Connect with us

Hilda (enam belas)

Hilda

Budaya

Hilda (enam belas)

Hilda (enam belas)

Aku Rindang, orang yang selalu ingin berterima kasih kepada dua perempuan yang telah memberikan banyak pelajaran dan pengalaman hidup. Karena mereka berdua aku masih berdiri tegak untuk melakukan perubahan-perubahan positif bagi siapapun, khususnya merubah cara pandang masyarakat terhadap perempuan. Tentunya aku pun akan selalu berterima kasih kepada sosok ulama perempuan yang telah memberikan cahaya penerangan bagi banyak perempuan-perempuan dan juga laki-laki. Beliau juga mampu merubah Hilda menjadi perempuan tangguh dan cerdas seperti saat ini. Sungguh sosok ulama perempuan yang sangat menginspirasi.

Setelah kejadian Hilda datang ke sekolah dengan marah-marah, entah begitu cepat waktu berlalu. Aku berusaha menemukan pelakunya dengan meminta bantuan bu Ema, karena aku fokus dengan pencarian pelaku, aku melupakan apa yang menimpa Hilda dan ibunya.

Mereka tertekan, lantaran banyak tetangga yang mulai membicarakan mereka, ada sebagian tokoh agama setempat yang menyarankan untuk Hilda segera dinikahkan, karena sebuah aib ketika perempuan melahirkan anak tanpa suami, apalagi mereka menganggap itu adalah anak haram. Lebih tega lagi ketika mereka mengatakan “Hilda harus menikah, seandainya tidak ada yang bersedia, maka Hilda harus bersedia menjadi istri kedua atau ketiga, pokoknya siapapun yang mau.” Sungguh! Betapa sosok perempuan seperti benda, yang tidak memiliki nilai di mata mereka.

Warga  sama sekali tidak ingin tahu secara detail bagaimana sesungguhnya kasus ini, mereka dengan sepihak memberi pelabelan pada Hilda bahwa Hilda sudah melakukan zina. Betapa kejinya anggapan masyarakat saat itu, mereka menyamakan perkosaan dengan zina. Bahkan menganggap korban juga sebagai pelaku zina.

Hilda dan ibunya sudah tidak merasakan kenyamanan hidup di wilayah itu, bahkan mereka tidak menemukan kedamaian di dalam rumahnya sendiri.

Aku yang saat itu terlalu fokus bersama bu Ema untuk menelusuri jejak pelaku perkosaan, terkejut ketika ibu menghubungiku dan mengatakan beliau akan pulang kampung. Mereka akan meninggalkan rumah mereka, dengan berbagai macam alasan yang memang sudah tidak nyaman.

“Ibu, mohon maaf tapi saya dan bu Ema sedang mencari pelaku, kami akan berusaha agar Hilda mendapatkan keadilan.”

“Terima kasih atas segala bantuannya mba Rindang, tapi kami akan pergi lusa. Kalau mb Rindang besok punya waktu, kami ingin bertemu sebelum kami pergi dari sini selamanya,” kata ibu dengan suara sedikit tertahan.

Aku bisa merasakannya, pasti berat bagi ibu meninggalkan rumah itu, di mana banyak kenangan mereka bersama mendiang ayah Hilda.

“Baik ibu, besok saya akan ke rumah ibu.”

“Terima kasih mba,” jawabnya.

***

“Benarkah mba?”

“Iya, lusa mereka akan pergi,” kataku.

“Saya sudah mendapatkan banyak informasi terkait pelaku tersebut. Ada tiga anak yang saat itu bersama Hilda, sedangkan yang laki-laki pun tiga anak. Pertama almarhumah Bela yang beberapa waktu lalu dia bunuh diri, kemudian Okta. Nah, sangat sulit mencari tahu tentang Okta ini. Alhamdulillah saya bertemu saksi yang melihat mereka berenam meninggalkan tempat acara. Bela, Okta dan Hilda, kemudian disusul Aldo, Dev dan Ibas. Pelaku kemungkinan salah satu dari mereka. Lalu saya berusaha untuk menemui mereka bertiga, sayangnya yang Aldo dan Ibas sudah pindah sekolah dan yang Dev dia berangkat ke luar negeri seminggu yang lalu. Saya berhasil menemui Ibas, dia berusaha keras menutupi semuanya, tapi kemudian dia mengatakan bahwa yang menyakiti Hilda adalah Dev. Entah dia berbohong atau tidak. Mba Rindang, si Dev ini masih saudara kepala sekolah, keluarganya terpandang dan kaya raya, entah apakah kita mampu berhadapan dengan mereka, sedangkan kita tidak memiliki bukti, dan sekarang Dev sudah pindah sekolah di luar negeri bersama orang tuanya.”

Bu Ema menjelaskan panjang lebar terkait perkembangan penyelidikannya. Sangat mungkin pelakunya adalah Dev, tapi hukum masih tumpul, hukum kerap melemahkan korban khususnya perempuan seperti Hilda yang tidak memiliki bukti kuat.

Aku menghela nafas, dan mengajak bu Ema untuk bertemu dengan mereka besok pagi.

“Baik mba, besok saya akan ikut ke rumah Hilda,”

“Bu Ema, sebaiknya penyelidikan kita hentikan saja. Ibunya Hilda kemaren mengatakan bahwa dia ingin fokus untuk masa depan anaknya.”

Bu Ema menganggukkan kepala, kami pun saling diam.

***

Aku tiba terlebih dahulu di rumah Hilda, mungkin bu Ema masih menyelesaikan tugas mengajarnya terlebih dahulu.

Aku menatap mata ibu yang sendu.

“Ibu baik-baik saja?”

Ibu mengangguk dan mempersilahkanku untuk meminum teh buatannya.

“Terima kasih atas segala bantuan mba Rindang, dan sekarang kami ingin meminta tolong untuk terakhir kalinya. Kami nitip rumah ini, bisakah mb Rindang membantu kami untuk menjualkan rumah ini. Kapanpun rumah ini terjual kabari kami.”

“Insyaallah ibu, saya akan bantu. Ibu akan pulang kemana?”

“Kami akan tinggal di rumah orang tua saya mba, di Jepara. Emak saya memberi tahu bahwa ada pesantren yang dapat membantu memulihkan kondisi Hilda dan juga di sana Hilda bisa kembali bersekolah.”

Aku mengangguk mencoba mengerti,

“Setelah sampai di sana saya berharap kita tetap menjalin hubungan ya bu… Kapan kesempatan saya ingin silaturahim ke sana.”

Ibu mengangguk dengan senyuman yang sangat teduh. Di sela obrolan kami, bu Ema pun datang. Ketika bu Ema hendak menceritakan informasi terbaru yang dia dapatkan aku segera menyentuh tangannya, untungnya bu Ema memahamiku, dia pun mengalihkan pembicaraan.

“Bu Ema, mba Rindang… siapapun pelakunya, kami memang tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi saya yakin Allah Maha Adil. Biar Allah yang menghukumnya.”

Aku dan bu Ema saling pandang dan mengangguk. Hilda ke luar dari kamarnya dan menghampiri kami. Tubuhnya semakin kurus, perutnya pun tak nampak, usia kehamilannya sudah masuk bulan ke empat.

“Hilda sehat?” tanyaku.

“Alhamdulillah tante, terima kasih,” Jawabnya dengan santun.

“Bu Ema, dan tante Rindang, Hilda mengucapkan terima kasih atas semuanya. Hilda juga minta maaf jika selama ini Hilda banyak berbuat salah atau tanpa Hilda sadari Hilda pernah berkata kurang baik. Dengan tulus Hilda minta maaf.”

Seketika aku memeluk Hilda dan tersedu,

“Tante yang minta maaf tidak bisa membantu banyak, tante minta maaf sayang… semoga kamu di sana mendapatkan apa yang kamu cita-citakan. Jangan berhenti belajar ya..” kataku.

Aku melepaskan pelukanku dan memandang matanya yang cukup tangguh terlihat ada sinar harapan yang terpancar dari mata Hilda, kemudian bibir Hilda melemparkan senyuman manisnya.

“Iya tante… Hilda tidak akan menyerah, do’akan Hilda mampu melewati semuanya ya tante… Bu Ema terima kasih…”

Kami pun mengangguk dengan pasti. Aku mengeluarkan buku yang sebelumnya sengaja aku beli di toko buku.

“Ini ada beberapa Novel yang tante beli, semoga bisa menjadi sebuah kenang-kenangan untuk Hilda.”

Hilda mengangguk dan kembali melempar senyuman.

“Terima kasih tante…”

Entah mengapa perasaanku saat itu cukup tenang, melihat mata Hilda yang penuh keyakinan dan senyumannya yang sudah mulai terlihat walau masih menyimpan kesedihan, namun aku yakin Hilda akan baik-baik saja, karena memiliki seorang ibu yang luar biasa dan istimewa.

Aku tersenyum mengingat senyuman Hilda, pasti dia tumbuh menjadi perempuan yang kuat.

“Sepertinya aku harus menjadwalkan berkunjung ke Jepara,” kataku kepada suami.

“Kamu merindukan Hilda?”

“Iya,”

“Aku ikut mah,” tiba-tiba Hana putri cantik kami menghampiri.

“Boleh…”

(bersambung)

*Oleh: Muyassaroh H, asal Panguragan Cirebon. Saat ini menetap di Wonocatur Baguntapan Bantul. Bersama keluarga kecilnya Ia menemani anak-anak di TPA Masjid Az-Zahrotun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Budaya

To Top