Oleh: Muyassarotul H

Cinta Pertama Pada Pertemuan Kedua

Cinta dalam Mimpi

(episode 2)

Aku akan bercerita tentang dia, tentang seorang perempuan, ya betul! Tentang kisah cinta pertama.

Aku awali dari hari setelah kami pertama kali bertemu, ketika saat itu dia jatuh dari sepedanya dan masuk ke selokan sawah.

Hari kedua itu adalah hari minggu, saat itu aku sangat suntuk dengan tugas yang diberikan abah. Aku memang memiliki kemampuan mudah menghafal dan memahami sesuatu, dengan kemampuanku tersebut, abah punya target tersendiri. Minggu lalu aku harus selesai memaknai kitab Bulughul Marom, dan minggu ini aku harus bisa menyelesaikan sorogan kepada abah baik sorogan makna maupun sorogan hafalan hadist dalam kitab tersebut.

Bukan hal yang berat bagiku, namun aku lebih gemar menghafal sebuah nadzom, dan yang paling aku gemari adalah nadzom alfiyah. Setiap aku merasa suntuk, tempat inilah yang aku datangi dan kitab alfiyahlah yang aku bawa.

Aku lantunkan nadzomnya, aku analogikan maknanya, bukan sekedar makna dalam ilmu nahwu karena jika kita perhatikan betul, maka banyak makna kehidupan yang bisa kita pelajari dalam kitab ini.

***

“Mas, Hey, Mase….”

Aku menoleh pada suara yang sepertinya memanggilku.

“Sering di sini ya? Hari minggu gini koq pake seragam, emang gak libur.”

Pelajar SMP yang kutemui beberapa hari sebelumnya kembali muncul di hadapanku. Pertemuan yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan, apalagi melihat ekspresi wajahnya saat tercebur selokan.

“Mas, koq diem aja?” katanya membuyarkan lamunanku.

“Iya, ini tempat yang aku datangi kalo lagi suntuk. Di sini angin semilir dan aroma sawah bikin pikiran bisa tenang.” Kulihat dia mengangguk.

“Kamu gak libur ya?” tanyanya.

“Sekolahku liburnya hari Jumat,” jawabku.

“Oh, kamu santri Pondok Al-Falah ya?” Aku tersenyum dan mengangguk.

“Tetanggaku juga banyak yang mondok di sana. Bahkan saudara sepupuhku juga mondok di sana, dia malah sudah bertahun tahun. Kamu kenal gak ya? Namannya mba Sari.”

Aku ingin menjawab pertanyaannya tapi dia kembali berbicara.

“Mungkin kamu gak kenal, pondok al-Falah kan besar dan banyak kompleknya, tiap kompleknya punya pengasuh sendiri-sendiri, juga komplek putra putri terpisah. Mungkin saja mba Sari gak satu komplek sama kamu.”

Aku kembali tersenyum dan mengangguk.

“Baca kitab apaan mas?”

“Ini Nadzom Alfiah ibnu Malik,” kataku, dia mengangguk dan duduk satu meter di sampingku.

“Pasti kamu pintar ilmu agama ya? Aku sebenarnya ingin bisa memahami ilmu agama dengan baik, tapi entah kenapa aku kesulitan setiap menghafal istilah-istilah arab, bahkan terkadang bingung sekedar membedakan mana sunnah mana rukun sholat,” katanya dengan wajah terlihat sedih dan tatapan mata dilemparnya ke sawah yang membentang luas di hadapan kami.

Aku malah terbahak mendengar kalimatnya.

“Kenapa tertawa? Kamu menghinaku ya, karena aku bukan santri sepertimu yang pandai dalam ilmu agama?”

“Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja aku heran, bukannya syarat, rukun dan sunnah sholat itu pelajaran saat kita SD. Kamu dengan mudah melupakan pelajaran yang sudah kamu pelajari di bangku SD, dan bukannya kita setiap hari sholat. Hahahaha……” aku benar-benar tak bisa menahan tawa.

“Ehmm, mas aku mau tanya siapa penemu mikroskop?”

Aku berhenti tertawa dan mengingat-ingat sepertinya aku mendapatkan nama penemu mikroskop di bangku MTs.

“Hahahahaha….” diapun tertawa lebar, aku terkejut.

“Mase juga lupa dengan pelajaran biologi saat SMP.”

Aku merasa dia membalas apa yang aku lakukan sebelumnya.

“Aku ingat, penemu mikroskop ya, Galileo Galilei dari Italia.”

Dia berhenti tertawa.

“Tidak sepenuhnya salah tapi juga tidak sepenuhnya benar. Karena menurut sejarah, yang pertama kali memiliki pikiran untuk membuat alat mikroskop adalah Zacharias Janssen. Dia adalah seorang pembuat kacamata. Zacharias Janssen membuat mikroskop pertama kali pada tahun 1590, dibantu Hans Janssen. Mikroskop tersebut mampu melihat perbesaran objek 150 kali dari ukuran asli. Sedangkan Galileo Galilei menyelesaikan mikroskop buatannya pada tahun 1609,” katanya.

“Wah, kamu penggemar ilmu biologi ya. Kemaren juga kertas-kertasmu yang basah ada gambar ilmuan biologi.” Dia tersenyum dan aku kembali terpesona.

“Begitulah manusia, jarang sekali kita menemukan manusia yang sempurna memahami semua ilmu di bumi ini. Yang di pesantren pasti pinter ilmu agama, walau ada juga yang pintar sains, begitupun sebaliknya. Sungguh beruntung bagi mereka yang pinter dua-duanya,” katanya.

“Tapi sebaiknya, minimal kamu harus mengingat mana rukun mana sunnahnya sholat,” kataku dan dia kembali terbahak.

“Tahu gak mas kenapa aku merasa tidak penting menghafalkan mana rukun mana sunnah sholat?” pertanyaannya membuat aku terheran dan menggelengkan kepala.

“Waktu itu mba Sari pulang dan aku main ke rumahnya, saat adzan duhur mba Sari mengajakku untuk sholat berjamaah. Ketika mb Sari wudhu dan dia tidak membasuh telinga, aku pun protes dan menegur mba Sari. Aku bilang kalau wudhunya mba Sari gak sah, karena gak membasuh telinga. Mba Sari tertawa sambil bilang makanya rajin belajar ilmu agama biar tahu mana sunnah mana rukun.”

Aku tersenyum dan mengangguk mendengarkan ceritanya.

“Saat itu aku merasa, jangan jangan kalau aku tahu mana yang sunnah dan mana yang rukun, aku hanya akan memilih melakukan yang rukun saja dan melupakan yang sunnah. Jadi saat itu aku berpikir, dari pada aku akan menyepelekan yang sunnah lebih baik aku tidak perlu tahu mana yang sunnah mana yang rukun, jadi aku bisa tetap melaksanakan semuanya.”

Kesimpulan yang dia buat membuatku kembali tersenyum, aku merasa dia unik dan pikirannya meloncat-loncat sulit ditebak. Aku mulai tertarik dengannya.

“Tapi sekarang aku harus serius mempelajari ilmu agama.”

“Lho, kenapa tiba-tiba punya pikiran begitu?”

“Ya, karena aku merasa bodoh dan berpikiran sempit tentang agama. Hanya sekedar tidak membasuh telinga, tanpa berpikir panjang aku menganggap wudhunya mba Sari gak sah. Bagaimana dengan hal lain, mungkin aku akan menganggap orang muslim yang mengunjungi gereja adalah murtad. Bisa bahaya kan?” katanya.

“Baguslah kalau kamu sudah punya pikiran seperti itu. Kata orang tuaku, semakin luas ilmu agama seseorang, maka akan semakin bijak.” Dia megangguk.

“Boleh tanya?” giliranku yang  mengangguk.

“Kenapa santri – santri itu sering kena penyakit kulit? Banyak teman-temanku yang di pondok trus dia pulang, eh tangan dan kakinya pada gatelen. Emang tempatnya gak bersih ya? Kamu gatelen gak mas? Di pondokmu sana pasti banyak yang kena penyakit kulit kan?”

Aku kembali tersenyum dengan setiap kalimat yang dia ucapkan. Sangat jujur, polos apa adanya dan terkadang benar walau sedikit tidak nyaman didengar.

“Kulitku baik-baik saja, tidak ada yang gatel.”

“Oh… syukurlah,” katanya.

“Lagi pula ada yang bilang, kalau santri belum gatelen berarti belum benar-benar jadi santri. Insyaallah yang kuat melewati penyakit itu akan dapat barokahnya.”

“Ih koq kesimpulannya gitu, seandainya aku jadi santri ya aku tetap ingin ngalap barokah tapi gak mau kena penyakit kulit. Pasti karena lingkungannya yang kurang sehat ya? Supaya para santri tetap betah di pondok, mitos tersebut diedarkan.”

“Ehmm…. entahlah.” Kataku menyerah menanggapi apa yang disampaikannya.

“Mase…” panggilnya lagi.

“Ya,” jawabku.

“Kenapa agama kita tidak pernah atau jarang membahas tentang lingkungan dan kesehatan? Kenapa ritual agama kita hanya berhubungan dengan ritual langit padahal kita khalifah di bumi ini.?” Aku mengerutkan dahi, mencoba mencerna kalimatnya.

“Sebenarnya petanyaan – pertanyaan tersebut sering terngiang di benakku, mungkin karena aku tidak belajar agama dengan baik, jadi aku belum tahu jawabannya. Mase bisa bantu jawab?”

Aku masih mencoba beripikir ke mana arah pertanyaan darinya.

“Maksudmu agama langit?”

“Ya…. yang dibahas masih putaran pahala-dosa dan neraka-surga, tuh tadi aku tanya penyakit kulit jawabanmu juga malah dikaitkan dengan barokah. Trus banyak juga penceramah agama yang itu-itu saja isi dakwahnya. Aku belum pernah mendengar ceramah mereka tentang bagaimana kita mencintai alam ini, misal apa yang harus kita lakukan ketika ada bencana, ketika ada wabah penyakit, ketika lingkungan kotor, cara mengelola sampah dan lain-lain. Tapi ya itu ujung-ujungnya hanya disuruh berdoa, disuruh pasrah sebelum maksimal usaha,” katanya dan aku mulai memahami arah perbincangan ini.

“Tidak seperti itu juga koq, agama juga mengajarkan kemaslahatan untuk alam ini.”

“Tapi aku mendapatkan ilmu untuk menjaga kesehatan dan lingkungan ini bukan dari pelajaran agama, aku mendapatkannya dari pelajaran biologi,” katanya. Dia kemudian terdiam sesaat, aku ingin mengatakan sesuatu tapi dia kembali berbicara.

“Bahkan guru agamaku terlalu memaksakan diri saat menjelaskan bab Haji, beliau belum haji, tapi beliau harus menjelaskan bagaimana syarat dan rukun haji. Ketika ada temanku yang bertanya tentang jarak antara jumrah ada berapa meter, guruku bingung menjawab. Aku juga ikutan tanya berapa jarak antara shofa dan marwa malah aku dimarahi lantaran kata beliau itu gak penting dibahas. Padahal bagiku itu penting, jika memang jaraknya jauh maka calon jamaah haji harus menyiapkan fisik yang cukup kuat untuk bisa melakukan kewajibannya dengan baik.”

“Iya sepertinya memang itu gak penting dijawab, kan setiap jamaah haji sebelum berangkat pasti ada latihannya, ada manisknya,” kataku.

“Kalau begitu, aku juga tidak terlau penting memahami betul tentang haji, tentang syarat rukunnya, jadi kalau dalam ujian nilaiku jelek lantaran aku tidak paham dengan materi haji, aku harusnya bisa tetap lulus tidak usah remidial.”

“Lho, kenapa kesimpulannya jadi seperti itu?”

“Lha ya kan sudah jelas, salah satu syarat haji adalah mampu membayar semua biaya haji. Sedangkan aku dan orang tuaku tidak mungkin memenuhi syarat tersebut. Kami terlahir miskin, pas-pasan, untuk makan hari esok saja kami harus berpikir dan berusaha keras, jadi sangat sulit membayangkan kami bisa menunaikan rukun islam yang terakhir ini.”

“Koq jadi orang pesimis? Siapa tahu kehidupanmu kelak menjadi orang sukses yang akhirnya bisa menunaikan ibadah haji?” kataku.

“Kalau ternyata takdirnya demikian, maka aku akan menunggu takdir itu datang dan akan mempelajari tentang haji saat latihan atau manasiknya saja. Jadi tidak perlu repot-repot mendalami pelajaran tentang Haji untuk saat ini.”

Aku tercengang dan tersadar dengan apa yang diucapkannya. Aku pun tertawa, menertawakan diri sendiri.

Sungguh dia orang pertama yang berani menatap mataku, berani menyela omonganku, berani mempermainkan pikiranku, bahkan berani mengusik hatiku.

Aku menghela nafas, dia tertawa sambil menoleh ke arahku.

“Kenapa mas, koq diem? sudah pesimis ya?”

Aku kembali tertawa terbahak.

“Eh ya, ngomong-ngomong namamu siapa?”

Aku menggeleng-gelengkan kepala, baru kali ini juga ada seseorang yang bertanya kepadaku tentang siapa namaku.

“Ahman Syauqi,” jawabku.

“Mas Syauqi, aku Fatimah Rahmawati panggil saja aku Farah.” Aku kembali tersenyum.

“Baiklah Farah, aku harus segera kembali ke pondok.”

Dia mengangguk dan ikut berdiri.

“Aku juga harus pulang.”

“Rumahmu di mana?”

“Desa Wonokerto,” katanya aku mengangguk meyakini bahwa mba Sari yang dia maksud adalah mba Sari yang tinggal di ndalem.

“Jangan lupa pertanyaanku dijawab ya?”

“lho yang mana?” tanyaku

“Bagaimana agama mengajari kita mencintai alam ini?”

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Kalau begitu, kamu juga harus hafal syarat, rukun dan sunnah sholat, oke!”

Dengan senyuman yang mempesona dia melingkarkan jari telunjuk dan jempolnya, “okey mas Syauqi”

Saat itu juga hatiku berdebar, aku sempat mengelak bahwa aku jatuh cinta, karena aku tidak pernah punya pikiran jatuh cinta diusia yang masih remaja ini.

“Sampai jumpa minggu depan di sini.” Kataku dan dia mengangguk.

Aku pun berlalu dan mengayuh sepeda dengan pelan sambil merasakan debaran yang baru pertama kali aku rasakan.

***

“Gus, njenengan adalah mimpi bagiku, dan sekarang saatnya aku untuk bangun.”

Kalimat terakhir Farah masih terngiang di telingaku. Aku tidak bisa terima dengan keputusannya. Bahkan aku belum mencoba untuk matur abah dan ummi, dia sudah menyerah. Dua hari setelah hari itu, aku tidak pernah melihatnya di ndalem. Pasti dia menghindari berpapasan denganku. Waktuku tidak lama sebelum aku berangkat ke Mesir. Aku harus berusaha membuatnya memahami semuanya dan mau menungguku.

Terkait perjodohan, aaahhhhh…… perjodohan yang sama sekali aku belum menyetujuinya. Ummi memang berusaha keras untuk menjodohkanku dengan putri Kiai Soleh yang saat ini dia juga masih kuliah di Mesir. Harapan ummi, kami saling mengenal dan bisa menikah sebelum aku berangkat. Jadi aku bisa tinggal bersamanya di Mesir.

Pikiran ummi sangat jauh dengan apa yang ada dalam benakku. Aku ke Mesir memang perintah abah yang pernah aku tolak ketika akan melanjutkan s1. Tujuanku murni hanya ingin belajar, aku tidak bisa berpikir ketika aku di sana dan sudah menjadi seorang suami. Apalagi menjadi suami perempuan yang tidak aku cintai.

***

Aku berjalan ke dapur, aku mondar-mandir sambil menengok ke belakang di mana di sanalah kamar mba mba ndalem, tentu kamarnya Farah juga di sana. Aku berharap Farah keluar kamar dan aku akan mengajaknya bicara.

Selama bertahun tahun kami tidak pernah bicara secara langsung di lingkungan pesantren apalagi di ndalem. Semua orang menganggapku masih jomblo, bahkan aku masih sering menerima surat kaleng ataupun salam yang dititipkan ke kang ndalem dari para santriwati.

Hubungan kami seperti udara, sesuatu yang tak tampak namun selalu bisa dirasakan, sesuatu yang tak bisa dipegang, namun selalu dekat membuat hati terasa tenang.

Bertemu hanya bisa bertatap mata sesekali. Kadang dia tersenyum namun aku tidak bisa membalas langsung senyumnya. Hubungan kami terlihat hambar, namun bagi kami masing-masing bisa menjadi penawar.

Kami berinteraksi melalui buku yang ku taruh di dapur pada waktu yang sudah kami sepakati dan sepucuk surat yang sering kuselipkan di saku kemeja putih. Karena tugasnya adalah mencuci semua pakaian keluargaku, termasuk pakaianku. Setelah bersih, diapun menyelipkan surat balasan di saku yang sama.

Kami menikmati diskusi, perdebatan apapun dalam lembaran kertas. Kalau saja kalian di kamarku, kalian pasti melihat ada kardus yang berisi surat-surat tersebut.

Dia seorang pembaca tentang ilmu-ilmu pengetahuan, sains, terutama ilmu biologi. Dia sangat senang jika aku membelikan buku tentang alam, tentang bumi, tentang tumbuhan, tentang ilmuan. Saya pikir seorang mahasiswa sains saja belum tentu memiliki minat baca seperti Farah. Sayang setelah lulus Aliyah dia tidak bisa melanjutkan kuliah karena biaya.

Ya, status kami yang berbeda inilah yang membuatnya mengambil keputusan seperti ini. Dia sama sekali tidak peduli dengan perasaanku. Aku yang sangat mencintainya, dan aku yakin dia juga sangat mencintaiku, namun kenapa mudah baginya mengatakan bahwa aku hanyalah mimpi yang akan menghilang saat dia terbangun.

Aku kembali menengok ke belakang, tepat ketika dia keluar dari kamar dengan membawa pakaian yang sudah bersih dan rapi. Kulihat dia menghentikan langkahnya saat dia tahu aku berdiri di dapur.

Aku tetap diam menunggunya, berharap dia tidak lari dariku. Aku menghela nafas lega, saat dia melanjutkan langkahnya mendekatiku. Dia memasuki pintu dapur dan melewatiku begitu saja. Aku membalikkan tubuh dan segera mengikutinya.

Langkahku terhenti, Farah menunduk dan berjalan menggunakan lututnya menuju kursi besar di ruang tengah, tempat di mana dia biasa menaruh pakaian keluargaku. Di samping kursi besar ada kursi baca yang sering digunakan abah dan sekarang abah sedang duduk di sana. Aku tidak bisa melanjutkan langkah untuk mengikutinya, aku terlalu takut dengan kehadiran abah di sana.

Keberanianku menciut. Aku kembali ke dapur dan menunggunya. Tak lama dia memasuki dapur dan berjalan menuju pintu belakang, segera aku berdiri di tengah pintu.

“Nyuwun sewu gus,” katanya sambil menundukkan kepala. Aku tidak suka dia bersikap seperti orang lain, aku lebih suka dia menatapku seperti biasanya.

“Farah, aku tidak bisa seperti ini. Aku tidak mungkin mudah melupakanmu.”

Kulihat dia mengangkat wajahnya dan menatapku, aku pun tersenyum, ku kira dia mulai menyadari bahwa dia juga tidak bisa melupakanku dan aku yakin dia mau menungguku.

“Gus, aku juga tidak akan mudah melupakanmu, jadi mari kita sama sama berjuang untuk saling melupakan.” Aku kembali kesal mendengar kalimatnya.

“Kamu benar-benar menyiksaku Farah!” kataku.

“Jika memang kamu anggap ini siksaan, maka sepertinya kita akan sama-sama merasa tersiksa. Jadi mari kita nikmati bersama siksaan ini. Aku yakin, tak lama kamu akan berterima kasih padaku karena sudah membuatmu tersiksa. Bagaimanapun aku bukan yang terbaik untukmu.”

Aku memejamkan mata sambil menghela nafas.

“Kenapa kamu mengatakan hal semacam itu. Farah! kamu sudah menyerah? bahkan di saat kita belum memulainya. Beri sedikit waktu untukku, mengumpulkan keberanian yang kian muncul untuk matur pada ummi dan abah.”

“Simpan saja keberanianmu, karena sudah seharusnya kita tidak boleh memulainya. Tolong gus, saya harus kembali ke kamar, masih banyak pekerjaan yang belum saya selesaikan.”

Ingin rasanya aku genggam tangannya dan aku bawa dia ke hadapan abah. Kemudian aku matur “Bah, aku hanya mau menikah dengan perempuan ini.”

“Apa yang sedang kalian lakukan di sini,”

Tiba-tiba ada suara yang membuatku kaget begitupun Farah yang seketika menundukkan wajahnya kembali. (bersambung)

*Muyassarotul H, adalah ibu dari tiga anak. kegiatan sehari-harinya adalah membersamai keluarga di rumah serta anak – anak di TPA dan Madrasah Diniyah Masjid Az Zahrotun Wonocatur Banguntapan Bantul. Bisa dihubungi melalui fb: Muyassaroh Hafidzoh dan Ig: Muyassaroh_h

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here