Connect with us

Hilda (Delapan Belas)

Hilda

Budaya

Hilda (Delapan Belas)

Hilda (Delapan Belas)

Keraguan

“Besok kamu harus pulang lhe,” Suara ibu memecah pikiranku.

“Wafa akan pulang hari Rabu ya bu..,”pintaku.

“Ayahmu sudah tanya kamu terus menerus, ibu dah gak tahu harus jawab apa lagi. Lagian urusan paspor juga belum selesaikan? Belum lagi visa, kamu ini bagaimana, gak biasanya kamu tidak bisa mengatur waktu seperti ini.”

Aku terdiam beberapa saat.

Njeh ibu, Wafa akan pulang besok njeh, karena malam ini Wafa ada acara di rumahnya mb Ifah dulu,” kataku menenangkan ibu.

“Iya, jangan lupa kamu pamitan sama bu dhe dan pak dhe, juga mb ifah sekeluarga.”

Njeh ibu..”

Ibu menutup teleponnya, aku berjalan menuju ndalem bu dhe. Aku melihat dari jauh tamunya bu dhe yang membawa anak tuna rungu itu berpamitan dan masuk ke dalam mobilnya. Tapi tiba-tiba anak kecil tadi berlari menghampiri Hilda dan berbicara dengan bahasa isyarat, entah apa maksudnya aku tidak paham. Anak itu menaruh telapak tangan kananya dibawah bibir lalu menariknya ke depan, selanjutnya dia menunjuk dadanya dan mengepalkan kedua tanganya dan menyilangkan di dadanya seperti memeluk, kemudian telunjuknya menunjuk Hilda. Hilda pun menjawab dengan ibu jari dan kelingkingnya terbuka sedangkan tiga jari lainnya menekuk ke dalam dan menariknya ke depan dan ke belakang. Kemudian mereka berpelukkan dan saling melambaikan tangan.

Aku pun meninggalkan pemandangan itu dan langsung menuju kamar untuk segera beberes. Memang setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Pertemuan dengan Hilda beberapa minggu ini mungkin akan lama membekas di pikiranku. Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Mungkin saja setelah aku pergi, kami tidak bisa bertemu lagi atau sebaliknya.

Ya, terkadang hal terbaik dan terindah di dunia tidak bisa terlihat atau disentuh, hal tersebut harus dirasakan dengan hati. Selamat datang Hilda di dalam hati ini, semoga namamu memang tertulis untuk diriku.

***

“Hati-hati di jalan ya lhe,” kata bu dhe, aku menganguk.

“Kabari ya kalau kamu dah mau berangkat, semoga kami semua bisa mengantarmu.”

Aku kembali mengangguk.

“Wafa nanti malam menginap di tempat mbak Ifah dulu, besok paginya Wafa pulang.”

Aku mencium tangan bu dhe, tangan pak dhe dan berpamitan dengan mba Amira dan memeluk mas Imam.

“Entah mengapa aku berpikir kamu sedang jatuh cinta, tapi beberapa hari ini aku cari tahu siapa perempuan itu tapi belum aku temukan.”

Tiba-tiba mas Imam berbisik padaku, akupun terkejut, bagaimana bisa dia tahu.

“Semoga segera kamu cerita siapa perempuan itu, karena baru kali ini mas lihat sorotan matamu berbeda.”

Aku memeluk mas Imam kembali dan membalas berbisik kepadanya. “Tak mudah perempuan membuatku jatuh cinta mas, sepertinya mas Imam belum tepat memaknai sorotan mataku.”

Mas Imam tersenyum menandakan ketidak percayaannya dengan perkataanku.

“Yo wis, hati-hati ya Fa,” kata mas Imam. “Siap mas,” jawabku.

Segera aku melaju menuju rumah mba Ifah.

“Iya mba, ini sudah otewe ke rumah.”

“Oke, acaranya nanti setelah isya’, jadi kamu temenin mba dulu ya.”

“Mau kemana mba?”

“Ini mba masih di kampus, tunggu mba di warung kopi depan kampus ya.”

“Sekarang mba? Wafa sudah jalan ke rumah.”

“Di rumah gak ada orang, pada pergi semua, kamu tunggu mba di sana dulu, mba tadi gak bawa mobil jadi nanti pulang sekalian bareng kamu.”

“Bilang aja mau dijemput,” kataku.

“Hehehe…. Wes, gek ke kampus. Ini mba udah mau selesai.”

“Iya, Wafa puter balik dulu.”

Permintaan mb Ifah selalu tidak bisa ku tolak. Aku putar balik menuju kampus dan siap menunggu mba Ifah di warung kopi depan kampusnya.

***

Ifah segera membereskan mejanya dan segera menuju warung kopi. Dia tidak sabar ingin menanyakan banyak hal kepada Wafa. Bagaimanapun sikap Wafa kepada Hilda tempo hari membuatnya penasaran, belum pernah dia melihat Wafa menatap perempuan seperti itu, belum pernah dia melihat Wafa memunculkan aura kebahagiaan saat bersama perempuan. Ifah sangat yakin Wafa sedang jatuh cinta.

“Dah lama Fa,” tanyanya.

“Gak terlalu mba, mau langsung pulang atau bagaimana?” tanya Wafa.

“Aku mau ngopi dulu lah, sambil ngobrol sama kamu. Beberapa waktu lagi kamu fokus study dan pasti kita jarang berkomunikasi.” Wafa mengangguk.

“Jadi kamu rencana pulang besok?” kata Ifah membuka pembicaraannya.

“Ibu dah nyuruh pulang mba,” kata Wafa.

“Mba juga heran kenapa kamu masih di Jepara, gak biasanya kamu berlama-lama di sini.”

Wafa tersenyum, dan senyumnya terlihat jelas dia menyembunyikan sesuatu.

“Boleh tanya sesuatu?”

“Iya mba, tanya apa?”

“Kamu sudah lama kenal Hilda?” Wafa terkejut dengan pertanyaan Ifah, terlihat dia salah tingkah dan bingung seandainya perasaannya diketahui Ifah.

“Kenapa mendadak tanya tentang Hilda, kan enggak ada hubungannya denganku.”

“Wafa, kamu itu orang yang bisa berbohong di depanku. Coba katakan sesungguhnya, kamu jatuh cinta sama Hilda?” Wafa semakin terkejut dengan pertanyaan Ifah yang langsung tanpa basa-basi. Wafa terdiam cukup lama, mencoba menata kalimat yang tepat untuk disampaikannya.

“Mba, bahkan kami berteman saja tidak? Bagaimana aku bisa jatuh cinta pada Hilda?”

Ifah mengernyitkan alisnya, “Itu kamu sendiri yang tahu, bagaimana kamu bisa jatuh cinta pada Hilda, yang mungkin belum kamu kenal betul latar belakangnya, saya heran, bagaimana kamu bisa memutuskan untuk jatuh cinta pada orang yang bahkan kamu belum mengenal betul orang tersebut,” kata Ifah memancing Wafa mengungkapkan perasaannya.

“Mba Ifah, sepenting apakah kita harus mengetahui latar belakang seseorang, hingga itu menjadi sebuah syarat kita untuk jatuh cinta. Tidak cukupkah karena orang itu baik dan tampak sempurna bagi kita.”

Wafa sudah masuk dalam jebakannya Ifah, Ifah mengangguk paham dan yakin kalau memang benar Wafa sudah jatuh cinta pada Hilda.

“Wafa… kamu benar-benar sudah jatuh cinta dengan Hilda.”

Wafa kembali terkejut kesekian kalinya, dia menunduk, telapak tanganya mengusap dahi dan matanya.

Ifah tersenyum dan menepuk pundak adiknya itu.

“Terkadang kita sulit membedakan antara jatuh cinta atau rasa kagum terhadap seseorang. Hilda memang perempuan yang baik dan kecerdasannya luar biasa. Saya termasuk orang yang mengaguminya. Mengetahui latar belakang seseorang itu memang penting, karena dari situ kita tahu apakah kita benar-benar mencintainya atau tidak. Setiap orang memiliki latar belakang berbeda-beda, ada yang menyenangkan ada pula yang menyedihkan. Mba hanya khawatir perasaanmu itu akan melukaimu ataukah akan melukai Hilda.”

Wafa merasa tidak memahami apa yang disampaikan Ifah, apa maksud dari melukai hatinya dan hati Hilda.

“Mba, seandaianya betul perasaan ini adalah cinta untuk Hilda. Aku juga menyadari bahwa aku akan pergi cukup lama dan dalam waktu selama itu aku tidak tahu, apakah perasaanku akan hilang dan bisa melupakannya, atau aku menemukan orang lain yang bisa mengisi hatiku. Entahlah. Mungkin memang benar, perasaanku ini lebih dari kata kagum kepada perempuan bernama Hilda, tapi entah takdir akan berkata apa, kita tunggu saja,” kata Wafa dengan keyakinan.

Ifah terdiam memahami apa yang disampaikan Wafa, jika demikian tak perlulah dia menceritakan latar belakang Hilda pada Wafa. Sangat mungkin ini hanya perasaan sesaat dan benar juga, siapa tahu di sana Wafa akan menemukan perempuan yang bisa mengisi hatinya, dan mungkin saja Hilda juga menemukan laki-laki yang bisa mendampinginya. Waktu tiga tahun tidak sebentar, maka bisa saja terjadi banyak perubahan antara mereka.

“Baiklah, mari habiskan kopinya dan kita pulang.”

Wafa mengangguk dalam diam.

***

Sejak mba Ifah berbicara tentang Hilda di warung kopi, pikiran ini kembali kacau. Entah apa bisa aku melupakan Hilda, memang Hilda memiliki latar belakang seperti apa? Kenapa mba Ifah harus mencemaskan perasaanku. Aku jatuh cinta dan tidak itukan hakku.

Kunikmati perjalanan pulang dengan mendengarkan radio yang saat ini sedang memutar lagu Kahitna yang seakan mewakili perasaan ini.

 

Bilakah dia tahu
Apa yang t’lah terjadi
Semenjak hari itu
Hati ini miliknya

Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang Ku damba

Bilakah dia mengerti
Apa yang t’lah terjadi
Hasratku tak tertahan
Tuk dapatkan dirinya

Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah di jatuh cinta
Seperti apa yang ku damba

Tuhan yakinkah dia
Tuk jatuh cinta
Hanya untukku
Andai dia tahu

Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah di jatuh cinta
Seperti apa yang Ku damba

Bilakah dia mengerti
Apa…

(Bersambung)

*Oleh: Muyassaroh H, asal Panguragan Cirebon. Saat ini menetap di Wonocatur Baguntapan Bantul. Bersama keluarga kecilnya Ia menemani anak-anak di TPA Masjid Az-Zahrotun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Budaya

To Top