Connect with us

Hilda (Sembilan Belas)

Hilda

Budaya

Hilda (Sembilan Belas)

Hilda (Sembilan Belas)

Takdir Berkata Iya

Hilda mendengar bahwa Wafa sudah pulang beberapa hari lalu, dia mendengar kesedihan Andin yang merengek-rengek karena ditinggal pujaan hatinya.

“Kenapa kemaren aku harus ada kuliah sih, jadi aku gak tahu kalau mas Wafa pulang. Ah… entah kapan lagi kami akan bertemu,” katanya sambil memegang tangan Hilda.

“Alhamdulillah ya Allah, berarti sahabatku akan kembali ke dunia nyata,” ledek Hilda.

“Hilda…..!!!”

Andin mencoba menggelitik Hilda, Hilda menghindar dan berusaha membalas.

“Hahahaha…. Stop Da…!” kata Andin sambil terpingkal tak bisa tahan dengan serangan Hilda.

“Hilda, apa kamu benar tidak merasakan apa-apa terhadap mas Wafa?”

“Maksudmu perasaan apa?”

“Ya, kan kamu beberapa kali ketemu langsung sama mas Wafa, bahkan pernah satu mobil dengannya.”

Hilda menghela nafas, “Bukannya kita sudah membahas tentang ini Ndin? Aku tidak mau membahasnnya lagi,” kata Hilda.

“Tapi Da, seandainya kalian berjodoh, aku justru malah seneeeeng banget… sueer aku gak cemburu kalo misal jodohnya mas Wafa kamu, tapi kalau jodohnya mas Wafa bukan kamu ya sebaiknya aku saja.”

Hilda memegang kening Andin.

“Mulai ngayal lagi. Katanya mau bantuin beberes, malah bahas orang yang tentu sulit untuk disentuh,” kata Hilda.

“Iya ya, ini aku bantuin nyetrika jilbabmu. Emang berapa hari di Jogja?”

“Cuman dua hari, sehari liputan sehari jalan-jalan.”

“Wuiih… senengnya bisa jalan-jalan ke Jogja. Jangan lupa oleh-oleh ya… apa tuh oleh-oleh Jogja yang terkenal, ehmmm,… bakpia!” kata Andin.

“Iya, insyaallah.”

Hilda terdiam berharap besok dia bisa melaksanakan tugasnya, karena dia masih canggung berinteraksi dengan orang asing, apalagi di daerah yang belum pernah dia kunjungi. Tugasnya juga membuat berita dan juga profil seseorang yang bisa memberi inspirasi.

“Dah, selesai semua. Segera istirahat, biar besok tetap sehat.”

Hilda merapikan tasnya dan menggelar kasur kecilnya. Hilda berusaha memejamkan matanya dan memasuki dunia mimpinya, tentu bukan mimpi masa lalunya, tapi mimpi masa depannya.

***

Beberapa hari tidak melihat Hilda seperti sudah bertahun-tahun, kenapa kuat sekali perasaanku terhadapnya. Padahal benar kata mb Ifah aku belum mengenal dekat siapa sebenarnya Hilda. Tapi entah mengapa bayangannya kerap kali hadir dalam diamku, aku pernah melihatnya tersenyum saat bertemu seorang anak tuna rungu, dan senyum manisnya kembali melintas dalam benak ini.

“Ya Vin, bisa kapan? Siang nanti, oke siap, di Loko Cafe seperti biasa ya? Oke, aku akan ke sana.”

Alvin menelpon dan mengajak bertemu. Aku, Alvin, Huda dan Zulfi memang teman dekat sejak masuk kampus. Beberapa waktu lalu memang kami saling memberi kabar, Alvin akan kembali ke kampung halamannya meneruskan pekerjaan ayahnya, Huda ingin kuliah s2 di Surabaya, sedangkan Zulfi, kami tidak pernah tahu apa yang akan dilakukannya. Walau dia sangat asik ketika diskusi dan berdebat tapi Zulfi tertutup tentang keluarganya. Mungkin pertemuan siang ini adalah pertemuan untuk perpisahan kami.

“Wafa,” panggil ibu.

Dalem bu,” jawabku.

“Ini dibawa ya!”

Aku lihat sarung baru di tangan ibu.

“Sarung Wafa sudah banyak bu, masih bagus-bagus semua kenapa beli yang baru?”

“Ini ayahmu yang beli. Katanya sarungmu kebanyakan lungsuran dari ayah,” kata ibu sambil tersenyum.

Aku mengambil sarung dari tangan ibu dan memasukkannya ke dalam koper.

“Jangan lupa ke Krapyak dulu ya, kunjungi adekmu dan sekalian pamit, dia kan mau ujian jadi gak mungkin bisa antar kamu nanti.”

Njeh, bu. Wafa memang punya rencana ke Krapyak, kemaren beli novel-novel ini buat adek.” Aku menunjukkan 3 novel baru yang sudah ku siapkan untuk adek.

“Jangan ganggu adikmu dulu, biar dia konsen belajar dulu.”

“hehe… kemaren dia telpon Wafa pake hp pembimbing dan minta dibelikan buku bu, katanya jenuh belajar untuk UN terus,” ibu ikut tersenyum memahami karakter anaknya yang kalau menginginkan sesuatu tidak bisa ditunda.

“Apa kabar Zulfi?”

“Baik,” jawabku singkat.

“Zulfi gadis yang baik, ibu seneng ngeliat kalian berdua.”

Aku memandang ibu dan memegang tangannya.

“Wafa sama Zulfi hanya teman,”

“Lho bukane kalian deket, ibu pikir kalau kamu mau nglamar Zulfi, ibu akan dukung.”

Aku tersenyum mendengar harapan ibu. Mungkin karena aku memang jarang dekat dengan perempuan dan Zulfi adalah satu-satunya perempuan yang dekat denganku jadi ibu salah paham.

“Wafa tidak punya perasaan apa-apa terhadap Zulfi, hanya teman sama seperti Wafa dengan Huda, dengan Alvin.”

Ibu terlihat murung, kenapa hari ini ibu mendadak menanyakan Zulfi, tentu ada sesuatu dalam hati ibu.

“Ibu, ada apa?” tanyaku.

“Kapan kamu menikah? Ibu dah pingin gendong cucu, buat temen ibu di rumah.”

Aku spontan tertawa dan memeluk ibu.

“Ibu sendiri yang bilang, pernikahan itu bukan sekedar acara meriah dan mengundang banyak orang kemudian ibu bisa punya cucu hehe, tapi pernikahan adalah ikatan yang kuat. Wafa belum cukup ilmu untuk mampu mengikat ikatan kuat tersebut, Wafa belum siap bu.”

Ibu mengangguk dan mengelus kepalaku.

“Tapi kamu punya target kan? Bukan hanya asik nyari ilmu, nyari pendamping hidup malah dilupakan?”

“Iya bu, setelah lulus nanti insyaallah Wafa akan menemukan perempuan yang Wafa cintai dan yang mencintai Wafa.”

“Baik, lanjutkan beres-beresnya ibu mau masak dulu.”

“Ibu, Wafa siang ini janjian sama teman-teman dan sepertinya makan di luar.”

Ibu tersenyum sambil mengangguk mengerti.

***

Hilda sudah selesai dengan liputannya, segera dia menuju lokasi berkumpulnya teman-temannya. Hilda segera mencari Loko Cafe dan menunggu teman-temannya. Dia belum meihat satupun temannya. Dia melihat grup WA dan banyak teman-temannya yang belum selesai liputan dan pada minta tambahan waktu sampai jam 2.

“Dari pada lama menunggu mereka, sebaiknya aku pesan kopi dan menulis laporan, biar segera selesai,” katanya yang kemudian dia memesan sesuatu dan memilih meja yang kosong juga enak buat nulis.

Hilda membuka laptopnya, memulai menuliskan laporannya, di depannya berjarak dua meja Wafa memerhatikannya, berkali-kali Wafa memiringkan kepalanya seolah memastikan apakah yang dia lihat Hilda atau orang lain. Sekali dia berdiri dan mencondongkan tubuhnya untuk lebih memastikan itu Hilda atau hanya bayangannya yang sering mengganggu Wafa.

Hilda sama sekali tidak  merasa diperhatikan seseorang, dia pun tetap asik menulis laporannya. Wafa yang kemudian yakin bahwa yang dilihatnya di Loko Cafe adalah Hilda, Wafa tersenyum pada dirinya sendiri. Merasa takdir kembali membawa mereka untuk bertemu. Wafa ingin segera menyapa, tapi melihat Hilda serius dengan laptopnya membuatnya lebih memilih menatap Hilda dari tempat duduknya.

Wafa melihat beberapa kebiasaan Hilda saat berhenti sejenak untuk menyusun kalimat, Hilda melakukan hal yang menurut Wafa lucu. Ketika jarinya terdiam Hilda mengangkat jari telunjukanya dan menekan keningnya dengan jari telunjuk kanan dan kirinya secara bergantian.

Hilda mengagkat kedua tanganya dengan mengeluarkan kata, “Selesai.”

Hilda pun mengangkat wajahnya dan matanya menatap apa yang ada di hadapannya, tatapannya pun terhenti pada seorang laki-laki yang tersenyum melihat tingkah Hilda. Segera dia menurunkan kedua tangannya dan mencoba memastikan siapa yang dilihatnya. Hilda memiringkan kepalanya dan terkejut ketika yang dilihatnya adalah Wafa, dia pun kembali menundukkan pandangannya.

Wafa kembali tersenyum dan berjalan mendekati meja Hilda. Hilda yang melihat Wafa mendekat bertanya-tanya dalam hatinya.

“Kenapa ke sini?”

“Assalamualaikum Hilda…” sapa Wafa.

“Wa’alaikumussalama,” Hilda berdiri dan membungkukkan kepalanya.

“Boleh saya duduk di sini?” pinta Wafa.

Njeh monggo mas,” jawab Hilda yang tak punya pilihan lain selain memperbolehkan ponakan bu nyainya duduk.

Mereka masih saling diam, Hilda tidak tahu harus bicara apa, Wafa pun sedang mengatur perasaannya yang cukup membuat dia tidak bisa berkata-kata.

“Kenapa mas Wafa ada di sini?” tanya Hilda untuk memecah hening di antara mereka, Wafa tersenyum mendengar pertanyaan Hilda.

“Seharusnya saya yang tanya, kenapa Hilda ada di sini?” kata Wafa.

Hilda pun menutup mulutnya, mengingat bahwa wajar kalau Wafa di sini, lha Wafa kan orang Jogja.

“Maaf, saya lupa kalau njenengan orang Jogja.” Wafa kembali tersenyum.

“Jadi kenapa Hilda ada di Jogja?” Wafa balik bertanya.

“Saya sedang ikut study tour pelatihan menulis, sambil belajar membuat liputan juga.”

“Wah, jauh juga ya prakteknya sampai ke jogja.”

“Iya, sekalian berkunjung ke LPM UIN Jogja mas,”

“Oh, ke Arena juga? Gak sekalian ke LPM UNY?”

“Tidak mas, hanya di UIN.”

Wafa melirik buku yang berada di samping laptopnya Hilda, buku yang sangat tidak asing baginya, “Musyawarah Buku; Menyusuri Keindahan Islam dari Kitab ke Kitab.”

“Itu bukunya Hilda?”

Hilda melihat buku yang ditunjuk Wafa,

“Bukunya Ayah saya, beliau penggemar Khaled Abou El Fadl,”

Wafa mengambil buku tersebut.

“Wah salam ya buat ayahnya, saya juga penggemar Khaled,” kata Wafa, Hilda terdiam.

“Ayah saya sudah meninggal.”

Wafa terdiam, menatap Hilda yang kemudian memurungkan wajahnya, mengingat ayahnya.

“Maaf, Hilda..”

“Tidak apa-apa mas,”

“Kamu sudah selesai membacanya?” Wafa mencoba mengalihkan perhatiannya.

Hilda mengangguk.

“Sudah selesai sejak masih SMA, tapi saya sering membacanya kembali ketika lagi tidak semangat belajar.”

“Oh ya? Berarti Kamu termasuk orang yang suka membaca buku yang sudah dibaca?”

Hilda tersenyum mendengar kalimat Wafa, senyuman Hilda membuat jantung Wafa kembali tidak stabil, Wafa melihat dengan jelas senyum manis Hilda, ditambah dia melihat lesung pipi kanannya yang semakin membuat paras Hilda terlihat cantik.

“Hanya beberapa buku saja yang saya baca ulang kok,” kata Hilda menyadarkan Wafa yang sedang terpaku menikmati senyum seorang perempuan, segera Wafa mengedipkan matanya dan mengalihkan perhatiannya ke buku yang dipegangnya.

“Kisah apa yang paling melekat dalam buku ini?”

“Banyak, semua melekat dan membuat saya malu jika saya malas belajar.”

Wafa membiarkan Hilda menjelaskan apa yang dia gemari dalam buku tersebut. Momen paling dinantikan Wafa adalah mendengar Hilda menjelaskan sesuatu, apalagi tentang buku. Wafa ingat pertama kali dia bertemu Hilda adalah saat Musyawarah Keagamaan di pesantren Bu dhe nya dan pertemuan pertama itulah yang sangat berkesan bagi Wafa. Kecerdasan Hilda dalam menjawab permasalahan dan dalam menguasai keilmuan membuat Wafa tidak kuasa untuk tidak jatuh hati pada Hilda.

“Paling berkesan adalah kisah Ibnu Aqil, bagaimana beliau adalah seorang cendekia yang paling berbakat dalam sejarah manusia. Beliau adalah ulama’ yang mencintai ilmu, pengarang kitab – kitab yurisprudensi, teologi dan sufisme, dengan kitabnya yang masyhur yang terdiri dari ratusan jilid, yakni kitab al-funun, yang menggambarkan keindahan dan kemegahan humanisme islam,” katanya.

“Ya, beliau belajar dari ulama Hanbali, Hanafi, Syafi’i, Mu’tazili dan sufi,” tambah Wafa.

“Bahkan,” tambah Hilda, “Al-Silafi pernah mengatakan, saya tidak pernah melihat orang seperti Ibnu Aqil. Tidak seorang mampu mendebatnya dikarenakan keluasan ilmunya, keindahan penjelasannya, kefasihan cara bicaranya, dan daya argumentasinya. Bahkan Ulama lain menggambarkan dia sebagai laki-laki yang elok, baik dan pemurah, seorang laki-laki dengan intelegensi yang cemerlang. Membaca kisah ini membuat saya tersemangatkan dan terbebaskan.” Wafa menatap Hilda dan berusaha mengenalinya lebih dekat.

Wafa menjelaskan bahwa Khaled Abou El Fadh saja merasa malu dengan Ibnu Aqil, ada kalimat Ibnu Aqil yang dia tulis dalam buku ini, bahwa Ibu Aqil berkata: Tuhan melindungi masa remaja saya dari dosa dan memasukkan dalam hati saya kecintaan kepada ilmu. Saya tidak peduli pada permainan, dan saya hanya bergaul dengan para pencari ilmu. Sekarang, pada usia 80 tahun, saya merasakan bahwa semangat mencari ilmu saya semakin kuat dari pada saya berusia 30 tahun.

Hilda segera membenarkan kesalahan Wafa, “bukan 30 tahun mas, tapi 20 tahun. Semangat mencari ilmu beliau di usia 80 semakin kuat dari pada usia 20 tahun,” kata Hilda.

Wafa pun tersenyum, “maaf saya salah mengingat usia, hehe..”

Hilda kembali tersenyum, Wafa kembali terpaku.

“Ujian terberat Ibnu Aqil adalah kedengkian yang dimiliki Abu Ja’far, sehingga segala cara dilakukan untuk melukai Ibnu Aqil. Aku menangis ketika mengingat kisah ini.”

Wafa menghela nafas, dan mengangguk membenarkan kisah pilu itu.

“Kedengkian, adalah salah satu kekuatan paling kuat dan menakutkan baik di dunia mainan bahkan dunia mimpi sekalipun,” kata Wafa.

“Benar, kedengkian bisa memunculkan tuduhan-tuduhan yang bahkan tidak masuk akal, namun kedengkian tersebut akan menjadikan orang mempercayai segala sesuatu, fitnah pun mereka percayai,” Kata Hilda.

“Dari pada mendengki lebih baik kita menebar cinta,” kata Wafa

“Benar sekali mas, lebih baik kita menebar cinta,” kata Hilda yang kemudian mata mereka saling menatap, Wafa menganggukkan kepala dan melempar senyum pada Hilda. Hilda cukup terkejut dengan dirinya sendiri yang begitu biasa berbincang dengan Wafa, sangat nyaman dan menyenangkan. Hilda pun kembali tersenyum memamerkan lesung pipinya sambil menundukkan kepalanya.

“Karena Ibnu Aqil pun penuh dengan cinta, maka dia tidak membalas apa yang dilakukan orang yang dengki terhadapnya. Itu sebabnya ibu saya sangat mengidolakan Ibnu Aqil,”

Hilda kembali menatap Wafa heran, “Bahkan dia memberikan nama itu pada anaknya,”tambah Wafa.

“Maksudnya nama lengkap njenengan adalah ‘Ali Ibn Muhammad Abu Al-Wafa’ Ibnu Aqil?” tanya Hilda penasaran.

Wafa mengangguk, “tapi tidak sepanjang itu, nama saya Ali Muhammad Abu Al-Wafa’, panggilannya Wafa,” jelas Wafa, Hilda mengangguk.

“Nama lengkapmu siapa?” tanya Wafa pada Hilda, yang benar-benar ingin mengenal dekat Hilda.

“Nama saya Hilda, hanya Hilda, tidak ada kata lain, hanya Hilda,” kata Hilda.

“Jadi namamu Hanya Hilda, kalau saya panggil Hanya boleh ya?” Kalimat Wafa membuat Hilda kembali tersenyum.

“Hilda mas, tidak ada tambahan lain.”

“Iya, Hilda…”

Wafa ikut tersenyum dan merasa bahwa takdir akan menuntunnya untuk mengenal dekat Hilda.

Di meja lain terlihat perempuan cantik memperhatikan mereka berdua, perempuan itu tersenyum tapi perasaannya sedikit demi sedikit pupus, lantaran melihat laki-laki yang disukainya terlihat jelas menyukai perempuan lain.

Selama bertahun-tahun mereka dekat, dia tidak pernah bisa mengobrol senyaman itu, bahkan asal muasal namanya saja dia tidak pernah mendengarnya.

“Selama ini aku salah sangka, saya pikir karena perempuan yang dekat dengannya adalah aku, aku berharap kalau aku yang akan dipilihnya, tapi ternyata dia memilih perempuan lain. Aku yakin tatapan mata Wafa kepada perempuan itu bukan tatapan biasa. Bodohnya aku mengira Wafa menyukaiku,” katanya dan kemudian dia mendekati meja Wafa dan Hilda.

“Wafa, yang lain belum datang ya!”

Wafa menoleh asal suara.

“Zulfi, kamu sudah datang?”

Zulfi tersenyum dan memandang Hilda yang menundukkan kepalanya.

(bersambung)

*Oleh: Muyassaroh H, asal Panguragan Cirebon. Saat ini menetap di Wonocatur Baguntapan Bantul. Bersama keluarga kecilnya Ia menemani anak-anak di TPA Masjid Az-Zahrotun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Budaya

To Top