Connect with us

Hilda (Empat Belas)

Hilda

Budaya

Hilda (Empat Belas)

Hilda (Empat Belas)

(Episode 14)

Bagaiamana aku bisa melupakan tatapan itu dan suaranya yang kian detik kian melintas dalam diriku. Tak mungkin aku mengungkapkan perasaan ini, karena itu akan mengganggu kebebasan dia untuk melakukan sesuatu. Apalagi tak lama aku akan pergi dan jika aku kembali apakah perasaan ini akan sama, atau sosoknya pun tetap sama. Memang lebih baik cinta ini cukup di hati.

Melihat dia berlari menerjang hujan dan angin cukup kencang hati ini terguncang. Mobil ku hentikan, hatiku beranikan, mulailah aku memangilnya dan melindungi dia dari derasanya hujan.

“Mas Wafa, njenengan,”

Hati ini ndredeg ketika mulut mungilnya memanggil namaku, suaranya lembut tapi terdengar jelas padahal bersahutan dengan suara hujan. Payung kecil yang kubawa membawa kami berdiri bersama, terdiam sesaat dan aku menangkap tatapannya yang walau sekejap, kemudian kupinta dia masuk mobil.

Ndredegnya hati ini luar biasa ku rasakan, mencoba menenangkan diri dengan membaca sholawat, karena aku sadar betul kalau saat itu Allah menguji hati ini, hati yang sedang menerima anugerah yang bernama cinta.

Ya, sekarang aku mengakui hal yang sempat membuatku ragu. Sebenarnya aku orang yang hati-hati dalam memandang perempuan, selalu mengelola hati untuk tidak sembarangan jatuh hati. Bertemu dengan Hilda, membuat saya kewalahan menata hati ini. Semakin menolak menerima perasaan ini, semakin sering aku bertemu dengannya, semakin ndredeg hati setiap menatap wajahnya.

“Tunggu, jangan lupa segera hangatkan diri, bila perlu minum jamu supaya tidak masuk angin.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku, kulihat dia hanya mengangguk, namun anggukannya membuat tenang hatiku. Setelah Hilda meninggalkan mobil beberapa saat aku masih terdiam menghela nafas dan menata perasaan, aku tak mau siapapun tahu tentang perasaanku, apalagi Mas Imam atau Mba Amirah.

Aku menoleh ke belakang, di mana Hilda beberapa saat duduk di jok itu, handuk yang ku berikan hendak aku ambil, namun “lho, di mana handuknya?”

***

Sepulang dari toko buku, Hilda mengumpulkan pakaian kotornya dan membawanya ke belakang untuk segera dia bersihkan. Satu persatu pakaian dimasukan ke dalam ember besar, kemudian terhenti saat melihat handuk biru yang dia pegang. Segera haduk itu dia masukkan ke dalam ember.

“Bagaimana bisa aku mengambil handuk Mas Wafa, bagaimana pula aku akan mengembalikannya?”

***

Pernahkah kau mendengar kisah di mana Sayyidah Khodijah sangat menyukai Baginda Nabi Muhammad SAW karena kecerdasannya, kefasihan bicaranya, kehalusan sikapnya, dan kepiawaiannya dalam berdagang. Sayyidah Khodijah sebagai perempuan cantik, kaya, yang menolak banyak lamaran hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan Quraisy justru terpikat pada Muhammad yang lebih muda, namun memiliki pandangan mata yang menunjukkan kewibawaan.

Aku tidak bermaksud menyamakan Hilda seperti Khodijah dan aku seperti Muhammad, itu bayangan terlalu jauh, akan tetapi kecerdasan Hilda, kefasihan bicaranya dan kelembutan sikapnya membuatku jatuh cinta, lantas apa yang aku miliki? Aku sebenarnya adalah tipe yang menyukai perempuan yang cerdas tapi ukuran cerdasnya harus di bawahku, aku menyukai perempuan yang pintar dan fasih bicara tapi jangan sampai kepintaran dan kefasihannya mengalahkanku, aku menyukai perempuan yang lembut tapi kelembutannya tidak kemudian memikat yang akan mudah menggodaku.

Bagaimanapun aku laki-laki yang ingin memiliki kelebihan di depan perempuan, apalagi di depan Hilda. Laki-laki itu harus menjadi pelindung, pendidik, pembimbing perempuan, maka wajar jika aku memiliki sifat demikian.

Ah, watakku itu kini mengkerut, perempuan muda yang ku temui saat di warung padang dan dia sangat fasih mengingat isi buku Creative Imagination in the Sufism of Ibn’Arabi. Aku pernah membaca buku itu, namun tidak bisa mengingat kata per kata di dalamnya. Apalagi buku itu hanya menafsirkan karya-karya Ibnu ‘Arabi, jangan-jangan dia malah sudah hafal di luar kepala dengan kitab-kitab Ibnu ‘Arabi seperti kitab Futuhat, kitab Fusus al-Hikam dan lainnya.

Banyak sekali pandangan kebanyakan dari kita, termasuk saya, bahwa laki-laki itu lebih gagah, lebih baik, lebih pintar dan lebih-lebih lainnya dari perempuan. Bagaimana aku tidak berpikir seperti itu, walapun ibuku perempuan yang mandiri dan pintar, tetap saja kemampuan ibu  masih di bawah ayah. Mbak Amirah yang hafal al-Qur’an dan pintar ilmu agama, tetap saja Mas Imam lebih menonjol perannya, Mbak Iffah yang cerdas dan bijak dalam menyelesaikan masalah, tapi kalau dijejerkan dengan Mas Faisal tetap saja Mas Faisal yang lebih baik.

Sepertinya teori ini ada yang salah, banyak dari kita memahami hal ini lantaran mendengar cuplikan hadist tentang perempuan itu “Naqishat ‘aqlin wa din” kurang akal dan agamanya. Kesalahan kita, kita lupa dengan keseluruhan teks tersebut yang sejatinya tidak menafsirkan perempuan dengan ketidak sempurnaan.

Saya pernah membaca buku Qiraah Mubadalah karya Kiai Faqihuddin Abdul Kodir, di sana dijelaskan dalam pandangan Abu Syuqqah dalam kitab Tahrir al-Mar’ah fi Ashr al-Risala: Dirasah ‘an al-Mar’ah Jami’a li al-Nushush al-Qur’an wa Shahihay al-Bukhari wa Muslim,  juz 1, bahwa Nabi Muhammad SAW dalam hadits tersebut justru sedang memuji perempuan. Teks penuhnya bisa diartikan  “Saya kagum dengan para perempuan ini, (yang dianggap) hanya punya separuh akal dan agama, tetapi sanggup mengalahkan laki-laki yang paling pintar dan paling teguh pendirian sekalipun.” Ini tentu bukan pernyataan hukum, atau penetapan norma dan adagium, tetap sebuah metode komunikasi seorang tokoh besar dengan para pengikutnya.

Jadi sebenarnya Kanjeng Nabi sedang merobohkan dinding aggapan masyarakat terhadap sosok perempuan yang selalu diartikan makhluk yang tidak sempurna akal dan agamanya. Ya, aku membaca kitab itu cukup lama, namun merasakan bahwa itu pesan Nabi untuk memuliakan perempuan baru aku rasakan setelah bertemu dengan Hilda. Benar-benar merobohkan paradigmaku tentang perempuan. Perempuan bukanlah makhluk yang lebih rendah dari laki-laki bahkan mereka bisa melebihi kemampuan laki-laki.

Baiklah Hilda, aku semakin kagum denganmu, kekagumanku menambah perasaan  cinta ini. Semakin menggebu keinginanku untuk memilikimu, perempuan secerdas kamu harus menikahi laki-laki yang cerdas pula.

“Oh Tuhan, harus lebih besar perjuanganku untuk belajar banyak hal, aku sedang menghadapi perempuan yang kuat dan pintar pengetahuan.”

Ku pandang  buku “After The Prophet” milik Mba Iffah, aku kembali membayangkan wajah Hilda yang sedikit melempar senyum ketika menerima buku yang sudah ku beli.

“Pasti dia sedang membaca buku ini.”

Aku mulai membuka buku yang bagiku buku ini bacaan yang berat penuh ketegangan dan penuh kejutan. Aku mendengar buku ini sudah lama,aku membuka halaman awal yang menunjukkan profil buku ini, terjemahan dari The Epic Story of The Shia-Shunni Split in islam (After The Prophet) terbitan Knopf Doubleday Publishing Group, terbit tahun 2009.

Aku membaca buku ini dengan penuh semangat, lembar demi lembar aku nikmati. Malam semakin larut tak membuat mata ini surut. Buku ini membawaku pada persimpangan kisah menegangkan yang seolah berada dalam negeri dongeng. Semua elemen kisah fantastik ada di dalamnya. Sesuai yang dikatakan The Fredericksburg Lance-Star, buku ini mengisahkan spiritual, pembunuhan,kekejaman, pertumpahan darah, perebutan kekuasaan dinasti, racun dan kekuasaan. Bahkan kisah istri yang membunuh suami, budak yang membunuh khalifah, ada pula sosok jahat, pengecut, bid’ah dan kemurtadan. Tak lupa ada kisah kepahlawanan yang sayang jika dilewatkan. Buku yang terlalu keren yang ditulis oleh seorang perempuan.

Aku sering menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepala, biasanya buku sejarah islam yang aku baca tidak merasakan hal yang luar biasa, apa mungkin karena ditutur penulisnya dalam gaya kepenulisan novel, sehingga membuat pembaca meluap-luap merasakan imajinasi sejarah masa lampau.

“Apa benar Hilda menikmati buku ini? Ini bacaan laki-laki walaupun yang menuliskannya adalah seorang perempuan, di bab bab tertentu terlalu mengerikan dan menyedihkan jika dibaca oleh perempuan. Sebenarnya  apa yang dia cari dalam buku ini? Sebenarnya bacaan macam apa yang digemarinya, hingga bacaan semacam ini pun dia mencarinya.”

Benar-benar, perempuan ini penuh misteri. Ku lihat jam dinding menunjukkan angka 3, “sebaiknya aku solat,”

***

Hilda melipat mukenahnya dan kembali melanjutkan bacaannya, Andin yang melihat Hilda belum tidur mendekatinnya.

“Buku apa Da? Kamu sampai tidak tidur semalaman?”

“Aku tidur koq Ndin, jam 11 aku tidur sejenak, tapi jam satu kembali terjaga. Buku ini sangat menarik dan entah membuatku tidak bisa memejamkan mata lagi.”

“Oh,,” kata Andin singkat dan dia kembali menarik selimutnya. “Subuh aku dibangunin gasik ya Da!” Hilda mengangguk tanpa berpaling dari bacaannya.

Sudah sekian kali Hilda memberi warna pada kalimat-kalimat dalam lembar buku tersebut. Kemudian sambil menuliskan inti-inti yang dia temukan dalam buku tersebut.

Belum lima puluh tahun Nabi Muhammad wafat, cucu kesayangan beliau telah dibantai, kemudian anggota keluarga perempuannya ditawan dan dirantai.

“Masyaallah, bagaimana mungkin ini bisa terjadi?”

Hilda memang tertarik membeli buku ini, walaupun dia pernah membaca buku-buku sejarah Islam lainnya, tapi buku ini penulisnya seorang perempuan yang mungkin akan menemukan perspektif baru dari buku ini. Hilda masih mencari-cari bagaimana nasib perempuan-perempuan Islam masa lalu saat terjadi perpecahan besar antara Syiah dan Sunni.

Malam itu di bilik pesantren, Hilda larut dalam bacaannya, dan tak jauh dari sana Wafa pun larut dalam bacaannya. Purnama yang sudah tak sempurna menjadi saksi kisah tentang mereka.

Berbeda dengan Iffah, yang masih menyimpan rasa penasarannya. Dia harus segera menemui adik sepupuhnya. Iffah melihat jelasada aura yang berbeda ketikaWafa memandang Hilda. Wafa kini sudah dewasa, dan aura itu mengarah pada rasa suka bahkan cinta.

“Besok saya harus menanyakan ini pada Wafa, jika memang dia mencintai Hilda, apakah dia sudah tahu tentang Hilda? Apakah dia tahu masa lalu Hilda?” pikir Iffah dalam hati.

(bersambung)

*Oleh: Muyassaroh H, asal Panguragan Cirebon. Saat ini menetap di Wonocatur Baguntapan Bantul. Bersama keluarga kecilnya Ia menemani anak-anak di TPA Masjid Az-Zahrotun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Budaya

To Top