Connect with us

Hilda (Dua Belas)

Hilda

Budaya

Hilda (Dua Belas)

Hilda (Dua Belas)

(Episode 12)

“Hilda…Hilda… Kamu baik-baik saja dek?” Tanya Afwa yang melihat Hilda tiba-tiba menangis cukup pilu di pojokan. Hilda memeluk Afwa, pelukan kencang dengan perasaan penuh amarah dan kesedihan. Afwa mencoba menenangkannya. Afwa memahami betul perasaan Hilda, dan merasakan betul makna tetesan air mata Hilda.

Afwa selalu memandang Hilda memiliki dua kepribadian, satu sisi Hilda adalah perempuan tangguh, rajin, cerdas, pantang menyerah, cuek, sedikit tegas. Satu sisi, Hilda adalah perempuan lemah, sering ketakutan, diam menyendiri, dan mudah menangis.

Afwa mengambil kertas yang berada di tanganya. Surat terakhir dari Bela, sahabatnya yang tidak bisa dilupakan. Afwa melipat kertas surat tersebut dan menaruh dalam laci kecil lemarinya Hilda.

“Kamu mengingat Bela?” Tanya Afwa dan Hilda mengangguk.

“Sebaiknya kesedihanmu ini, kamu tuangkan untuk membaca ayat suci al-Quran dan doa untuk Bela. Karena Bela juga tidak ingin kamu menangis seperti ini.”

Hilda mengangguk dan beranjak mengambil air wudhu, kemudian memulai membacakan doa dan tahlil buat Bela. Afwa pun ikut membacanya sembari memastikan Hilda untuk tetap tenang.

Setelah selesai membaca doa dan tahlil, Afwa mencoba mengalihkan pikiran Hilda dengan menanyakan kegiatan barunya di kampus.

“Katanya kamu ikut pelatihan menulis  di kampus ya? Bagaimana perkembangannya?”

“Iya mba, ini masih proses pelatihan, kemaren pelatihan yang kedua. Alhamdulillah aku bisa mengikutinya.”

“Wah, bakal jadi penulis nih nanti kamu,” Afwa memuji Hilda.

“Masih harus banyak belajar mba, peserta lain malah sudah pinter-pinter dalam menulis. Kebanyakan mereka menulis dengan gaya fiksi. Aku nggak bisa mba, gaya tulisanku masih kaku,” katanya, Afwa berhasil mengalihkan kesedihan Hilda.

“Keren, aku boleh baca tulisanmu?” tanya Afwa yang memang penasaran dalam kemampuan Hilda yang serba mengagetkan.

“Boleh mba, sekalian jika ada masukan ya mba.”  Hilda mengambil kertas dan menyerahkan ke Afwa.

***

Pertemuan ketiga ini terasa berbeda bagi Hilda. Sebelumya banyak sekali ilmu tentang kepenulisan yang dia dapatkan. Sekarang materi dan narasumbernya tidak dari anggota LPM sendiri tapi seorang aktifis perempuan.

“Baik, untuk pertemuan ketiga ini ada sesuatu yang berbeda dengan sebelumnya. Hari ini kita tidak membicarakan teknik menulis lagi, akan tetapi kita akan membicarakan sudut pandang seorang penulis.” Kata Ria, fasilitator dari LPM kampus.

“Sebagai penulis, selain sensitifitas juga netralitas perlu selalu dijaga. Berbicara fakta atau nyata harus selalu menjadi landasan bagi penulis. Oleh karena itu penting bagi penulis untuk tidak bias memandang sesuatu.” Peserta sedikit bingung memahami penjelasan Ria, begitupun Hilda. Mereka saling pandang dan saling mengerutkan dahi.

“Jadi, kali ini kita perlu berdiskusi tentang gender.”

Tiba-tiba ada salah satu peserta mengangkat tangannya. Ria mempersilahkan peserta tersebut untuk berbicara.

“Mbak apa hubungannya menulis dengan gender? Kemudian seberapa pentingkah pengaruh memahami gender dengan proses menulis?”

“Pertanyaan yang bagus Ardi. Baik, sebelumnya saya akan memberi kalian sebuah berita, silahkan perhatikan dari kedua berita berikut.” Ria menampilkan dua buah berita pada layar proyektor.

Seketika Hilda terpaku membaca berita tersebut, berita yang di hadapannya saat ini mengingatkan kembali memori masa lalunya.

“Perhatikan judul berita pertama ‘Karena Sering Berpakaian Seksi, Seorang Remaja Diperkosa Ayah Tirinya,’ kemudian judul berita yang kedua ‘Hamil Di Luar Nikah, Pelajar Ini Dilarang Melanjutkan Sekolah.’ Coba kalian perhatikan kesamaan dalam kedua judul tersebut.”

Semua peserta terdiam, mereka masih mencari-cari apa yang sebenarnya diinginkan Ria dalam hal ini. Sebuah pemahaman gender dan dua berita. Sama sekali tidak berhubungan.

 

Hilda mengangkat tangannya.

“Iya silahkan Hilda.” Ria mempersilahkan Hilda berbicara.

“Kedua berita tersebut tidak berimbang, kenapa? karena dari judulnya saja berita tersebut terkesan sudah mempersepsikan bahwa perempuan yang bersalah. Pada berita pertama, seolah wajar saja ayah tirinya melakukan kekerasan seksual terhadap anaknya karena pakaian yang dikenakannya. Sedangkan berita kedua, wajar saja pelajar perempuan itu dikeluarkan lantaran dia hamil di luar nikah.” Hilda mengambil nafas dan melanjutannya,“padahal mereka adalah korban,” lanjutnya.

“Saya memang belum tahu isi berita tersebut, akan tetapi sebuah judul berita itu akan sangat menentukan persepsi pembacanya. Mungkin saja makna yang muncul dari pembaca adalah semua kejahatan seksual berawal dari kesalahan perempuan. Sayangnya dalam hal ini pelaku kejahatan bebas dari pembahasan publik.”

Ria memandang sorotan mata Hilda, dia merasa heran pada peserta ini. Bagaimana tidak, awal ikut pelatihan Hilda mengatakan kalau dirinya belum tahu sama sekali teknis menulis. Dan pertemuan ketiga ini, tulisannya sangat berbobot dibandingkan peserta lain, dan sekarang dia sudah memahami tentang isu gender bahkan pada kasus kekerasan seksual.

Peserta yang lain mulai mengangguk-angguk lantaran mereka tidak berpikir sejauh Hilda. Bahkan kebanyakan mereka merasa sebenarnya tidak ada masalah pada berita tersebut.

“Iya,memang ini hanya sebuah berita. Tetapi efeknya akan jauh berbeda bagi orang yang tidak sebagai korban dan bagi mereka yang menjadi korban. Berita pun bisa menjadi sesuatu yang mengerikan bagi korban. Kesalahan mengambil sudut pandang dalam berita, akan lebih menyakiti korban. Jadi, menurut saya, seorang penulis atau jurnalis harus memiliki sudut pandang yang adil dan berimbang.”

Ria mengangguk dengan yakin bawa Hilda akan bisa mengikuti pelatihan ini dengan lebih baik.

“Baiklah Hilda, terima kasih sudah memaparkan pendapatnya. Sepertinya pembukaan kali ini sudah cukup jelas, dan mari kita mengenal apa itu keadilan gender. Sampai sore nanti kita ditemani Mbak Khotim, aktivis perempuan dan juga pejuang kemanusiaan. Silahkan mbak Khotim untuk berkenan membagi ilmunya.”

Mbak Khotim pun memperkenalkan diri dan memulai materinya. Hilda mulai serius memperhatikan semua yang disampaikan. Bahkan dia mencatat semua referensi yang perlu dia baca untuk menambah wawasannya.

Ria yang melihat semangat Hilda berencana mengajak Hilda gabung dalam kepengurusan LPM kampusnya, bukan sekedar mengikuti pelatihan ini.

“Yang disampaikan Hilda memang betul, ketika penulis atau jurnalis belum memiliki pemahaman gender dengan baik, maka berita seperti contoh tersebut akan selalu disajikan. Efek yang muncul dari berita tersebut adalah, perempuanlah yang menyebabkan kejahatan itu, perempuanlah yang harus menanggung beban kejahatan orang lain, perempuanlah yang disudutkan, dikucilkan, didiskriminasikan, sehingga perempuan dipandang lemah dan pelaku-pelaku baru bisa muncul selanjutnya,” jelas Khotim.

“Bahkan ada berita yang lebih miris lagi yang pernah saya baca. Saya temukan berita tersebut beberapa tahun yang lalu dengan judul ‘Pelajar Bunuh Diri, Menanggung Malu Karena Hamil’. Kebetulan saya dan teman-teman saat itu mencoba menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada pelajar tersebut. Ternyata pelajar tersebut sudah mengalami kekerasan seksual, kemudian orang tuanya ingin menikahkan pelajar tersebut dengan pelakunya. Jangankan menikah, pelajar ini melihat wajah pelaku penuh kebencian. Orang tua tidak tahan dengan masyarakat yang menggunjingnya, dan malu melihat anaknya yang masih sekolah sudah hamil. Sekolahnya pun mengeluarkan pelajar tersebut. Dengan beban berat yang dialaminya, akhirnya pelajar tersebut memutuskan untuk gantung diri di kamarnya. Tetapi apa yang sudah diberitakan oleh wartawan tersebut, dari judulnya saja perempuan tersudutkan,” lanjut Khotim.

Peserta saling pandang dengan cerita yang disampaikan Khotim, sedangkan Hilda tertunduk mencoba menahan perasaannya.

“Oleh karena itu kalian sebagai calon penulis harus memiliki perspektif gender yang bagus. Supaya kita bisa menyuarakan kebenaran dan keadilan.”

Penjelasan Khotim membuat hati Hilda mulai panas, seolah ada tungku yang menyala dan siap membakar kayu-kayu. Tangannya bergetar, bibirnya tak henti beristigfar. Sembari itu dia tetap fokus mendengarkan penjelasan dari Khotim.

“Inilah fakta sosial dalam masyarakat, kesejajaran laki-laki dan perempuan cukup lemah. Menurut KH. Sahal Mahfudz, penilaian yang bias terhadap perempuan tersebut pada dasarnya juga berawal dari tiga buah asumsi dasar tentang keyakinan dalam beragama. Pertama, asumsi dogmatis yang secara eksplisit menempatkan perempuan sebagai pelengkap. Kedua, dogma bahwa bakat moral etik perempuan lebih rendah. Ketiga, pandangan materialistik, ideologi masyarakat Makkah pra-Islam yang memandang rendah peran perempuan dalam proses produksi. Di sisi lain, Islam sesungguhnya secara ideal normatif tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Bahkan Islam sebagai pembawa keselamatan dan kerahmatan seluruh alam (rahmatan lil alamin) menempatkan pengangkatan derajat dan posisi perempuan sebagai bukti keutamaannya.”

Hilda mengangguk membenarkan penjelasan Khotim. “Perempuan pada masa jahiliyah tidak dihargai. Dengan kedatangan Islam, perempuan mendapatkan tempat terhormat, memperoleh pendidikan, dan terbukanya kesempatan yang lebih luas untuk aktualisasi dan pegembangan diri,” lanjut Khotim.

“Oleh karena itu jika ada orang yang berpikir bahwa perempuan selalu nomor dua, atau menganggap mereka manusia lemah dalam keilmuan sehingga tidak didukung masa pendidikannya, maka orang tersebut berpikir mudur ya mbak?” Hilda menyampaikan pendapatnya dan khotim tersenyum mengangguk. “Tepat sekali.”

“Tentu tidak mudah membanggun kesadaran adil gender ini, akan tetapi saya yakin jika anak-anak muda seperti teman-teman di sini ikut berpartisipasi, maka pesan agama tentang rahmatan lil’alamin akan terwujud,” lanjutnya.

Hari semakin sore dan perjumpaan dengan Khotim membuat Hilda memiliki sesuatu yang baru. Dia lebih tampak bahagia dan memiliki harapan besar untuk langkah ke depannya.

“Baiklah, tugas untuk minggu depan. Silahkan kalian membuat tulisan boleh fiksi boleh non-fiksi, tentang ‘Perempuan selalu menjadi objek yang dikorbankan dalam kasus kekerasan seksual’ ingat gunakan critical thingking untuk tulisan kalian.”

“’Mbak Ria, kita yang laki-laki juga sama tugasnya?” Salah satu peserta laki-laki bertanya.

“Ya, kenapa tidak? Bukankah banyak dari pelaku adalah kaum kalian.” Kata Ria dengan sedikit senyuman dan disambut senyuman semua peserta.

***

Sembari menunggu bis melintas di depan kampus, Hilda mencoba membaca ulang materi yang dibagikan Khotim. Dia mencoba memetakan hal-hal terkait dengan apa sudah ada dalam benaknya. Sebuah bis berhenti di depannya, dengan ringan dia melangkah memasuki bis dan mencari tempat duduk yang cukup nyaman untuk kembali meneruskan bacaannya.

Bis melaju dengan tenang, lalu rintikan hujan pun turun menyebabkan Hilda menutup catatannya dan menikmati hujan di balik jendela bis. Dia menghela nafas panjang, dia kembali mengingat betapa besarnya kemurahan dan petunjuk Allah SWT yang telah dia terima.

Andaikan tidak ada yang menunjukkan bahwa keahlian menulis itu penting, tidak mungkin aku sampai tahap ini. Terima kasih ya Allah, terima kasih mas Wafa. Tanpa disadarinya nama Wafa terucap dari bibirnya. Dan hujan kali ini menyaksikan ketenangan hati Hilda dan seseorang yang tanpa dia sadari melesat dalam bayangannya. Seolah hujan membawa bayangan tersebut dan Hilda memandanginya dengan senyum keteduhan.

***

“Mbak, mandap pundi?” Tanya Kernet bus yang membuat Hilda terbangun.

“Oh, Pertigaan Bagor sampun lewat pak?” Tanya Hilda.

Dereng mba, bentar lagi.” Kata kernet.

Hilda menyiapkan diri untuk turun dan kembali memandang hujan yang masih turun deras yang membuatnya mengingat masa lalu.

Dari pertigaan Bagor menuju pesantren masih 2 kilo meter, Hilda berlari menuju warung Mbok Sri, warung inilah yang menjadi tempat parkir sepeda santri-santri yang sekolah dan kuliah di kota Jepara.

“Waduh, gembos.” Hilda menoleh ke kanan ke kiri mencari sesuatu.

“Pripun mba Hilda?” Tanya Mbok Sri.

“Niki Mbok sepedane gembos,”

“Walah iku ora gembos, iku bocor,” kata Mbok Sri sambil menunjuk lobang yang tepat di bagian ban belakang sepeda Hilda.

Hilda menghela nafas pasrah, jam tangannya menunjukkan pukul lima sore. Hujan tidak selebat sebelumnya, dia tidak mau ketinggalan ngaji Gus Imam.

“Mbok, saya pulang duluan niki mpun kesorean.”

Mlaku?”

“Njeh..”

Pitmu tinggal kene wae, nanti kalo mbah Sugeng dateng biar ditambalke.”

“Njeh mbok, nitip sepeda kulo.”

Hilda meminta kresek dan memasukkan tas ke dalamnya, kemudian Hilda berlari sambil menutup kepalanya, karena berangkat tersa-gesa dia kelupan bawa jas hujan dan payung.

Setelah tiga ratus meter berjalan, hujan kembali lebat, tapi Hilda tetap semangat melangkahkan kakinya. Tiba-tiba ada mobil berhenti di depannya dan membunyikan klakson.

“Mau pulang ke pondok?”

Hilda masih terbengong menoleh ke belakang, siapa tahu bukan dia yang dipanggilnya. Seorang laki-laki turun dari mobil dengan membawa payung dan menghampirinya. Hilda terkejut dengan laki-laki yang tepat berdiri di depannya dan menjulurkan payung hingga mereka berdekatan dalam satu payung.

“Mas Wafa, njenengan,

“Kamu tidak boleh hujan-hujanan, ayo masuk mobil, kita ke pondok bersama.”

Teriakan Wafa bersautan dengan rintikan hujan, namun suaranya sangat jelas terdengar. Tanpa berkata apa-apa, dan karena Wafa keponakan Ibu Nyainya yang memberi perintah, Hilda menuruti perintahnya dengan pikiran bingung kemana-mana.

Hilda duduk di jok belakang dengan wajah menunduk. Dia bingung, bajunya yang basah kuyup sudah membasahi jok mobil Wafa.

Ngapunten, ini saya basah semua, jok njenengan,”

“Biarkan saja, nanti juga mengering. Sebentar saya ada handuk bersih di tas.”

Wafa membuka tas ranselnya, kemudian memberikan handuk biru kepada Hilda.

“Pakai ini dulu supaya tidak terlalu basah.”

Hilda mengambil handuk tersebut dan menduduki handuk tersebut untuk menahan air dari tubuhnya yang terus menetesi jok mobil Wafa. Wafa menjalankan mobilnya dengan tenang menuju pondok. Selama beberapa menit di dalam mobil, mereka saling membisu. (bersambung)

*Oleh: Muyassaroh H, asal Panguragan Cirebon. Saat ini menetap di Wonocatur Baguntapan Bantul. Bersama keluarga kecilnya Ia menemani anak-anak di TPA Masjid Az-Zahrotun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Budaya

  • Hilda Hilda

    Budaya

    Hilda (lima belas): Mengapa Luka tak Kunjung Sirna?

    By

    (Episode 15) Aku Rindang, orang yang selalu merindukan sosok Hilda dan Ibunya. Sudah sekian tahun Aku...

  • Hilda Hilda

    Budaya

    Hilda (Empat Belas)

    By

    (Episode 14) Bagaiamana aku bisa melupakan tatapan itu dan suaranya yang kian detik kian melintas dalam...

  • Hilda Hilda

    Budaya

    Hilda (Tiga Belas)

    By

    (episode 13) Hujan semakin deras, membuat penglihatan Wafa terbatas sehingga mobil melaju pelan. “Dari mana tadi?”...

  • Budaya

    A Graveside Ritual*

    By

    CERPEN Akhiriyati Sundari** Penerjemah oleh Yahya TP, Editor oleh Matt Woolgar . Mother wants to perform...

  • Cerita

    Sarung Santri

    By

    Cerpen Muyassarotul Hafidzoh Aku menghentikan pencarianku sejenak, menerawang bayangannya. Ya! Seseorang. — Dia adalah seorang pemuda...

To Top