mendengarnya.

“Sudah makan siang? Ayo ikut ke warung padang seberang jalan, kita makan sambil ngobrol. Lama sekali kita tidak bertemu, aku kangen diskusi dengan kamu.”

Hilda mengangguk. Iffah menoleh ke kanan ke kiri mencari seseorang.

“Ibu nyari siapa?”

“Adek sepupuh aku, di mana dia? ah sudah lah nanti kalau dia nyari pasti WA.”

Iffah menggandeng tangan Hilda dan berjalan menuju warung padang seberang jalan.

Iffah mencari tempat yang nyaman baginya untuk mengajak Hilda berbincang-bincang, setelah menemukan tempat yang dicarinya, Iffah menyuruh Hilda mengambil makanan apapun yang diinginkan.

Di tengah-tengah menikmati hidangan, Hp Iffah berdering,

“iya sini aja, aku di warung padang seberang jalan toko. Sory, aku tadi nyari kamu gak ada. Udah buruan ke sini, aku dah mau habis nih.”

Hilda penasaran dengan orang yang menghubungi Iffah, tapi tidak berani bertanya.

“Hilda, kenapa ya aku kalau baca buku Ibnu Arabi kadang malah kebingungan sendiri.”

“Bingung kenapa bu?”

“Entahlah, aku lebih suka kalau kamu yang bercerita tentang Ibnu Araby, bahkan aku sangat senang jika kamu bacakan syair-syairnya.”

“Ibu sedang baca bukunya Ibnu Araby ya?”

“Nggak sih, tapi beberapa waktu lalu aku minjem buku milik Suami judulnya ‘Creative Imagination in the Sufism of Ibn’ Arabi’, kamu tahu buku itu?”

Hilda mengangguk, dan Iffah merasa senang dengan anggukan Hilda.

“Dalam halaman dua ratusan ada syair menarik, jadi sebelum syair itu ada sepenggal kalimat tanya yang unik, kalau gak salah begini katanya ‘Adakah engkau sendiri yang tengah binasa sampai engkau sanggup bertanya apakah sang kekasih ghaib telah binasa, ataukah…. ataukah… ehmm.. apa ya lanjutannya?” tanya Iffah.

“Sebentar bu, saya cuci tangan dulu.”

Iffah mengangguk mempersilahkan Hilda meninggalkan meja untuk mencuci tangannya.

“Mbak Iffah, gak bilang-bilang mau makan. Aku ditinggal makan lagi.”

Beberapa detik kemudian adik sepupuhnya datang dan duduk di kursi Hilda.

“Sana, ambil makan dulu, jangan duduk di situ, itu kursi temenku,” kata Iffah, dan adik sepupuhnya pun berlalu menuju tempat pengambilan makanan.

Beberapa saat kemudian Hilda kembali dan duduk di tempat sebelumnya.

“Lanjutkan dong,” kata Iffah sudah tidak sabar.

“hehe, baik bu. Kalau tidak salah lanjutannya seperti ini; Ataukah dia yang nama dan rahasianya hanya diketahui olehmu sendiri, yang binasa kiranya?

Dengarkan wahai kekasih tercinta!

Akulah realitas semesta, titik pusat lingkaran,

Akulah bagian dan keseluruhan.

Akulah kehendak yang telah ditetapkan di antara langit dan bumi,

Telah kuciptakan penglihatan dalam dirimu, hanya supaya menjadi sasaran yang dituju oleh penglihatanku.

Jika kemudian engkau melihat diri-Ku, engkau telah melihat dirimu sendiri

Tetapi engkau takkan bisa melihat-Ku melalui dirimu sendiri

Melalui mata-Ku engkau menatap Aku dan menatap dirimu sendiri

Melalui matamu engkau takkan bisa menatap-Ku

Kekasih tercinta!

Begitu sering Ku seru dirimu, dan engkau tak kunjung mendengar-Ku

Begitu sering Ku tunjukkan diri-Ku dan engkau tak kunjung melihat-Ku

Begitu sering Ku harumkan diri-Ku, dan engkau tak kunjung menciumnya.

Akulah hidangan lezat, dan…

(Klontang) suara sendok jatuh menghentikan suara Hilda. Pandangan beberapa orang menuju laki-laki yang berdiri tegak di sisi kanan Hilda dan Iffah, dia berdiri cukup lama, selama Hilda membacakan syair tersebut.

“Wafa, kamu ngagetin aja. Ambil sendok lagi dan sini duduk, segera makan! Katanya lapar.”

Wafa pun terkejut dan segera mengambil sendok baru dan duduk di sebelah Iffah.

Hilda menelan ludah, merasa canggung dengan Wafa, setelah kejadian kemaren satu payung bersama, satu mobil bersama dan sekarang satu meja bersama.

“Ayo lanjutin syairnya,”pinta Iffah.

“Maaf bu, saya jadi lupa, hehe..” Hilda berpura-pura untuk mengalihkan perhatian Wafa.

“Gara-gara kamu ih Wafa.”

“Maaf mbak, aku gak sengaja tadi jatuhin sendoknya.”

“Kamu jadi beli buku apa?” Iffah bertanya sambil membuka tas kresek yang dibawa Wafa.

“Lho inikan buku yang kamu cari,” tanya Iffah pada Hilda. Mata Wafa melirik Hilda menandakan penyesalannya telah merebut buku yang dicarinya. Namun karena Hilda menundukkan kepalanya, dia tidak melihat tatapan penyesalan Wafa.

“Kalau begitu, ambil saja buku ini.” Iffah menyodorkan Buku After The Prophet ke arah Hilda.

“Tapi bu, itukan…”

“Sudah ambil saja, kan aku udah bilang aku punya bukunya, kalau Wafa mau baca buku itu bisa pinjem punyaku, iya kan?” tanya Iffa sambil menyenggol tangan Wafa.

“oh, Iya gak papa, ambil aja Hilda.”

Iffah terdiam mendengar Wafa memanggil nama Hilda.

“Lho, aku kan belum mengenalkan kalian, ternyata sudah saling kenal to?” tanya Iffah heran

Wafa dan Hilda terkejut  dan mengangguk sambil salah tingkah.

“ehmm… Hilda ini kan santrinya Bu Dhe.” Wafa berusaha menutupi kecanggungan di depan kakak sepupunya.

Iffah mengangguk, tapi Iffah merasa aneh dengan Wafa. Selama ini siapa sih santri Darussalam yang dia kenal, gak pernah ada. Wafa juga jarang datang ke Jepara, karena sekarang memang dia mau kuliah di luar negeri, jadi dia banyak habiskan waktu di rumah si mbahnya.

Sejak kecil Wafa dekat dengan Iffah, apapun yang terjadi pada Wafa selalu Iffah yang diajaknya berbicara, bahkan memutuskan untuk kuliah s2 di Asutralia, Iffahlah yang diajak bicara sebelum kedua orang tuanya.

“Ehmm… ada apa dengan Wafa?” bisik Iffah penuh tanya.

(bersambung)

*Oleh: Muyassaroh H, asal Panguragan Cirebon. Saat ini menetap di Wonocatur Baguntapan Bantul. Bersama keluarga kecilnya Ia menemani anak-anak di TPA Masjid Az-Zahrotun.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Budaya

To Top