Wabah di Masa Islam Awal

Penyakit yang disebabkan oleh virus sudah terjadi di masa lampau.Pada masa Rasulullah Saw., telah menyebar wabah yang disebut tha’un. Sikap dan tindakan Rasulullah pada saat wabah sangat mengedepankan perlindungan dan keselamatan jiwa manusia (hifdzu an nafsi). Perlindungan terhadap jiwa manusia ini dilakukan agar terwujud kebaikan atau kemaslahatan untuk seluruh manusia.

Dalam sebuah hadis shahih disebutkan: “Jika kalian mendengar ada wabah tha’un dalamsuatu tempat, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya. Dan jika kalian ada di dalamnya maka janganlah kalian keluar darinya.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Hadis ini jelas menegaskan bahwa ikhtiyar atau upaya agar penyakit atau wabah tidak tersebar adalah dengan cara memutus mata rantai penularannya. Yakni dengan menutup akses keluar dan masuk wilayah terjangkitnya wabah (lockdown: istilah sekarang). Secara aqidah kita meyakini bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah karena kekuasaan Allah, termasuk terjadinya penyakit yang mewabah.Tetapi, kita dilarang hanya berserah dan pasrah begitu saja  dalam menghadapi wabah penyakit. Rasulullah juga meneladankan agar umatnya juga bersikap dan bertindak berdasarka ilmu pengetahuan, termasuk bagaimana menjaga kesehatan. Seperti petikan dalam salah satu hadis: Wa shihhataka qobla saqomika,” “Jagalah sehatmu sebelum datang masa sakitmu.”

Sikap yang tidak peduli terhadap pandemi atau wabah juga bertentangan dengan nilai yang diajarkan oleh Al Quran: Wa laa tulquu biaidikum ilat tahlukah. Jangan jatuhkan diri kalian dalam kerusakan dan kebinasaan. (QS. Al Baqoroh: 195). Ayat ini jelas menempatkan keselamatan dan keamanan  jiwa manusia pada prioritas yang tinggi (hifdzul amni was salam) .

Tidak hanya pada masa Rasulullah Saw., pada masa khulafaur Rasyidin, yakni pada masa Umar bin Khatab juga pernah terjadi wabah. Saat perjalanan menuju Syam, beliau mendengar kabar ada wabah penyakit di Syam. Setelah bermusyawarah dengan sahabat senior, beliau memutuskan membatalkan perjalanan ke Syam. Beliau memilih kembali pulang ke Madinah. Saat ditanya seorang sahabat, apakah pulang ini berarti lari dari taqdir Allah. Mungkin sahabat ini ingin tetap melanjutkan perjalanan sembari tawakal (berserah) kepada Allah. Khalifah Umar bin Khatab menjawab: Kita lari dari taqdir Allah, menuju taqdir Allah yang lain, yang juga ketetapan Allah. Lalu, khalifah Umar memberikan analogi. Jika kalian sedang beternak unta, lalu mendapati di sana ada hamparan tanah yang subur penuh rerumputan dan di tempat lain ada hamparan tanah kering kerontang. Bukankah kalian kan memilih membawa unta kalian ke tanah yang subur.

Cara Menyikapi Wabah Menurut Madzhab Syafi’i

                Terkait dengan ilmu dan pengetahuan, termasuk untuk mematuhi peraturan yang telah di tetapkan pemerintah terkait wabah, Imam Syafi’i meminta kepada umat Islam untuk mematuhinya dengan anjurannya yang berbunyi: “Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada di sana ulama yang bisa memberikan fatwa dalam masalah agama, dan tidak ada dokter yang memberitahukan tentang kesehatan badanmu.” (Adabus Syafi’i dan manaqibuhu, hlm. 244)

Pengikut Madzhab Syafii, sebagian besar menyepakati bahwa sholat berjamaah pun bisa dilakukan dengan social distancing (menjaga jarak)  jika ada udzur (halangan).Bahkan jika seseorang merasa dirinya bisa membawa kemadlaratan atau bahaya untuk orang lain, maka sebaiknya dia menghindari untuk shalat secara berjamaah di tempat ibadah. Dar’ul mafasidi muqaddamun ‘ala jalbil mashaalihi. Seperti yang disebutkan oleh Ibnu Hajar al Haitami dalam Kitab Tuhfatul Muhtaj: “Ya, sekiranya mereka tertinggal (terpisah) dari shaf karena uzur seperti saat cuaca panas di masjidil haram, maka tidak (dianggap) makruh dan lalai sebagaimana zahir.” (Kitab Tuhfatul Muhtaj, hlm. 296).

Jadi, menurut Imam Ibnu Hajar Al Haitami sekiranya ada uzur saat cuaca panas, maka hal tersebut tidak menyebabkan kemakruhan apalagi dalam rangka mencegah penularan wabah penyakit covid 19 yang lebih jelas dikhawatirkan bahayanya.

 

Stay at Home  Saat Pandemi adalah Jihad

Dari Aisyah Ra. berkata: Saya pernah bertanya kepada Rasulullah Saw tentang  tho’un (wabah penyakit), lalu Rasulullah Saw. memberitahukan kepadaku wabah itu adalah siksa yang dikirim Allah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Dia menjadikannya sebagai  rahmat bagi orang-orang yang beriman. Siapa yang menghadapi wabah lalu dia bersabar dengan tinggal di dalam rumahnya seraya bersabar dan ikhlas sedangkan dia mengetahui tidak akan menimpanya kecuali apa yang ditetapkan Allah kepadanya, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mati syahid. (HR. Bukhori)

Hadis ini menegaskan bahwa semua penyakit atau wabah terjadi karena Kuasa Allah Swt. Tindakan yang tepat adalah bersabar atas wabah dan melakukan upaya pencegahan penularannya dengan tetap berdiam diri di rumah. Pahalanya sebesar pahala orang yang berjihad di jalan Allah dan mati syahid.

Dalam menghadapi pandemi ini, seyogianya selain kewajiban kita untuk semakin menebalkan rasa keimanan  kepada Allah, tentu juga harus mendasarkan tindakan pada ilmu pengetahuan. Kita meyakini bahwa  pemerintah mengupayakan  pencegahan dan pemutusan mata rantai penularan covid 19 sudah mendasarkan pada kaidah agama dan ilmu pengetahuan, sehingga kita wajib menaatinya karena ketaatan kepada pemerintah juga dianjurkan dalam Islam. Social distancing dan stay at home adalah bagian dari protokoler kesehatan yang harus ditaati untuk mencapai kemaslahatan yang lebih besar.

 

Islam Bukan Hanya Syariat Tapi Juga Hakikat

Dari beberapa hadis dan tuntunan Rasulullah terkait dengan masa pandemi  memberikan penegasan kepada umatnya bahwa Islam itu tidak semata-mata agama yang menekankan ritual simbolik secara syariah semata, tetapi Islam juga menekankan ruh atau hakikat beragama yakni mengutamakan keselamatan dan kemaslahatan manusia serta alam semesta.Hal ini ditunjukkan bahwa amaliyah ibadah yang bersifat ritual, seperti shalat jamaah di masjid dan amaliyah lainnya bisa digantikan dengan shalat dan ibadah secara mandiri di rumah jika dalam keadaan darurat yang membahayakan atau terancamnya jiwa manusia. Jadi, Islam itu memudahkan dan tidak mempersulit umatnya dalam menjalankan ibadah di masa yang sulit.

Akan tetapi,  dalam masa pandemi ini, ada saja oknum atau sekelompok masyarakat bahkan secara sadar bersikap fatalisme. Tindakannya lebih didorong  pada kepasrahan pada taqdir dan hawa nafsu untuk menunjukkan ego dalam beragama tanpa memikirkan keselamatan diri dan orang lain.

Kelompok ini seolah ingin menunjukkan sebagai hamba yang  taat dalam segala situasi dan kondisi, meski  tanpa memedulikan bahaya yang mengancam. Kemudian yang  menaati aturan pemerintah untuk tetap diam di rumah dianggap oleh mereka sebagai yang  tipis iman atau tidak taat. Padahal, dalam kaidah ushuliyah diterangkan bahwa menolak kerusakan itu lebih didahulukan dalripada mencari kebaikan (Dar’ul mafasidi muqaddamun ‘ala jalbil mashaalihi). Artinya, mencegah penularan covid 19 lebih didahulukan daripada mencari pahala shalat jamaah di masjid misalnya.

Secara syariah, orang yang menjalankan ibadah di rumah tetap taat taat kepada Allah karena tidak meninggalkan kewajibannya. Secara hakikat sesungguhnya iman dan ketaatannya tidak tipis apalagi hilang karena berdiam dirinya di rumah juga dalam rangka mengikuti petunjuk Rasulullah ketika masa pandemi dan mengikuti anjuran pemerintah adalah juga perintah Allah Swt. Beragama itu tidak selalu bermakna simbolik semata tetapi juga esensi atau subtansi dari agama itu yang perlu menjadi pemahaman dalam kesadaran kita.

 

Altruisme Agama di Masa Pandemi

                Islam adalah agama kasih sayang yang mengutamakan kepentingan manusia secara keseluruhan. Khoirunnaas anfa’uhum linnaas. Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang  lain. Nilai ini mengajarkan bahwa kepedulian dan kesalihan sosial kitalah yang menempatkan derajat tertinggi sebagai manusia.

Untuk itu, dalam ajaran Islam, setiap berbicara soal keimanan selalu dihubungkan dengan amal kebaikan. Iman dan kesalihan pribadi saja tidak cukup menunjukkan ketaaatan kepada Allah Swt, akan tetapi seyogianya juga diiringi dengan perbuatan baik yang bermanfaat untuk kemaslahatan manusia.

Pada masa pandemi ini, kepedulian kepada sesama yang didorong olah rasa kasih sayang hendaknya didorong dan dicontohkan oleh tokoh agama. Di antara hal-hal positif yang bisa dilakukan adalah:

  1. Penguatan spiritualitas
  2. Penguatan mental
  3. Gerakan filantropi
  4. Kampanye dukungan untuk protokoler kesehatan
  5. Keteladanan dalam kedisiplinan
  6. Kreatifitas dalam new normal
  7. Sinergi lintas komunitas

Peran Perempuan dalam Pandemi Covid 19

                Peran perempuan sangat penting untuk solidaritas kemanusiaan di masa pandemi ini. Perempuan juga memiliki kekuatan dan kemandirian pribadi yang bisa menopang ketahanan keluarga dan masyarakatnya di masa sulit sekalipun. Selain itu, solidaritas perempuan yang terbangun bisa memberikan support kepada sesama perempuan yang mengalami diskriminasi, termasuk juga kepedulian perempuan pada kepentingan dan kebutuhan khusus perempuan dan anak. Untuk itu, peran perempuan ini bisa menjadi kekuatan tersendiri bila dikonsolidasikan untuk kepentingan kemanusiaan dan kemaslahatan yang lebih besar.

Author : Khotimatul Khusna Pimpinan PW Fatayat NU DIY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here