Connect with us

Ada Kesalahan Kita di Balik Kasus Vanessa Angel

Opini

Ada Kesalahan Kita di Balik Kasus Vanessa Angel

Ada Kesalahan Kita di Balik Kasus Vanessa Angel

Oleh Anas Rolli Muchlisin*

Hingga hari ini, kasus yang menimpa Vanessa Angel (VA) di Surabaya masih menjadi perbincangan hangat di tengah publik. Bahkan seakan menjadi isu nasional yang telah menenggelamkan berbagai isu lainnya, termasuk kasus Bripka Dewi yang sempat mencoreng institusi kepolisian. Banyak orang berbondong-bondong mengeluarkan cibiran, hujatan, dan sumpah serapah atas kelakuan ‘hina’ VA yang terkadang sangat berlebihan dan lebay.

Apakah kasus ini murni kesalahan VA sendiri? Atau sebenarnya ada kesalahan kita yang tidak kita sadari yang membuat orang-orang seperti VA mengambil jalan pintas tersebut?

Saya berasumsi bahwa tidak ada orang di muka bumi yang rela menjual tubuhnya tanpa adanya ‘tekanan’. Salah satu dari sekian faktor yang mendorong seseorang rela menjual tubuhnya adalah karena tekanan/himpitan ekonomi. Lutfi Irwansyah, peneliti Universitas Airlangga, dalam penelitiannya mengemukakan kaitan yang sangat erat antara prostitusi dan kemiskinan. Kemiskinan memang menjadi salah satu hantu penyebab terjadinya berbagai problematika di masyarakat, seperti prostitusi, pencurian, pembunuhan, bahkan aksi terorisme. Hal ini menjadi tanggung jawab semua elemen masyarakat untuk keluar dari garis kemiskinan.

Lalu bagaimana dengan kasus VA? Dia kan kaya, berarti bukan karena faktor kemiskinan dong. Memang betul. Kemiskinan hanyalah satu dari sekian banyak bentuk ‘tekanan’ di masyarakat.

Mari kita runtutkan pertanyaan. Mengapa VA melakukannya? Karena membutuhkan uang yang banyak. Mengapa ia butuh uang yang banyak? Untuk membeli baju dan make up. Mengapa ia perlu membeli baju dan make up? Karena ia artis yang harus selalu tampil memukau di mata masyarakat.

Tepat sekali, masyarakat kita terlalu membebani kehidupan seorang artis. Kalau ia sering memakai busana yang sama atau tidak mengikuti trend terbaru atau tidak menggunakan make up yang super mahal itu, ia akan dianggap miskin, tidak berkelas, atau sematan negatif lainnya. Terlebih dengan adanya program gosipin artis di televisi, kehidupan para artis semakin tertekan dan harus selalu tampil ‘sesempurna’ mungkin. VA adalah korban dari masyarakat seperti ini yang akhirnya mengambil jalan pintas untuk bisa mengikuti selera masyarakat. VA memang salah, tetapi kita juga salah.

Kalau kita memperhatikan beberapa peristiwa lain, ternyata masyarakat kita sudah memberikan ‘tekanan’ secara berlebihan pada banyak hal. Tidak hanya pada dunia artis, tetapi juga pada kelompok lainnya. Akan tetapi memang harus diakui bahwa dunia pertelevisian sangat banyak berperan dalam penekanan ini.

Contoh lain adalah program kajian agama di beberapa stasiun televisi. Seorang ustadz seleb tentu harus bisa menjawab semua pertanyaan audiens. Kalau tidak, reputasi dan citra si ustadz dan channel televisi tersebut akan menurun. Karena itu, si ustadz seleb harus bisa menjawab meskipun sebenarnya ia tidak mengetahui jawabannya secara pasti.

Contoh penekanan seperti ini ternyata juga sudah merambat ke dunia pendidikan kita. Suatu sekolah yang masyarakat anggap sebagai sekolah unggul akan mempertahankan citranya mati-matian, terkadang dengan mengambil jalan pintas. Misalnya sebagian murid malas mendapatkan nilai buruk, tetapi karena nilai buruk dapat mencoreng martabat sekolah akhirnya nilainya diperbagus sedemikian rupa. Begitu keluh kesah teman saya yang mengajar di suatu sekolah.

Dalam kajian sosial kita mengenal bahwa ‘individu membentuk masyarakat dan masyarakat membentuk individu’. Begitulah siklus kehidupan di mana masyarakat dan individu saling membentuk satu sama lain. Ketika ada yang salah di masyarakat, itu pertanda bahwa ada yang salah pada individu-individu. Begitu pula, ketika ada yang salah dalam diri seorang individu, itu tanda ada sesuatu yang tidak beres dalam masyarakat.

Tetapi, mengandaikan masyarakat tanpa tekanan juga merupakan hal yang sangat utopis, alias mustahil. Karena itu, ada dua hal yang bisa kita lakukan. Pertama, masyarakat jangan membebani seseorang secara berlebihan di luar batas kemampuannya. Artis jangan dibebani untuk selalu tampil sempurna, ustadz jangan dibebani untuk bisa menjawab semua pertanyaan, sekolah jangan dibebani agar terus unggul tanpa kekurangan sedikit pun. Letakkanlah beban sesuai kemampuan mereka karena Tuhan pun hanya membebani hamba-Nya sesuai kemampuan si hamba. Jangan melebihi Tuhan dalam memberi beban.

Kedua, sebagai individu, hidup di mana pun pasti ada beban dan tekanan masyarakat. Dan harus diingat bahwa kita hidup tidak bisa untuk menyenangkan dan memuaskan semua orang. Imam Syafi’i pernah menasihati, “engkau tidak akan mampu menyenangkan semua orang. Karena itu, cukup bagimu memperbaiki hubunganmu dengan Allah dan jangan terlalu peduli dengan penilaian manusia.

 

 *Annas Rolli Muchlisin, alumni prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga. Musyrif Ponpes al-Hakim (asrama MANPK Yogyakarta). Pernah menjuarai Duta Santri.

 

**sumber gambar ilustrasi dari google image

1 Comment

1 Comment

  1. rini dh

    January 11, 2019 at 7:13 am

    yes….setuju..jangankan.artis.ibu rumah tangga yang punya geng sosialits saja akhirnya demi gengsi perbanyak.hutang jadi solusi….kembali ke MENTAL.PRIBADI DAN DIMANA ORANG ITU BERGAUL….he he mari kita ciptakan sosialita kita yg sehat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Opini

To Top