Connect with us

Hilda (dua puluh)

Hilda

Budaya

Hilda (dua puluh)

Hilda (dua puluh)

Kebimbangan

“Kamu pulang ke Jepara kapan?” tanya Wafa.

“Belum tau mas, kalau jadwalnya besok siang baru pulang,”

Wafa berharap bisa mendapatkan nomer ponsel Hilda, dia pun teringat buku yang dipesan mba Ifah dan kebetulan belum dia kirim.

“Sebenarnya, mba Ifah kemaren nitip buku sama saya dan belum saya kirim.”

Hilda terdiam memahami kalimat Wafa.

“Boleh saya titip kamu saja ya?”

Hilda mengangguk.

“Tapi, buku masih di rumah. Gimana ya? Hilda pulangnya masih besok kan? Nah saya kasih nomer saya ya,” Wafa mengambil pulpen dan blok note Hilda tanpa izin terlebih dahulu. Wafa menuliskan nomernya.

“Nanti malam atau besok pagi Hilda bisa hubungi saya, untuk kasih tahu posisinya di mana, supaya saya bisa antar bukunya.”

Hilda masih terdiam, memandang deretan angka di atas blok note nya.

“Hilda, bisa kan saya nitip?” tanya Wafa lagi.

“Eh, njih mas, bisa. Nanti saya akan menghubungi njenengan.”

Wafa tersenyum dan berpamitan untuk menemui temannya yang beberapa saat lalu menyapa mereka. Hilda memandang perempuan cantik yang duduk di meja lain, dan melihatnya tersenyum, Hilda pun ikut tersenyum.

***

Alvin dan Huda menatap heran sahabatnya,

“Siapa Fa? Kita nggak dikenalin nih?”

Wafa tersenyum.

“Dia santrinya Bu Dhe, kebetulan ketemu saja.”

Seperti biasa mereka berbincang serius tapi juga santai, namun Zulfi sedikit berbeda, kali ini dia tidak banyak bicara.

“Trus gimana website kita?” tanya Huda.

“Tetep jalan dong,” jawab Wafa.

“Tapi kamu pergi, Alvin pulang kampung, aku sendiri ke Surabaya, bagaimana kita bisa ngurusi web lagi,” kata Huda.

“Iya, bener juga Fa. Mungkin saja kita akan larut dalam kesibukan kita masing-masing,” kata Alvin.

“Menurutmu gimana Zulfi?” tanya Wafa.

Zulfi masih diam, pikirannya tidak berada di tengah mereka. Dia masih memikirkan tentang bagaimana sebenarnya perasaan Wafa terhadap dirinya. Dirinya selama ini selalu tidak peduli dengan laki-laki yang mendekatinya, bahkan Alvin yang pernah mengungkapkan cintanya pun dia tolak, karena sebenarnya perasaannya hanya untuk Wafa.

“Ning…. koq nglamun,” panggil Alvin.

Zulfi tersadar dan segera membalas panggilan Alvin.

“Oh iya, gimana, maaf tadi aku gak konsen,” katanya dengan sedikit cemas. Huda, Alvin dan Wafa saling pandang merasa sahabatnya sedang memiliki masalah.

“Kamu kenapa Zulfi?” tanya Wafa.

“Iya, kamu kenapa?” Huda ikut menimpali.

“Aku nggak apa – apa koq. Jadi ini adalah pertemuan terakhir kita ya?” tanya Zulfi.

“Nggak lah Ning, kita bisa ketemu lagi.”

Zulfi kembali terdiam, dia mulai cemas dengan masa depannya. Keluarganya adalah keluarga pesantren di mana abah dan umminya sudah sering menannyakan kapan Zulfi siap menikah, karena sudah kesekian kali para gus datang menemui orang tuanya untuk meminang Zulfi. Selama ini Zulfi selalu menjawab dengan senyum ceria, dia bercerita pada ibunya kalau dia sudah menemukan pasangan yang cocok untuknya dan untuk melanjutkan pesantren abahnya, jadi tidak perlu dijodohkan, diapun menyakinkan laki-laki pilihannya adalah yang terbaik, ilmu agamanya baik, ilmu sosialnya baik juga pendidikannya baik. Saat itu dia merasa yakin jika Wafa memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya.

Namun sesaat yang lalu dia melihat sorotan mata laki-laki yang dia harapkan memancarkan cinta tapi bukan untuk dirinya, untuk orang lain. Seketika dia tidak mampu berpikir apapun selain dia akan mengembalikan semuanya kepada orang tuanya, dan dia tidak tahu kelak akan menikah dengan siapa. Harapan untuk menjadi perempuan yang bisa memilih suami sendiri pun sirna. Kini dia hanya bisa terdiam.

“Ning, kamu kenapa koq diam lagi?” Alvin mencoba membuat Zulfi bicara. Alvin tak mampu melihat kesedihan di wajah Zulfi, walaupun Alvin pernah ditolaknya, tapi Alvin masih menyimpan perasaan cinta untuk Zulfi, tapi dia tahu kalau Zulfi mencintai Wafa.

“Zulfi…” panggil Wafa. Zulfi mengangkat wajahnya dan melihat Wafa, tatapan mata Zulfi sangat dalam. Huda dan Alvin paham dengan tatapan itu, hanya Wafa yang tidak menyadarinya. Zulfi pun memandang kemeja yang dikenakan Wafa, kemeja yang tahun lalu menjadi hadiah ulang tahun Wafa. Dia masih ingat saat di mana Wafa sangat senang menerima hadiah itu.

“Wah, kamu tahu betul seleraku ya,” kata Wafa saat itu.

“Seleramu mudah ditebak Fa, kemeja polos berlengan panjang.” timpal Zufli.

“Terima kasih ya, bisa jadi baju andalanku nih,” kata Wafa yang saat itu membuat hati Zulfi berbunga dan bahagia.

Zulfi kembali menundukkan matanya, dia mengeluarkan sebuah bingkisan dari dalam tasnya dan menaruhnya di atas meja.

Huda dan Alvin saling pandang, Wafa langsung melihat bingkisan itu dan tertulis “untuk Wafa”

Wafa pun mengambil bingkisan itu, sebelum Wafa bertanya, Zulfi sudah mengatakan sesuatu.

“Itu untukmu, oh ya, untuk Alvin sama Huda aku lupa membawanya, besok aku antar ke kos kalian,” kata Zulfi dengan senyum yang dipaksakan.

“Maaf, sepertinya aku harus segera pulang, ada kerjaan yang harus aku selesaikan hari ini.”

Zulfi berdiri dan menyalami mereka, Alvin menahan tangan Zulfi,

“Kamu baik-baik saja Ning?” Zulvi mengangguk dan berlalu pergi.

Alvin masih mengejarnya sampai depan kafe.

“Aku antar pulang ya Ning,”

“Nggak usah, makasih ya. Terkait Web, aku manut kalian, oke…”

Zulfi berlalu pergi meninggalkan ketiga temannya. Alvin kembali ke meja dan menatap Wafa yang masih terdiam melihat bingkisan dari Zulfi. Wafa pun membukanya dan dia menemukan kemeja polos lengan panjang berwarna biru laut dengan warna kerahnya biru dongker. Di saku kemaja tersebut Wafa menemukan sebuah surat.

“Wafa apa yang terjadi pada Zulfi,” kata Alvin yang mulai tidak tenang.

Wafa masih terdiam dan membuka surat tersebut

Mas Wafa, bolehkah aku memanggilmu demikian?

Sudah lama aku mengumpulkan keberanianku untuk menulis surat ini, sepertinya saat ini aku tidak bisa menunggu keberanian itu lagi. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.

Mas Wafa, selama ini kita bersama, dan aku tidak tahu kapan perasaan ini muncul dalam hatiku, dan aku pun tak tahu apakah perasaanmu sama dengan perasaanku, namun dari sekian perjumpaan kita, aku merasa kamu pun memiliki perasaan yang sama denganku. Aku pun menunggumu untuk mengungkapkannya, namun kamu tak kunjung mengungkapkannya. Aku mulai ragu dengan perasaanku, tetapi kata bijak bestari bahwa cinta tidak boleh dipendam, cinta harus diungkapkan.

Karena kamu juga akan pergi, sebaiknya perasaan ini aku ungkapkan, entah perasaanmu sama atau tidak, aku akan merasa tenang ketika kamu mengetahuinya sebelum akhirnya pergi dan akan lama kita bisa berjumpa kembali.

Aku mencintaimu dengan tulus… aku tidak memintamu untuk memakai kemeja ini apabila menerima perasaanku ataupun tidak, aku akan cukup bahagia jika kamu mau menerima bingkisan kecil ini…

Dari aku Zulfi.

Wafa terdiam lama dan mencoba memahami apa yang terjadi. Bahwa Zulfi memiliki perasaan kepadanya. Huda mengambil surat Zulfi dari tangan Wafa. Alvin ikut membacanya. Wafa masih terdiam tidak tahu harus bagaimana.

“Aku sudah tahu, jika saat ini akan terjadi,” kata Alvin.

“Maksudmu?” tanya Huda.

“Fa, kamu tahu kalau Zulfi suka sama kamu?” Huda kembali bertanya, Wafa menggeleng.

“Bukannya kamu juga menyukai Zulfi?” kata Alvin dengan nada heran.

“Kukira juga demikian,” kata Huda.

“Zulfi bagiku sahabat, saudara Vin,” jawab Wafa.

“Maksudmu? Kamu tidak memiliki perasaan apa-apa padanya? Coba kamu pikir, kamu sering sekali menghindari perempuan-perempuan yang mencoba mendekatimu, dan kamu pun tidak merasa nyaman bersama perempuan kecuali dengan Zulfi, itu sudah jelas Fa, kamu menyukai Zulfi, hanya saja kamu tidak menyadari itu,” Alvin semakin tinggi nada suaranya.

“Tunggu, bukannya kamu yang menyukai Zulfi?” Wafa balik tanya.

“Iya, bukannya kamu pernah nembak dia?” Huda ikut bertanya. Alvin terdiam dan menggeleng kepalanya.

“Aku memang mencintai dia, sangat mencintainya, tapi ketika aku mengungkapkan itu pada Zulfi, dia bilang dia sudah mencintai orang lain. Dia bilang, abah dan umminya sudah menentukan perjodohannya dengan seorang Gus, tapi dia menolak dan berjanji pada abah dan umminya bahwa laki-laki pilihannya akan mampu membuat kebahagiaan dalam keluarganya dan mampu pula menggantikan posisi abahnya. Awalnya aku tidak tahu siapa orang itu, tapi melihat kalian aku sadar kalau yang dipilih Zulfi itu kamu Fa. Selama ini aku diam saja, karena aku yakin semua cowok menyukai Zulfi, bahkan Huda juga pernah suka sama Zulfi kan? Aku gak pernah nyangka kamu gak punya perasaan apa-apa.”

“Wait wait wait, kalau aku lebih tepatnya kagum, ngefans, tidak sepertimu yang cinta,” kata Huda.

“Fa, aku rela Zulfi menyukaimu yang penting persahabatan kita tidak terganggu. Katakan, kamu juga mencintai Zulfi kan?”

Wafa terdiam lama, cukup lama. Wafa mulai mencari tahu perasaannya terhadap Zulfi, jangan-jangan dia tidak menyadari bahwa sebenarnya dia juga menyukai Zulfi. Kenyamanannya bergaul dengan Zulfi memang tidak sama dengan perempuan lain, sikapnya kepada Zulfi juga tidak sama dengan sikapnya kepada perempuan lain, rasa nyaman mengobrol dengan Zulfi tidak dia dapatkan ketika ngobrol dengan perempuan lain, tapi bersama Zulfi, Wafa tidak merasakan debaran-debaran yang dia rasakan ketika bersama Hilda.

“Tidak Vin, aku memang nyaman berteman dengan Zulfi, jalan bersama Zulfi, sama seperti ketika aku bersama kalian. Zulfi salah faham, aku harus berbicara kepadanya.”

Wafa membereskan tasnya, namun pandangan matanya menangkap sosok Hilda yang juga membereskan tasnya dan menuju keluar kafe untuk berkumpul dengan teman-temannya. Wafa hanya memandangnya dari jauh dan segera beranjak pergi. Huda memegang pundak Wafa dan menyampaikan sesuatu padanya,

“Fa, coba kamu renungkan lagi perasaanmu terhadap Zulfi.”

(bersambung)

 

*Oleh: Muyassaroh H, asal Panguragan Cirebon. Saat ini menetap di Wonocatur Baguntapan Bantul. Bersama keluarga kecilnya Ia menemani anak-anak di TPA Masjid Az-Zahrotun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Budaya

  • Hilda Hilda

    Budaya

    Hilda (Sembilan Belas)

    By

    Takdir Berkata Iya Hilda mendengar bahwa Wafa sudah pulang beberapa hari lalu, dia mendengar kesedihan Andin...

  • Budaya

    Kisah Romansa Suhita

    By

    Oleh: Maria Fauzi Membaca Hati Suhita, karangan dari novelis perempuan Khilma Anis, memang cukup membawa kesan...

  • Hilda Hilda

    Budaya

    Hilda (Delapan Belas)

    By

    Keraguan “Besok kamu harus pulang lhe,” Suara ibu memecah pikiranku. “Wafa akan pulang hari Rabu ya...

  • Hilda Hilda

    Budaya

    Hilda (tujuh belas)

    By

    Senyum Hilda Pagi ini pondok terasa sepi, lantaran banyak yang sudah berangkat ke sekolah dan kuliah...

  • Hilda Hilda

    Budaya

    Hilda (enam belas)

    By

    Aku Rindang, orang yang selalu ingin berterima kasih kepada dua perempuan yang telah memberikan banyak pelajaran...

To Top