Connect with us

Hilda (lima belas): Mengapa Luka tak Kunjung Sirna?

Hilda

Budaya

Hilda (lima belas): Mengapa Luka tak Kunjung Sirna?

Hilda (lima belas): Mengapa Luka tak Kunjung Sirna?

(Episode 15)

Aku Rindang, orang yang selalu merindukan sosok Hilda dan Ibunya. Sudah sekian tahun Aku tidak pernah melihat mereka lagi. Terakhir ketika Hilda melahirkan anaknya, aku sempatkan menjenguknya, setelah itu aku belum bertemu dia lagi. Komunikasi dengan ibu selalu aku lakukan. Bahkan sesekali aku bertulis surat untuk Hilda untuk mengetahui kabar Hilda, aku cenderung senang menulis surat dengan tulisan tangan dan dikirim ke POS daripada menggunkan media sosial atau email. Aku sangat senang menerima surat balasan dari Hilda. Balasan surat yang dikirimnya sungguh membuatku semakin bangga padanya, dia kini tumbuh menjadi perempuan yang kuat.

Rasa rindu ini membuatku mengingat perjuangan mereka beberapa tahun silam. Sesaat setelah ibu dan Hilda meninggalkan kantor polisi, aku sempat sedih dan bingung harus melakukan apa. Keadilan bagi perempuan korban kekerasan seksual sangat lemah, bahkan sampai saat ini RUU Penghapusan Kekerasan Seksual pun tak kunjung disahkan.

Seminggu setelah dari kantor polisi, ibu menghubungiku dan memintaku datang ke rumah mereka. Aku pun datang dengan harapan kasus ini diusut tuntas hingga pelaku akan mendapatkan hukuman setimpal.

“Maaf mbak Rindang kami ingin merepotkan mbak Rindang lagi.”

“Tidak perlu sungkan  ibu, saya sangat senang jika ibu membutuhkan bantuan saya.”

“Hilda ingin sekolah mbak, sedangkan sekolahnya sudah secara halus mengeluarkan dia lantaran dia hamil. Saya sudah menjelaskan banyak alasan untuk dia tidak boleh ke sekolah, tetapi anaknya memaksa mbak, Hilda ingin ikut ujian nasional. Dia mulai marah-marah dan kembali memukul-mukul perutnya. Dia ingin ke sekolah dan ingin tahu siapa pelakunya, dia ingin pelakunya dihukum seberat-beratnya,” kata ibu dengan penuh kecemasan.

“sekarang Hilda di mana bu?”

“Dia tertidur.”

“Boleh saya melihatnya?”

Ibu mengajakku menuju kamar Hilda, ketika ibu membuka pintu kamar, kami terkejut karena Hilda tidak ada di dalam kamarnya. Kami pun mencari disekitar rumah, teriakan kami memanggil Hilda membuat beberapa tetangga mendekati kami.

“Nyari siapa bu? Nyari Hilda?”

Saya mendekati warga dan menanyakan kepada mereka dengan tenang untuk tidak mengundang kecurigaan mereka.

“Ibu-ibu di sini ada yang melihat Hilda?” tanyaku.

“Saya tadi lihat Hilda pergi dengan mengenakan seragam sekolah, paling berangkat sekolah? Bukankah sekolah tidak libur?” tanya warga.

“Terima kasih ibu informasinya, iya sekolah tidak libur hanya saja Hilda masih sakit jadi seharusnya dia istirahat,” kataku.

Aku melihat ibu mulai resah, segera aku mengajak ibu masuk rumah. Ku lihat beberapa tetangga saling berkumpul dan mereka terlihat sedang membicarakan Hilda dan ibunya.

“Bagaimana ini mbak? Hilda ke sekolah, dia masih emosi mbak, saya takut terjadi sesuatu yang tidak baik.”

Tanpa berpikir panjang aku mengajak ibu pergi ke sekolah dengan menggunakan mobilku. Di dalam mobil ibu semakin cemas dan bingung.

“Ibu, tetap tenang dan mendoakan Hilda baik-baik saja ya,” kataku mencoba menenangkannya.

Sesampai di sekolah, sesuai dugaan kami, sekolah terlihat ribut, banyak siswa yang tidak berada di dalam ruangan kelas. Ibu segera berlari dan mencari Hilda dengan  berteriak memanggil-maggil namaya.

“Hilda….. Hilda…. Nak di mana?”

Beberapa siswa ada yang menangis ada pula yang memandang ibu dengan sinis.

Seorang ibu guru mendekati kami dan memeluk ibu, “Mari ibu, saya antar ibu bertemu Hilda,” katanya.

“Ibu Ema, Hilda di mana?”

Ibu Ema mengangguk sambil tetap merengkuh ibu menuju ruangan UKS.

Aku tercengang dengan apa yang aku lihat, tak kuasa aku menahan air mata ini, aku melihat gadis cantik, pintar dan menyedihkan tergeletak lemas di atas tempat tidur di dalam UKS dengan kodisi tangan dan kaki terikat. Aku melihat Hilda yang dengan kondisi lemahnya masih mencoba melepaskan ikatannya.

Dari mulut mungilnya terdengar suara “Siapa… siapa yang menghancurkan hidupku, siapa yang menodaiku, kenapa… kenapa aku tidak boleh sekolah.. kenapa…??”

Ibu tidak mampu berdiri, ibu terkulai lemas. Ibu Ema segera membawa ibu untuk duduk di kursi. Beberapa guru terlihat di dalam ruangan ini, tersirat dalam wajah mereka adalah rasa prihatin dan kasihan. Ada pula pak kepala sekolah yang sepertinya sama sekali tidak peduli dengan Hilda, dia mendekati Ibu Ema dan mengatakan kalimat yang menurutku sangat tidak layak diucapkan.

“Bu Ema, karena ibunya sudah datang segera anak ini suruh bawa pulang dan jangan lagi datang ke sekolah ini. Bikin malu sekolah saja,” katanya kepada bu Ema.

Aku melihat bu Ema hanya terdiam.

“Kepada semua guru, segera masuk ke kelas masing-masing, mari kita lanjutkan proses pembelajaran yang sempat terganggu,” lanjutnya disambut dengan bubarnya guru-guru yang ada di ruangan UKS ini.

Setelah tidak ada guru lain selain bu Ema, aku menarik tangan bu Ema dengan lembut dan membawanya ke luar ruangan. Aku biarkan ibu membelai-belai Hilda dan melepaskan ikatan Hilda.

“Maaf ibu, mengapa Hilda diikat seperti itu, dia gadis yang malang,” tanyaku.

“Maaf bu… saya benar-benar minta maaf. Itu permintaan kepala sekolah kami. Saya sudah berusaha keras untuk melarangnya dan saya bilang kalau saya bisa menenangkan Hilda tanpa diperlakukan demikian, karena Hilda sudah sepeti anak saya sendiri bu… saya juga paham, kalau Hilda itu hanya korban,” jelasnya.

“Bisa ibu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?”

“Saya tidak tahu bu, saat itu saya sedang ada kelas, lalu saya mendengar suara Hilda bereriak-teriak,beberapa siswa ke luar kelas dan mengerumuni Hilda, saat itu Hilda mengamuk bahkan dia menarik kerah baju beberapa siswa sambil bilang ‘kamu pelakunya’ teriakan dan tangisan Hilda semakin menjadi-jadi. Pak kepala datang dan menyuruh kami melakukan ini.”

Aku mengangguk mengerti. Aku kembali mengajak bu Ema masuk ruangan UKS dan membantu ibu melepaskan ikatan kaki Hilda. Ku lihat Hilda tersedu di pelukan ibunya.

“Ibu.. Hilda mau pulang, Hilda benci sekolah ini, Hilda benci mereka semua, Hilda benci laki-laki, Hilda benci semua…”

Tangisannya membuat bu Ema tidak bisa menahan air mata, ku lihat bu Ema menarik nafas dan menyeka air matanya.

“Saya bisa meminta bantuan ibu?” kataku pelan membisiki bu Ema.

“Bantuan apa?”

“Saya minta nomer Hp boleh?”

Bu Ema mengangguk dan memberi nomernya.

“Terima kasih bu, saya akan menghubungi ibu.”

Aku mengajak ibu dan Hilda pulang, aku mencoba untuk diam tidak bersuara apapun, selama perjalanan Ku biarkan ibu menguatkan Hilda dengan bahasa ibu yang penuh kasih sayang.

Sesampai di depan rumah, beberapa warga berkumpul di sana. Kami turun dari mobil disambut banyak sapaan dari warga bahkan pertanyaan yang sangat tidak nyaman. Segera aku percepat langkah untuk membawa Hilda masuk ke rumah.

“Ibu tunggu di sini saja, biar saya yang menemui mereka semua. Ibu temani Hilda saja ya,” Pintaku.

Aku berjalan tenang mendekati mereka.

“Mbak, itu Hilda sakit apa? Saya dengar dari anak saya katanya Hilda hamil ya?”

“Iya, saya juga sudah curiga dari beberapa minggu lalu, Hilda gak pernah terlihat berangkat sekolah, trus juga saya beberapa kali dengar perempuan mual-mual. Lha rumah saya di belakang persis rumah Hilda. Saya kira ibunya yang lagi hamil, kan maklum janda muda masih banyak laki-laki yang suka, eh ternyata malah anaknya.”

Saya menarik nafas dan menghelanya dengan berusaha tetap tenang.

“Mohon maaf ya ibu-ibu semua, kita tidak boleh membicarakan orang sepeti itu. Apalagi Hilda dan ibunya adalah tetangga ibu-ibu semua.”

“Maaf nih mbak, bukannya kami menghakimi mereka. Sebenarnya kami juga sedikit ragu, setelah ayahnya Hilda meninggal, ibunya itukan bekerja sampai malam. Katanya kerja di rumah makan tapi pulangnya sampai malam. Trus juga sering menggoda suami-suami kami.”

“Bukan menggoda bu, dia memang orangnya ramah dan baik, itu wajar koq,” kata salah satu dari mereka yang membela.

“Ya sama saja, berlaku baik biar mendapat perhatian.”

“Hilda dan ibunya sedang mendapatkan ujian besar,” kataku memotong pembicaraan mereka.

“Sebaiknya ibu-ibu kembali ke rumah masing-masing dan jika memang tidak bisa membantu, saya mohon jangan membicarakan masalah ini karena akan menambah beban mereka.”

Ternyata kata-kataku demikian ada yang tersinggung, merasa kalau mereka adalah tetangga yang baik dan tentu akan membantu, tapi tanggapan spontannya sangat terlihat mereka memberikan pelabelan atau stereotype pada Hilda.

“Ya, kalo misal mereka lagi kena musibah, kita tentu akan membantu mereka mbak, jangan bilang kami akan menambah beban mereka dong. Mbak nya kan bukan asli sini, kami yang warga sini baek-baek semua mbak. Hanya saja jangan sampai perilaku Hilda menulari anak-naka remaja putri kami. Kami tidak mau anak-anak kami brutal dan bergaul terlalu bebas sehingga hamil di luar nikah.”

Aku hanya diam

“Sudah bu, sebaiknya kita pulang saja,tidak baik jika membicarakan Hilda di sini,” kata salah satu dari mereka. Kemudian mereka meninggalkanku yang masih berdiri mematung memikirkan hal yang sangat serius.

Aku merasa Hilda dan ibunya belum siap melapor karena pasti akan mendapatkan perlakuan yang sama, apalagi bukti yang diminta petugas sama sekali tidak dimiliki Hilda. Jangankan bukti kejahatan, kami pun tidak memiliki nama untuk dilaporkan sebagai pelaku, Hilda tidak memiliki informasi apapun tentang siapa yang melakukan kejahatan ini.

Melihat kondisi psikis Hilda pun tak memungkinkan aku untuk mengajak Hilda visum, karena melakukan visum dalam kasus ini juga pasti membutuhkan mental yang kuat. Satu-satunya cara untuk menyeret pelaku adalah menemukan pelaku itu sendiri. Siapa dia?

Aku mengambil ponsel dan menuliskan pesan kepada bu Ema.

“Ibu.. saya Rindang. Apa ibu bersedia membantu Hilda? Dengan cara membantu saya menemukan pelakunya.”

Beberapa saat kemudian bu Ema membalas.

“Saya sangat bersedia, tapi bagaimana caranya?”

“Nanti malam saya akan beritahu, terima kasih bu,” kembali ku kirim pesan.

“Baik,” balasnya.

(Bersambung)

*Oleh: Muyassaroh H, asal Panguragan Cirebon. Saat ini menetap di Wonocatur Baguntapan Bantul. Bersama keluarga kecilnya Ia menemani anak-anak di TPA Masjid Az-Zahrotun.

1 Comment

1 Comment

  1. Khotim

    February 15, 2019 at 11:10 pm

    Selalu semangat nduk…mantul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Budaya

  • Hilda Hilda

    Budaya

    Hilda (tujuh belas)

    By

    Senyum Hilda Pagi ini pondok terasa sepi, lantaran banyak yang sudah berangkat ke sekolah dan kuliah...

  • Hilda Hilda

    Budaya

    Hilda (enam belas)

    By

    Aku Rindang, orang yang selalu ingin berterima kasih kepada dua perempuan yang telah memberikan banyak pelajaran...

  • Hilda Hilda

    Budaya

    Hilda (Empat Belas)

    By

    (Episode 14) Bagaiamana aku bisa melupakan tatapan itu dan suaranya yang kian detik kian melintas dalam...

  • Hilda Hilda

    Budaya

    Hilda (Tiga Belas)

    By

    (episode 13) Hujan semakin deras, membuat penglihatan Wafa terbatas sehingga mobil melaju pelan. “Dari mana tadi?”...

  • Budaya

    A Graveside Ritual*

    By

    CERPEN Akhiriyati Sundari** Penerjemah oleh Yahya TP, Editor oleh Matt Woolgar . Mother wants to perform...

To Top